Sampai akhir Juni 2020 ini, genap sudah satu tahun, Iwan Bule, dari kampanye untuk berambisi duduk di “kursi panas”, hingga, terpilih di Kongres PSSI sebagai, 2 November 2019. Hingga, artikel ini diturunkan, oleh mBah Coco. Tidak ada orang sepak bola nasional, yang bicara, apa, siapa, mengapa dan bagaimana, sebuah permainan tim sepak bola, dibangun, dimulai, disemai dan dicetak.

Sepak bola itu, olahraga permainan, bukan “macan kertas”, seperti yang dipertontonkan mantan pejabat polisi, seperti Komjen Pol (Purn) Mochamad Iriawan, yang akrab dipanggil Iwan Bule. Dan, semua jajaran EXPO PSSInya, juga mlempen, “ayam sayur”, tidak punya “knowlegde” apa pun, tentang filosofinya sepak bola.

Makanya, mBah Coco semakin binggung. Gerombolan Iwan Bule ini, memang bisa ngurus bola, atau hanya sekadara perang-perangan, mengurus organisasi? Kalau pun, ngurus organisasi, kok justru nabrak-nabrak, nggak karuan? Jangan-jangan, Iwan Bule, sebagai ketum PSSI, hanya sekadar “boneka”?

Pernahkan, penggila bola, mencatat dan mendengar apa yang dikatakan Iwan Bule, bagaimana membangun sebuah tim nasional? Apakah Iwan Bule dkk, pernah bercerita, bahwa untuk menemukan pemain sepak bola berbakat itu, harus dari mana? Apakah Iwan Bule dkk paham, bahwa kantong-kantong pemain berbakat Indonesia itu, dari mana saja?

Jika, mau dirunut ada 100 pertanyaan mBah Coco, untuk pasukan Iwan Bule, yang katanya punya staf khusus (seolah-olah ahli). Katanya, punya satgas PSSI entah apa yang dikerjakan? Katanya punya manusia-manusia pintar dan genius, serta berduwit, dibalik Iwan Bule?

Siang ini, mBah Coco, hanya fokus ingin mendongeng, tentang permainan sepak bola, kepada PSSI, agar semakin melek bal-balan, dan tidak “butu huruf”, tentang bagaimana caranya melahirkan pemain sepak bola. Maklum, bicara sepak bola, wajib bicara bibit-bibit unggul, bukan justru menyimpan para “Tikus Got” yang kini, ada di sekitar Iwan Bule.

Sejak PSSI lahir, 19 April 1930. Bibit pemain sepak bola Indonesia, hanya di sekitar kota-kota di Jawa, dan Ambon. Ditambah lagi warga keturunan ras Cina, serta blesteran Belanda. Maka, saat tampil di Piala Dunia 1938, namanya The Dutch East Indies (sebelum Indonesia merdeka). Satu-satunya wakil Asia pertama, di event World Cup. Edannn bukan?

Lihat saja, nama-nama pemain yang tampil, dengan “Sistem Piramida”, yaitu 2 – 3 – 5, yang diasuh pelatih asli Belanda, Johannes Mastenbroek. Terdiri dari Mo Heng Tan (kiper), Frans Hu Kon, Jack Samuels (belakang). Acmad Nawir, Frans Meeng dan Sutan Anwar (tengah), serta lima pemain depan, Hong Djien, Issal Pattiwael, Hans Taihuttu, Suvarte Soedarmadji, dan Henk Zomers.

Generasi emas kedua tim nasional Indonesia, di jaman Olimpiade 1956 di Melbourne, Australia. Sejak Indonesia merdeka, mayoritas kantong-kantong pemain berbakat, sudah lumayan, ke banyak wilayah Indonesia. Makanya, pemain asal Medan pun, dan Makassar sudah ada dalam skuad tim nasional Indonesia. Termasuk, yang masih bertahan, adalah warga keturunan naturalisasi ras Cina.

Dalam perjalanan jejaknya, setelah menahan Uni Soviet 0 – 0 di Olimpiade 1956, mayoritas pemainnya, kemudian juga mempersembahkan medali perunggu, di Asian Games 1958, di Tokyo.

Daftar nama yang didapat mBah Coco di jaman itu, terdapat nama-nama Maulwi Saelan (Persija Jakarta), Achad Arifin, dan Chairuddin Siregar (PSMS Medan), Ashari Danoe (PSIS Semarang), Jasrin Jusron (PSIM Jogjakarta), Kwee Kiat Sek (Persib Bandung), Mohammad Rasjid (PSM Makassar), Phwa Sian Liong (Persebaya Surabaya), Andi Ramang (PSM Makassar), Tan Liong Houw (Persija Jakarta), Thio Him Tjiang, Endang Witarsa (UMS Jakarta) dan Ramlan Yatim (PSMS Medan).

