Oleh: Ausgust Ferry Raturandang

Tugas utama induk organisasi tenis selain meningkatkan kualitas pemain juga tercantum peningkatan kualitas ofisial turnamen.Kelihatannya dari tahun ketahun fokus yang utama adalah program kualitas pemain belaka

Sedangkan turnamen tenis baik tingkat daerah maupun nasional bahkan internasional ada peningkatan. Semua kegiatan butuh tenaga wasit atau referee bahkan ofisial pertandingan lainnya. Akibatnys tenaga tenaga tersebut didatangkan dari luar daerah bahkan luar negeri. Betapa borosnya tuan rumah dari sisi ofisial pertandingan ini.Padahal dana yang boros justru dapat digunakan untuk dana pembinaan.

Turnamen adalah bagian dari pembinaan atlet dalam teori. Turnamen sebagai ajang evaluasi hasil pembinaan atlet. Ibaratnya sebagai show room keberhasilan pembinaan baik bagi pelatih, club maupun daerah sekalipun.

Pengalaman gelar turnamen skala nasional di 22 provinsi, bisa terjawab sudah kualitas wasit yang tersedia. Tidak ada keseragaman kualitas para ofisial pertandingan.
Sedangkan turnamen atau pertandingan pertandingan didaerah semakin marak walaupun jenis veteran yang lebih banyak faktor fun belaka.

Masing masing berdasarkan pengalaman bertugas yang sangat rentan akan kesalahan kesalahan atas pengertian akan Rules of Tennis atau Tournamen Regulations. Apalagi minimnya pengetahuan atas Code of conduct. Karena Tournament Regulation di Tenis
berbeda satu sama lainnya jikalau kelompok yunior dan senior apalagi veteran.

Pekan Olahraga Nasional akan memasuki ke XX kalinya tahun 2020. Kali ini sudah merupakan Fiesta Olahraga yang juga merupakan ajang reuni bagi atlet tenis se Indonesia. Sudah kembali kepada tujuan awal PON pemersatu bangsa yang lagi sakit.

Fiesta Olahraga bagi atlet bisa dikatakan demikian karena ajang mengumpulkan dana bagi atlet untuk menunjang program try out keluar negeri bagi petenis elite Indonesia khususnya petenis putri. Ini segi positive yang bisa dirasakan bagi atlet atlet tertentu yang bisa memanfaatkannya.

Dampak negative terlihat adanya demotivasi atlet atlet daerah yang pembinanya lebih menghargai menggunakan atlet binaan daerah lain demi prestise belaka
Ini telah berlangsung sejak beberapa kali PON belakangan ini.

Saat ini peningkatan kualitas ofisial pertandingan yang terlupakan maka tuan rumah PON akan menanggung beban. Berapa dana yang terkuras untuk mendatangkan ofisial pertandingan oleh tuan rumah PON XX Papua. Tidak sedikit tenaga ofisial pertandingan didatangkan dari luar Papua.

Ketika pertemuan penyelenggara turnamen dikumpulkan di sekretariat Pelti (1/11), terungkap kalau kualitas tenaga wasit asal Papua tidak memenuhi syarat, itu sudah lampu hijau mendatangkan tenaga ofisial pertandingan dari luar Papua. Apa tidak dipikirkan jangan sampai tenaga lokal hanya sebagai penonton. Sedih kalau sebagai penonton dalam fiesta dirumah sendiri.

Prinsip yang keliru dilakukan bidang pertandingan PP Pelti bahwa tidak akan lakukan penataran wasit kalau daerah tersebut tidak ada turnamen. Katanya seperti yang dilakukan okeh ITF. Prinsip ini keliru kalau diterapkan. Justru pengetahuan peraturan peraturan tenis perlu juga disosialisasikan kedaerah.

Selertinya mengabaikan daerah Papua sebagai tuan rumah PON 2020. Cukup waktu 2017-2020 bagi Pelti jalankan salah satu tugas pokoknya. Pengalaman selenggarakan turnamen sejak 2014-2016 Jayapura telah memiliki wasit. Jumlahnya cukup memadai dan bisa ditingkatkan kualitasnya . Turnamen saat itu setahun 2 kali.

Selain tugas induk organisasi baik ditingkat daerah maupun pusat sulit dijalankan jikalau keinginan petinggi Pelti tidak menjalankan tugas tersebut. Kenyataannya mau instan. Lupa akan pengembangan tenis itu sendiri didaerah tersebut yang juga tugas dari Pelti. Atlet dibeli kemudian ofisial pertandingan import. Seperti menangani perusahaan yaitu outsourcing saja.

Tenis sudah boleh dikatakan merata di Indonesia. Berarti pertandingan pertandingan tenis akan terjadi pula dengan label lokal dengan harapan label nasional seperti itu juga merupakan program nasional.
Jangan sampai Fiesta ini menjadi tontonan saja bagi para wasit tuan rumah. Sebagai tuan rumah selayaknya turut peran aktif dalam Fiesta ini.

Setiap PON kecuali di Jawa, tuan rumah hari keluar dana besar untuk datangkan tenaga ofisial pertandingan yang tidak dimilikinya.

Sudah saatnya mind-setnya dirubah agar potensi SDM ofisial pertandingan didaerah daerah ditingkatkan.
Sudah harus dimulai dari sekarang untuk menghadapi PON XXI Aceh – Sumatera Utara.tahun 2024. Ada waktu 5 tahun kedepan sebagai persiapan.

Caranya, galakkan turnamen nasional didaerah tuan rumah PON , dengan kerjasama dengan Dispora. Pelti kota atau kabupaten adakan turnamen tenis Piala Walikota atau piala Bupati sedangkan Pelti provinsi adakan piala Gubernur. Andaikan bisa menggerakan 5 Pelti kota/kabupaten dan Pelti provinsi maka dalam setahun memiliki 6 kejuaraan nasional. Dalam 5 tahun ada 30 kejuaraan nasional.

Didahului dengan penataran wasit kemudian sebagai ujian atau uji coba para wasit dalam turnamen tersebut.Kendala wasit adalah mayoritas adalah Aparat Sipil Negara. Karena turnamen tenis butuh waktu 3-7 hari pelaksanaan . Pemilihan tenaga wasit diawali dengan tenaga dari universitas, sebagai solusinya disamping juga ada yang bebas dari ikatan.

Dan butuh NIAT yang tulus dan merupakan tugas dan tanggung jawab Pelti.Tidak mudah jika sudah diberi tanggung jawab di induk organisasi tenis.Hanya ini yang bisa dikemukakan, DO YOUR BEST ! (Penulis adalah pembina, penggerak dan pemerhati tenis)

TINGGALKAN KOMENTAR