DR.Raden Isnanta didampingi Maria Lawalata, Een Ermawati, Teguh Raharjo dan Lelyana Chandra Wijaya saat memberikan sambutan pada acara lomba lari 5K Piala Kemenpora 2019 sekaligus penyerahan medali emas bersejarah Maria Lawalata, Minggu, (10/11). (Foto/OLII)

Pada hari Minggu (10/11) kemarin, seluruh rakyat Indonesia mengenang peristiwa bersejarah yakni ”Hari Pahlawan”. Di cabang olahraga pun sudah banyak pahlawan lahir dengan perjuangan dan prestasi besarnya. Salah satunya adalah Maria Lawalata, atlet marahon putri Indonesia yang menjadi pahlawan kemenangan atau keberhasilan kontingen Merah Putih mempertahankan gelar juara umum SEA Games 1991, Manila, Filipina.Gambar mungkin berisi: 26 orang, termasuk Anton Sanjoyo, orang berdiri dan luar ruangan

1.700 peserta bersiap-siap di garis finis jelang lomba lari 5K Piala Kemenpora 2019 di depan kantor Kemenpora Graha Pemuda Senayan Jakarta, (Foto/OLII)

Pada SEA Games ke-16 itu Maria merebut medali emas penentu kontingen Indonesia mempertahankan gelar juara umum SEA Games 1991, Manila, Filipina. Bekerjasama dengan Kemenpora dan promotor ANELI, Maria Lawalata melalui bendera Yayasan Big Stars Nusantara menggelar lomba lari 5K Piala Kemenpora.

Tercatat 1700 peserta ambil bagian dalam lomba yang mengambil start dan finis di depan kantor Kemenpora, Gerbang Pemuda Senayan Jakarta. Selain menyediakan total hadiah uang pembinaan Rp.100 juta, para peserta juga mendapatkan medali dan piagam penghargaan.

Usai lomba, Maria Lawalata yang sekaligus bertindak sebagai Ketua Panpel, menyerahkan medali emas bersejarah serta perlengkapan lari marathon  pada SEA Games 1991, Manila Filipina.Gambar mungkin berisi: 16 orang, termasuk Sonny Kasiran, orang tersenyum, orang berdiri, keramaian dan luar ruangan

DR.Raden Isnanta saat melepas peserta lomba lari 5K Piala Kemenpora (Foto/OLII)

Medali emas bersejarah itu diserahkan langsung oleh Maria Lawalata kepada Kepala Museum Olahraga Indonesia, Een Ermawati disaksikan Deputi III Pembudayaan Olahraga Kemenpora DR.Raden Isnanta, Wakil Ketua Umum Formi Nasional Teguh Raharjo dan pelatih pertama yang menemukan bakat Maria Lawalata, Lelyana Chandra Wijaya.

Inti dari semuanya ini menurut yang punya hajat, Maria Lawalata, untuk memberikan semangat perjuangan dan kepahlawanan kepada generasi muda bangsa khususnya para atlet Indonesia yang pada 30 Nopember hingga 11 Desember 2019 akan berlaga di SEA Games ke-30 di Filipina.

”Ya mudah-mudahan ini menjadi pelecut semangat para atlet Indonesia yang akan tampil di SEA Games 2019, Filipina. Latihan keras, disiplin dan tak mengenal kata menyerah ada salah satu kunci sukses seorang atlet. Saya telah membuktikan itu semua, berkat latihan keras, semangat tak kenal lelah membuat saya berhasil merebut medali emas penentu kontingen Indonesia menjadi juara umum SEA Games 28 tahun silam itu,”kata Maria yang kini bersama sang suami tercinta Sunyoto melatih komunitas lari dan beberapa atlet muda usia di Lapangan Banteng Jakarta Pusat ini.Gambar mungkin berisi: 5 orang, orang berdiri, sepatu, pohon dan luar ruangan

Lelyana Chandra Wijaya menyerahkan Piala, penghargaan kepada para pemenang lomba lari 5K Piala Kemenpora kategori umum usia 40 tahun ke bawah (Foto/OLII)

=Sekilas Tentang Maria Lawalata=

Saya mengikuti SEA Games sejak tahun 1983 Singapura kemudian berlanjut  1985 di Bangkok, Thailand, 1987 Jakarta, 1989 Kuala Lumpur, Malaysia.  Pada SEA Games 1985  dan 1987 Maria hanya merebut medali perunggu.