Yang agak aneh, sepak bola Indonesia, terkesan jadi wabah. Di mana-mana, selalu ada talenta dan bakat-bakat terpendam yang lahir. Di jaman 1960 sampai 80-an, sepak bola Asia, juga sedang eforia. Banyak sekali lahir turnamen-turnamen, di Korea Selatan ada Presiden’t Cup, di Bangkok ada King’s Cup, di Malaysia ada Merdeka Cup, dan di Singapura lahir Merlions Cup. Pemain-pemain yang terpilih masuk skuad timnas, terbilang variatif. Ada pemain asal Papua hingga Banda Aceh.

Bahkan, di Indonesia tahun segitu, subur tumbuh turnamen-turnamen, seperti Piala Marah Halim di Medan, Piala Yusuf Cup di Makassar, Piala Siliwangi di Bandung, Piala Tugu Muda di Semarang, Piala Kemerdekaan Indonesia di Jakarta, Piala Surya di Surabaya.

mBah Coco, coba ingat-ingat agar Iwan Bule dan kawan-kawan, semakin mengenal para legenda-legenda tersebut. Bahwa, jaman itu, kalau cuman membentuk dua (2) skuad tim nasional, nggak sulit. Bahkan, di akhir 80-an, untuk membentuk tiga (3) tim nasional, dengan nama PSSI Garuda, PSSI Harimau dan PSSI Banteng, juga masih mampu. Ngeri bukan?

Ada peristiwa fenomenal, di Merlion Cup 1972 di Singapura, mampu menciptakan All Final Indonesia, antara Timnas Indonesia A (Harimau) vs Timnas Indonesia B (Banteng). Padahal, negara yang diundang, ada timnas Jepang, Korea Selatan, Irak, Mesir, Thailand dan Burma (sekarang Myanmar).

mBah Coco, coba mem-breakdown, para pemainnya, skuad Tim Nasional A (Harimau), Ronny Paslah dan Yudo Hadiyanto (kiper), Sunarto (bek kiri), Yuswardi (bek kanan), Anwar Ujang (libero), stopper (Mulyadi – Fam Tek Fong), di barisan tengah, Surya Lesmana, Sinyo Aliandu, M. Basri, Iswadi Idris, Soetjipto Soentoro, Waskito, Jacob Sihasaleh, dan Risdianto

Sedangkan Tim Nasional B (Banteng) yang diingat mBah Coco, ada Sudarno (kiper), Budi Santoso, Ngurah Rai, Suieb Rizal, Dede Rusli, Sarman Pangabean, Ronny Pattinasarany, Bob Tan, Wibisono, Tumsila. Saat itu, juaranya Tim Nasional B (Harimau), dengan skoar 2 – 1. yang cetak gol Risdianto dan Soecipto Soentoro, sedangkan gol tim Banteng, dicetak Tumsila.

Untuk jaman 80 sampai 90-an, sebetulnya punya jejak yang lumayan. Walaupun, hanya untuk kawasan Asia Tenggara. Skuadnya, dimulai dengan semifinalis Asian Games 1988, kemudian nyaris lolos ke World Cup Meksiko 1986. Dan, puncaknya meraih dua kali medali emas SEA Games 1978 dan 1991.

Kombinasi pemain dari materi pemain bond-Perserikatan dan Liga Sepak Bola Utama (Galatama), juga tak pernah kesulitan, untuk mendapatkan dua tim nasional Indonesia. Contohnya, jika ada undangan ke King’s Cup, maka Indonesia, diwakili Liga Selection. Tahun 1979, turnamen Aga Khan di Bangladesh, diwakili juara Galatama 1980, Niac Mitra, Surabaya.

Sedangkan, untuk turnamen negara lainnya, bisa diwakili para juara bond Perserikatan. Persiraja Banda Aceh, Persija Jakarta, Persib Bandung, PSIS Semarang, pernah merasakan mewakili atas nama Indonesia, setelah juara bond-Perserikatan.

Ketika Tim Nasional Indonesia, juara SEA Games 1987, materi pemainnya, dominan bond Perserikatan, seperti Ponirin Meka, Marzuky Nyak Mad, Sutrisno, Jaya Hartono, Patar Tambunan, Azhary Rangkuti (PSMS Medan), Budi Wahyono dan Ribut Waidi (PSIS Semarang), serta Aditya Darmadi (Persija Jakarta), sedangkan pemain Galatamanya, hanya tersisa Herry Kiswanto, Tias Tono Tias Tano TaufikRully Nere, Nasrul Koto dan Ricky Yacobi.

