PADANG-(Tribunolahraga)
HARAPAN Semen Padang untuk terus berkiprah di Turnamen Piala Presiden kandas sudah. Kekalahan 1-2 atas Bali United, mustahil bagi Irsyad Maulana dan kawan-kawan untuk lolos ke putaran selanjutnya. Hasil ini berbanding terbalik dengan pencapaian pada turnamen yang sama 2017 silam.

Memang, target tim Kabau Sirah sebenarnya adalah di Kompetisi Liga 1. Tetapi rekam jejak yang lumayan bagus di turnamen tahunan ini, membuat manajemen dan palatih punya asa untuk kembali mengulangi sejarah tersebut. Musim 2017 lalu, tim dari Bukit Indarung itu lolos sampai ke semifinal.Hasil gambar untuk foto Syafrianto Rusli
Kini, langkah Kabau Sirah mesti terhenti di babak penyisihan grup, meski masih menyisakan satu pertandingan lagi melawan Mitra Kukar. Hasil maksimal yang bisa diraih dengan tiga poin, dengan catatat bisa memenangkan laga melawan tim dari Kutai Kartanegara itu pada Kamis depan.
Sebelumnya Semen kalah 0-2 atas Bhayangkara FC dalam pertandingan pembuka Grup B. Setelah pelatih Syafrianto bertekad untuk mengemas dua laga sisa dengan poin penuh. Tapi sayang harapan itu digagalkan pasukan Tridatu, Bali United dengan 1-2.
Kekalahan kedua ini memantik munculnya reaksi ketidakpuasan dari pata pendukung Semen Padang yang tergabung dalam kelompok suporter Spartacks. Begitu usai kalah atas Irfan Bachdim dan kawan-kawan, mereka langsung berorasi di depan pintu ruang konfrensi pers.
Intinya mereka menyampaikan ketidakpuasan atas kekalahan kedua. Apalagi gol lawan tercipta hanya dalam tempo tujuh menit.  Orasi tanpa rencana itu sempat mengganggu jalannya konfersi pres, di mana di dalam ruangan ada pelatih Syafrianto Rusli dan kiper Rendy Oscario.
Mereka meniriaki agar pelatih Syafrianto Rusli diganti.
Menanggapi hal ini, Syafrianto mengatakan kalau apa yang mereka suarakan adalah bentuk kecintaan suporter kepada tim Semen Padang.
“Biasalah. Saya memakluminya. Karena hasil yang kami capai kurang memuaskan mereka. Kekalahan dua kali membuat mereka tidak puas. Maunya mereka kita menang. Sama dengan keinginan kami. Karena kami juga ingin menang,” jawan Syafrianto Rusli.
Kejadian seperti ini merupakan pertama kali sepanjang sejarah Semen Padang FC. Ketidak puasan  suporter langsung disuarakan begitu usai pertandingan. Itupun bukan di kandang sendiri, stadion Agus Salim. Melainkan di luar kandang.
Sementara itu, di Padang sendiri juga muncul berbagai reaksi atas kekalahan kedua di Piala Presiden 2019.
Sama dengan kekalahan pertama melawan Bhayangkara, suara-suara sumbang langsung bertebar di berbagai medua sosial. Intinya mengatakan ketidakpuasan.
Tetapi tak melulu menyalahkan Syafrianto. Tetapi mereka juga mengkritik penampikan sejumlah pemain, baik  pemain lokal maupun pemain asing.
Dengan berbagai dialek dan bahasa yang beragam, intinya mereka kecewa dengan penampilan Semen Padang pada dua pertandingan ini.Hal hampir senada juga muncul dari kalangan wartawan olahraga di Sumatera Barat. Intinya sama. Kecewa dengan penampilan sejumlah pemain, sambil menyebutkan kekurangan dan kelemahan si pemain.
Sayangnya, manajemen Semen Padang yang dikonfirmasi, tak bisa dihubungi. Telepon CEO Semen Padang, Rinol Thamrin, tak menjawab ketika dihubungi.Akankah nasib Syafrianto akan sama dengan Jafri Sastra yang dipecat atas dasar pertandingan uji coba?
Patut untuk kita tunggu. (Yosrizal/TOR-10)

TINGGALKAN KOMENTAR