Zhang Ning tak cukup kuat menahan terror mental dan teriakan pendukung Indonesia yang memadati Istora Senayan, Jakarta, Sabtu, 21 Mei 1994. Zhang, yang ditugaskan menjadi tunggal ketiga, gagal mempertahankan keunggulan 7-3 pada set pertama. Dia menyerah 7-11 dari pemain muda belia Indonesia, Mia Audina.

Inilah partai penentuan Piala Uber. Final. Kedudukan 2-2. Indonesia sudah menanti 19 tahun untuk kembali memiliki lambang supremasi beregu putri itu.Teror semakin menjadi ketika Mia yang belum genap 16 tahun tinggal selangkah memenangi duel. Di set kedua, Mia memimpin 10-6, memegang servis.

Para penonton mendesak ke pinggir lapangan, menanti keajaiban. Para pewarta foto terdesak, mendekat ke papan iklan, tepat di tepi lapangan hijau.Yang diharap tak datang. Mia membuang kesempatan. Dua kali memegang servis pada kedudukan 10-6 tak mampu dituntaskan dengan angka.

Satu kesempatan emas ketika lapangan kiri Zhang Ning terbuka lebar. Namun, Mia gagal menyeberangkan kok ke areal kosong itu. Kok menyentuh net, lalu mental kembali ke lapangan Mia sendiri.

Mia yang tinggal mengejar satu poin guna memastikan kemenangan tim Uber Indonesia atas juara bertahan, Tiongkok, bermain tak tentu arah. Pengembalian koknya kerap tak akurat. Zhang yang tertinggal jauh terus merangsek, mendekati perolehan angka Mia dan menyamakan kedudukan 10-10. Zhang tak terbendung, meraih set kedua, 12-10. Istora senyap.

Lutfi Hamid, manajer tim Indonesia, ditemui di Jakarta, beberapa hari lalu, mengakui, pemain muda seperti Mia ketika turun di depan pendukung sendiri biasanya memiliki beban mental yang lebih berat dibandingkan pemain senior.

Kala itu, antara set kedua dan ketiga dalam sistem “rubber set” ada jeda lima menit bagi para pemain unuk istirahat.Mia pun digiring ke ruang ganti oleh Lutfi. Tak ada orang lain yang boleh masuk. “Ketua umum sekalipun tak boleh masuk ruangan. Hanya Mia dan pelatih (Retno Kustiyah) yang boleh ada di ruangan itu,” kata Lutfi.

Memasang wajah sangar, Lutfi mencegah beberapa orang yang ingin masuk ke ruang ganti. Menurut Lutfi, sebenarnya kondisi tegang yang membuat wajahnya terlihat tak ramah. “Bukan galak. Galak karena terpaksa,” katanya tertawa.

Retno mengatakan, Mia tak banyak berucap. “Dia banyak diam sambil mengeringkan tubuhnya dari keringat,” katanya.

Mantan anggota tim Indonesia yang merebut Piala Uber 1975 ini mengaku juga tak banyak menasihati atau memotivasi anak asuh yang sudah dia bina sejak anak-anak di klub Jaya Raya itu. Retno baru bersuara jika Mia bertanya. Selebihnya, hening.

Selepas lima menit, Mia kembali ke lapangan. Dia bermain bak “singa terluka”. Mia tak henti mereguk poin sampai 7-1. Zhang mencoba mendekati. Dia menambah tiga poin.

Namun, Mia terlalu jauh untuk dikejar. Bermain apik, Mia menyelesaikan pertandingan dengan 11-4 sekaligus memastikan Piala Uber untuk kedua kalinya ke pangkuan Ibu Pertiwi.

FINAL PIALA UBER 1994
Indonesia – Tiongkok 3-2
1. Susy Susanti – Ye Zhaoying 11-4, 12-10
2. Lili Tampi/Finarsih – Chen Ying/Wu Yuhang 15-13, 17-16
3. Yuliani Sentosa – Han Jingna 5-11, 5-11
4. Eliza Nathanael/Zelin Resiana – Ge Fei/Gu Jun 10-15, 8-15
5. Mia Audina – Zhang Ning 11-7, 10-12, 11-4.TOR-08

 

TINGGALKAN KOMENTAR