Sudah jatuh terjerembam, kemudian ditimpa tangga, dan masih belum habis rasa sakitnya. Kakinya diamputasi. Itulah wajah sepak bola Indonesia, PSSI. Pandemi Covid-19, meruntuhkan, semua sendi-sendi dalam cabang olahraga terpopuler di Indonesia ini. Mereka terpuruk, mereka menderita, dan bahkan mereka sebagian klub-klub bisa bangkrut dan gulung tikar, dan dijual ke bohir, atau pemodal baru.

Cerita di atas, bagi mBah Coco, bukan ingin mendramatisir keadaaan yang ada. Namun, kalau diteliti satu persatu, anggota Liga 1 dan Liga 2 Indonesia 2020 saat ini. Walaupun, sudah diberi keringanan oleh PSSI dan PT LIB, hanya bisa membayar maksimal 25% dari semua nilai kontrak pemain, pelatih dan ofisial. Tetap saja, sudah ngos-ngosan, dan ampun-ampun.

mBah Coco, coba mem-breakdown, biaya produksi 18 klub anggota Liga 1, jika dalam kondisi normal, mengeluarkan dana setiap bulan, antara Rp 3 sampai 6 miliar. Maka, saat ini, sejak April dan Mei 2020, wajib hanya keluarkan dana 25% dari anggaran bulanan. Nilai 25% itu saja, sudah sangat menderita dan nyaris sudah tak mampu lagi.

Anggota Liga 2, lebih parah dan semrawut. Jika, rata-rata klub mengeluarkan anggaran R 1 sampai 2 miliar per bulan. Maka, hanya untuk membayar nilai kontrak 25% sudah nyerah, pada bulan April dan Mei. Bahkan, ada yang sejak Maret 2020, gajinya belum dibayarkan. Bijimane, mau bayar 25% dari nilai kontrak? Lha, disuruh bayar 10 sampai 15% pun sudah mencret-mencret.

Hollla para pengurus PSS dan PT LIB, filosofi bisnis pemilik klub di Indonesia, berbeda-beda. Ada yang modalnya banyak banget, ada yang investasinya pas-pasan. Semua, klub punya misi dan visi yang berbeda-beda. Ada, yang nyaman, karena diam-diam dapat kong-ka-li-kong, dari dana ABPD dengan gayanya masing-masing.

Artinya, suka atu tidak suka. Setuju atau tidak setuju. PSSI dan PT Liga Indonesia Baru 9LIB), tidak perlu nunggu dari pemerintah, soal selesai atau tidak pandemi Covid-19. Lagian, kalau pemerintah bilang, ya silahkan kompetisi Liga 1 dan 2 Indonesia 2020 dilanjutkan, minggu-minggu ini. Pertanyaannya, PT LIB dan PSSI bisa apa?

PT LIB sejak lahir 2006, tidak pernah bisa mandiri, tidak pernah bisa independent. LIB selalu disusui dan disusui serta disuntik dana liar entah siapa yang memberi?. Proses LIB bisa tumbuh pun, tak pernah terlihat.

Malahan, saat ini, masih gontok-kontokan. Karena, sejak lahir, LIB itu cacat permanen. Sehingga, saat Cucu Somantri, sebagai Direktur Utama LIB, sejak 23 Januari 2020, berani tandatangani sebuah kerjasama dengan lembaga (operator bayanagan LIB), senilai Rp 42 miliar, tak ada yang berani menentang. Walaupun, prosesnya, disetujui atau diputuskan, dalam rapat direksi dan komisaris. Toh, dana Rp 42 miliar, bisa keluar lancar-lancar prawiro.

Pertanyaannya, siapa operator bayangan ini? Siapa yang jadi backing operator bayangan, yang sejak lahir, selalu dapat proyek sebagai operator? Lalu, apa kerja PT LIB sebagai operator, kalau sudah ada operator yang mengerjakan, semua tetek-bengeknya sebuah kompetisi? Ternyata, selama ini, semua jajaran direksi dan komisaris PT LIB, lebih banyak leyeh-leyeh, jalan-jalan dan tidur-tiduran. Taukah itu, anggota EXCO PSSI dari musim ke musim pengurus baru di PSSI dan PT LIB?

Kalau, ada teman dan sahabat mBah Coco, di lingkungan EXCO PSSI dan juga di PT LIB. Kata-kata mutiarannya begini, “Nyaris di semua lini, sebagian pengurus sudah piawai jadi maling, dan sebagian mencoba belajar maling.”

Oleh sebab itu, mBah Coco sarankan kepada PSSI dan PT LIB.

Pertama, nggak usah malu-malu, bahwa PSSI dan PT LIB yang masih seumur jagung ini, gagal mengelola manajemen dan mengelola keuangan. Pasalnya, mereka rata-rata orang baru di lingkungan PSSI, dan belum dapat ilmu pat-gu-li-pat dari pengurus yang masih bercokol.

Kedua, mundurnya Sekjen Ratu Tisha, motor serangan PSSI ke berbagai sudut untuk ngurus sepak bola nasional, menjadi buyar semua. Ratu Tisha, ternyata cari peluang bisnis untuk diri sendiri. Sepertinya wajib dari nol lagi. Kebetulan plt Sekjen dan juga wakil Sekjen, tak paham dunia sepak bola dari A sampai Z. Lengkap sudah penderitaan wajah bola Indonesia ini.