Pada dua SEA Games itu, Maria berada di belakang pelari Myanmar, Welk Pan dan  senior Tan Siu Chen Indonesia . Dua tahun kemudian di SEA Games 1989 Kuala Lumpur, dia merebut medali perak kalah dari  rekannya Suryati.

Baru pada SEA Games 1991 Manila, Filipina itulah Maria  benar-benar menikmati manisnya prestasi. Di SEA  Games ke-16 itu Maria membuat sejarah dengan merebut medali emas penentu kontingen Indonesia mempertahankan gelar juara umum, hanya selisih satu medali emas dengan tuan rumah Filipina.

Berbekal pengalaman dua medali perunggu dan perak, Maria justru mendapatkan medali emas pada saat kritis. Medali emas Maria di detik-detik terakhir itu menjadi drama yang sangat menegangkan bagi kubu Indonesia dan tuan rumah Filipina yang sejak awal berambisi besar menjadi juara umum SEA Games.

Karena menjelang penutupan, Filipina dan Indonesia sama-sama mengantongi 91 medali emas. Penentuan juara umum bukan ditentukan dengan menghitung seluruh medali melainkan jumlah medali emas terbanyak.

Pada hari itu Kamis, 5 Desember 1991 petang nomor lari marathon putri merupakan yang terakhir dilombakan. Semua kotingen peserta SEA Games sudah memenuhi stadion utama Rizal Memorial Manila termasuk Presiden Filipina, Qorazon Aquino.  Bukan hanya penonton di dalam stadion yang dibuat berdebar, masyarakat di tanah air (Indonesia) juga diliputi ketegangan karena lomba tersebut disiarkan secara langsung oleh TVRI.

Pada layar raksasa yang terpasang di dalam stadion Rizal Memorial pun menunjukkan posisi pelari sudah melintasi jalan raya Metro Manila. Ketegangan mulai memuncak manakala para pelari sudah mendekati stadion, semua mata tertuju ke pintu masuk , suara gemuruh pun membahana melalui pengeras suara. Maria Lawalata dari Indonesia masuk finis pertama .

Stadion Rizal Memorial gemuruh namun kubu tuan rumah Bungkam karena dua jagoan mereka, Minstine dan Selvita hanya finis keempat dan kelima.  Maria Lawalata, perempua berdarah Maluku itu menjadi pahlawan kemenangan Indonesia dengan catatan waktu 2 jam, 51, 09 detik.

Pada acara lomba lari 5K Piala Kemenpora 2019 ini panpel menggelar doorprze berupa sebuah sepeda moto merek Honda Genio. Peserta yang beruntung mendapatkan undia berhadiah ini adalah dari Banteng Runners (Foto/OLII)

‘’Saya merasa bangga luar biasa karena medali emas nomor lari marathon putri menjadi penentu kontingen Merah Putih mempertahankan gelar juara umum  di pesta olahraga dua tahunan antarbangsa se-Asia Tenggara itu,’’kata pemilik tinggi badan 1,52 cm ini.

Sebelum lomba lari marathon putri digelar pada petang hari  beberapa jam sebelum penutupan, posisi perolehan medali emas antara Indonesia dan tuan rumah Filipina sama yakni 91.  Lomba lari marathon menjadi nomor terakhir yang dilombakan di SEA Games 1991 itu dan Indonesia menempatkan dua pelari, saya dan Suryati.