Saat mengulang sukses 1987, pasukan Anatoly Polosin, di SEA Games 1991, semua materi pemainnya, Robby Darwis (Persib Bandung) dan Yusuf Ekodono (Persebaya Surabaya) dari bond-Perserikatan.

Sisanya full pemain klub anggota Galatama. Eddy Harto (KTB), Ferril Raymond Hattu (Petro Kimia Gresik), Jend Sudirman (Arseto Solo), Toyo Haryono (KTB Palembang), Aji Santoso (Arema Malang), Salahuddin (Barito Putra), Maman Suryaman (Pelita Jaya), Kas Hartadi dan Peri Sandria (KTB Palembang), Widodo Cahyono Putro (Warna Agung), Rocky Puritay (Arseto Solo), dan Bambang Nurdiansyah (Pelita Jaya).

Di era milenium ke-2, setelah usai abad ke-20, semua pemain, sudah satu wadah, bernama Liga Indonesia. Hanya saja, sejak jaman Nurdin Halid, sepak bola, hanya dijadikan komoditas politik, sampai jaman Iwan Bule. Dan, pengurus lebih terkenal, dibandingkan para pemainnya. Padahal, di jaman 2000-an ini, juga banyak pemain bertalenta hebat.

Tim nasional Indonesia 2007, salah satu materi pemain skuad Indonesia, yang paling berbakat. Di depan publiknya sendiri, yang rata-rata ditonton 100 ribu suporter ‘Garuda Merah Putih”, termasuk ditonton terus oleh SBY. Mampu menang atas Bahrain 2 – 1, dan hanya kalah tipis menghadapi Arab Saudi 1 – 2, dan 0 – 1 atas Korea Selatan.

Di situ, ada nama-nama Markus Horison (PSMS Medan) dan Yandri Pitoy (Persipura Jayapura) di posisi kiper. Serta barissn belakang yang lumayan solid, Ricardo Salampessy (Persipura), Charis Yulianto, Supardi Nasir (Sriwijaya FC), Maman Abdularachman (PSIS Semarang), dan Ismed Sofyan (Persija Jakarta). Di lini tengah dihuni Firman Utina (Persita Tangerang), Ponaryo Astaman (Sriwijaya FC), Mayadi Pangabean (PSMS Medan), Samsul Bahri Chaeruddin (PSM Makassar) dan Eka Ramdani (Persib Bandung).

Di lini depan, nama-nama striker Indonesia, menjadi icon” saat Indonesia tuan rumah Piala Asia 2007. Ada Budi Sudarsono (Persik Kediri), Zaenal Arif (Persib Bandung), Elii Aiboy (Arema Malang), serta Atep dan Bambang Pamungkas (Persija Jakarta).

Nama-nama mereka inilah, yang menjadi kebanggaan bangsa Indonesia, di kancah sepak bola, dalam pergaulan di level internasional. Iwan Bule dan kawan-kawan, harus mencari para legenda-legenda itu, untuk dijadikan sparing-partner, workshop dan diskusi, untuk memajukan sepak bola.

Namun, sampai hari ini, yang ramai dibicarakan di lingkungan PSSI, dibawah komando Iwan Bule, justru nama-nama struktur organisasi, yang rata-rata tak paham sepak bola. Tidak mengerti siapa saja legenda-legenda pemain nasional Indonesia. Apalagi, bicara, bagaimana caranya menemukan bibit-bibit unggul. Miris banget penggemar bola Indonesia !!!

mBah Coco, hanya ingin memberi referensi dari semua sejarah pembentukan tim nasional Indonesia, sejak PSSI dilahirkan 19 April 1930, sebagai organisasi olahraga tertuta, sebelum Indonesia merdeka. Bahwa, Shin Tae-yong, pelatih asal Indonesia saat ini, wajib segera dikasih tahu oleh PSSI, bahwa pembentukan tim U-20, yang disiapkan ke FIFA U-20 World Cup 2021 nanti, masih ada lumayan waktunya, untuk membentuk dua (2) Tim Nasional.