Ketiga, mundurnya, orang nomer satu di lembaga berbasis bisnis, di PT LIB, yaitu Cucu Somantri, justru meninggalkan “bau busuk”. Cucu Somantri dituduh KKN dan membuang dana seenaknya, senilai Rp 42 miliar. Sedangkan, Iwan Bule dan anggota EXCO PSSI serta jajaran direksi PT LIB, sangat kentara, ingin membangun kerajaan baru, ketika melihat bisnis menggiurkan di PT LIB.

Nyatanya, Iwan Bule dkk masih kalah jeli, kalah pengalaman dengan pakarnya, yang dikomando Pieter Tanuri (pemilik Bali United, dan anggota EXCO), dan Iwan Budianto (pemilik Arema, dan waketum). Merekalah, aslinya operator bayangan PT LIB dalam tiga musim terakhir ini. Dan, Cucu Somantri tidak bisa berbuat apa-apa. Maklum orang baru, cing !!!

Oleh sebab itu, alangkah baiknya, hari ini, PSSI dan PT LIB mengeluarkan pengumumam, bahwa kompetisi Liga 1 dan 2 Indonesia 2020, sebaiknya diumumkan, bahwa selesai dan dibubarkan saja. Kompeptisi bisa bergulir kembali musim 2021. Itu pun, kalau pandemi Covid-19 bisa selesai. Lihat saja, semua klub sudah berdarah-darah, dan jangan lagi dibebani. Sedangkan, PSSI silahkan berbenah, mau tetap seperti sekarang, atau berjubah dan berwajah baru?

Ada enam alasan, yang membuat Liga 1 dan 2 Indonesia 2020 ini harus diberhentikan, mulai hari ini.

Pertama, semua sponsor PT LIB mengundurkan diri, SHOPEE, EMTEK, dan TELKOM, dua sponsor utama yang disebut pertama, adalah lembaga raksasa. Mereka pantas mundur, karena situasi Covid-19 nggak jelas, kapan bisa dihentikan penularannya? Omzet SHOPEE dan EMTEK juga menurut dratis.

Kedua, jika liga-liga elit dunia di Eropa, masih bisa bergulir, karena dapat sponsor Tv-rights dan sponsor, sama-sama melekat. Artinya, income dari tiket penonton, tak perlu dibutuhkan, walaupun ada atsmofir yang beda. Makanya, mereka bisa menggelar kompetisi, tanpa penonton. Karena income klub tidak sebanding dengan Tv-ringts dan bonus lembaga. Tapi, di Indonesia, klub-klub tidak hidup dari Tv-rights dan sponsor. Tidak bisa hidup dari subsidi PT LIB.

Ketiga, pemerintah jika memberi ijin kompetisi dilanjutkan, pasti banyak aturan protokol yang wajib ditaati semua klub. Namun, bagi klub juga nggak ada artinya. Pasalnya, daya beli masyarakat untuk nonton ke stadion, dipastikan menurun. Artinya, walaupun dikasih longgar, ada penonton pun, nggak ada artinya. Karena, suporter berpikir, mendingan beli bahan pangan, ketimbang beli tiket.

Keempat, rata-rata pemilik klub dan pengelola klub, semakin terpuruk. Jika mereka punya bisnis pun, untuk membagi keuntungan masuk ke klub yag dikelolanya. Butuh mikir 1000 kali. Pola pikirnya, uangnya, digelontorkan investasi bisnisnya agar kembali bangkit dan lancar, atau pilih investasi bisnis di klub. Atau, dua-duanya gagal, bisnis gagal, mengelola klub gagal. Sebuah dilematis, yang tidak bisa dibantu oleh PSSI dan PT LIB.

Kelima, jika PSSI dan PT LIB ngotot, tanpa perhitungan yang matang. Maka, korban-korban berikutnya, adalah para perangkat pertandingan. Pengawas pertandingan dan para wasit, yang akan memimpin pertandingan. Pertanyaannya, siapa yang bayar mereka? Lha, PT LIB aje, nggak ade pemasukan…..heheheheh

Keenam, individu-individu dalam sebuah klub, namanya pemain, pelatih dan ofisial. Mereka, latihan, keluar keringat, dan bertanding, untuk kehidupan keluarga, anak dan istri. Jika, mereka tetap berlatih, apakah nilai kontraknya, masih seperti sejak awal? Apakah, ada kontrak baru? Apakah dibayar, seperti tarkam? Apakah pemilik klub tertarik ada kontrak baru? Kapan klub bisa bayar ke pemain?

Ach, banyak sekali masalah di sepak bola. Dan, 1000% saat ini, tak pernah bisa diselesaikan oleh Iwan Bule dan kawan-kawan. Walaupun, pemerintah menginjikan bisa menggelar kompetisi. Karena, tidak ada satu pun, sponsor yang mau bekerjasama, dan tak ada yang mau, tanpa kepastian.

Kasihan, bukan? (Penulis adalah wartawan senior peliput sepakbola yang kini mengklaim sebagai Pemred Facebook).

TINGGALKAN KOMENTAR