Dan jujur saja, saya tak diunggulkan dan oleh oficial kontingen pun posisi saya hanya melapis Suryati juara bertahan yang memang diproyeksikan merebut medali emas.  Dua jam sebelum lomba, ada breefing dari tim pelatih dan ofisial kontingen yang intinya mengatur strategi. Karena saya hanya sebagai pelapis, saya diinstruksikan mengawasi dan menganggu konsentrasi pelari dari negara lain terutama Myanmar dan tuan rumah.

Pak IGK Manila yang waktu itu menjadi Wakil II Komandan Kontingen Indonesia menggunakan sandi ‘’Kijang 1’’ untuk Suryati dan ‘’Kijang II’’ untuk saya. Pak Manila menggunakan mobil khusus untuk mengikuti rombongan pelari saat lomba berlangsung.

Ketika lomba memasuki  kilometer 11, ‘’Kijang 1’’ Suryati terpaksa keluar lomba karena mengalami kram perut. Akhirnya saya  menjadi tumpuan sehingga membuat kubu Indonesia tegang. Pada situasi seperti itu, saya tetap fokus dan menjaga jarak dengan dua pelari tuan rumah yang berada di depan saya.

 Memasuki kilometer 30 saya mencoba menaikkan kecepatan sampai posisi saya  sejajar dengan dua pelari tuan rumah. Namun mobil pengawal lomba sempat menggangggu konsentrasi saya dengan tujuan memuluskan upaya dua pelari tuan rumah.Gambar mungkin berisi: 5 orang, orang tersenyum, orang berdiri, sepatu, anak dan luar ruangan

Maria Lawalata berfose bersama pemenang lomba yel-yel SEA Games 2019 Filipina (Foto/OLII)

Beruntung saya tidak terpengaruh dan di tengah lomba saya berdoa kepada Tuhan agar dimudahkan. Dua kilometer jelang finis saya seperti mendapatkan kekuatan baru, dua pelari andalan tuan rumah sudah saya lewati dengan jarak sekitar 10 meter. Namun pelari Myanmar mecoba mengejar dan sempat menempel.

Mungkin karena ‘’kehabisan bensin’’ pelari Myanmar ini mulai kedodoran saat memasuki garis finis. Para penonton pun riuh menyambut saya sebagai finisher pertama dengan catatan waktu 2 jam, 51,09 detik. Komandan Kontingen Pak Suweno, Ketua Umum KONI Pusat Pak Surono larut dalam kegembiraan. Para wartawan peliput SEA Games terutama dari Indonesia pun sibuk mengabadikan peristiwa  yang super menegangkan itu.

Bagi saya medali emas SEA Games 1991 itu bukan hanya menjadi kebanggaan pribadi tapi juga keluarga terlebih lagi orang yang paling berjasa dalam karir saya di atletik yakni dokter gigi Endang Witarsa dan Kak Lelyana Chandra Wijaya.Gambar mungkin berisi: 2 orang, orang tersenyum, orang berdiri dan luar ruangan

Lelyana Chandra mendapat souvenir kenang-kenangan dari K-LINK Indonesia sebagai salah satu sponsor lomba lari 5K Piala Kemenpora 2019 (Foto/OLII)

Kedua orang inilah yang menjadikan saya  hebat dan mampu memberikan  kebanggaan untuk bangsa dan negara. Saya tak pernah melupakan jasa keduanya, waktu Pak Endang Witarsa saat meninggal pun saya berada di sisi beliau.

Sementara dengan Kak Lelyana Chandra hubungan saya sudah seperti orang tua. Sampai sekarang pun hubungan saya dengan Bu Lelyana masih intens. Saya lebih banyak menyambangi rumahnya di kawasan Cibubur.

Pada acara penyerahan medali emas bersejarah Maria Lawalata ke Museum Olahraga Indonesia ini dihadiri Lelyana Chandra Wijaya, mantan ratu atletik jarak menengah era 1970-an. (Suharto Olii)

TINGGALKAN KOMENTAR