Perjalanan skuad pemain Indonesia saat ini, suka atau tidak, benci atau rindu, dari hasil pengamatan mBah Coco, ada dua tim. Yang pertama, materi pemain jebolan pasukan U-16 tahun 2017, yang diarsetikei Fachri Husaini, hampir 90% sudah direkrut oleh klien-nya PSSI – MolaTV, dengan nama Garuda Select. Mereka, sudah melakukan dua tahap, latihan di Birmingham, Inggris. Dan, setiap minggu uji-tanding, dengan klub-klub Inggris, dan Italia. Versi mBah Coco, wajib menjadi Tim Nasional Indonesia A.

Skuad Garuda Select
KIPER : Erlangga Setyo (Persib Bandung), Ruiky Muhammad Sudirman (Persija Jakarta), Ernando Ary Sutaryadi (Persebaya Surabaya). BELAKANG : Amiruddin Bagas Kaffa Arrizqi (Barito Putra), Fadilah Nur Rachman (Diklat Ragunan), Kartika Vedhayanto Putra (PSIS Semarang), Mohammad Yudha Febrian (Barito Putra), Komang Teguh Trisnanda (Diklat Ragunan), Liba Valentino (Bhayangkara FC). TENGAH : Mohammad Supriyadi (Persebaya Surabaya), Muhammad Fajar Fahturahman (Persib Bandung), Alif Jaelani (Barito Putra), Sandi Arta Samosir (Persija Jakarta), Braif Fatari (Persija Jakarta), Andre Oktaviansyah (PS Tira Persikabo), David Maulana (Persib Bandung), Bryllian Aldama (Persebaya Surabaya). DEPAN : Amanar Abdillah (Bhayangkara FC), Sutan Zico (Persija Jakarta), Amiruddin Bagus Kahfi Alfikri (Barito Putra).

Sedangkan, Februari 2020 lalu, Shin Tee-yong, sudah memilih 28 pemain yang diseleksi, untuk dipersiapkan ke putaran final AFC Cup U-19 Championship, yang akan berlangsung 14 – 31 Oktober, di Uzbekistan. Kebetulan, undian sudah ditentukan Awal Juni 2020, minggu lalu. Indonesia bergabung dengan tuan rumah, Uzbekistan, Kamboja dan Iran, di Grup A.

Empat negara yang lolos ke semifinal dari 16 negara, dipastikan mewakili Asia, untuk bertarung di FIFA U-20 World Cup 2021, di enam kota di Indonesia. Timnas Indonesia, pasukan Shin Tae-yong, ke Uzbek, punya dua tujuan. Tidak ingin, sekadar ikut, karena gagal atau sukses, gara-gara sebagai Indonesia menjadi tuan rumah. Atau, semakin cemerlang skuad menuju Piala Dunia U-20

Oleh sebab itu, saran mBah Coco, Shin Tae-yong, segera disuruh serius, ngurus pelatnas jangka panjang, dan segera membentuk dua tim nasional. Daripada, harus ngurus ribut-ribut yang nggak penting dengan Direktur teknis, Indra Sjafri. Materi pemain, yang sudah ikut seleksi, dari 60 pemain, diciutkan menjadi 28 pemain, yang pelatnas di Bangkok, Februari lalu, menurut mbah Coco, sebagai Tim Nasional B

Rizky Ridho Ramdani (Persebaya Surabaya), Witan Sulaeman (PSIM Jogjakarta), Mohammad Rifaldo Lestaluhu (Mitra kukar), Mohammad Kanu (Babel United), Figo Sapta (Persija Jakarta), Mohammad Adi Satriyo (PSMS Medan), Irfan Jauhari (Bali United), Irfan (AS Abadi Tiga Naga, Gresik), Harberd Akhova Sokoy (PLPP Papua), Pratama Ardan Alif (PSIS Semarang), Saddam Emiruddin Gaffar (PSS Sleman), Arya Putra Ferryan Senyiur (Borneo FC), Mohammad Fadhil Adhiya Aksah (Martapura FC), Alfeandra Dewangga (PSIS Semarang), Hamsa Lestaluhu (Bhayangkara FC), Theofillo Numberi (Persipura Jayapura), Serdy Ephy Fabo Boky (Bhayangkara FC), Mohammad Darmawan (PPLP Jakarta).

Oleh sebab itu, menurut mbah Coco, nggak boleh lagi tunda-tunda waktunya. Segera, tim asisten pasukan Shin Tae-yong, buat rancangan, bagaimana mengelola pelatnas Indonesia A dan B, menjadi domain pelatih asal Korea Selatan, tanpa diganggu oleh siapa pun di republik “mbelgedes” ini. Iwan Bule dan kawan-kawan, cukup duduk baik-baik, nggak usah cawe-cawe persiapan Tim Nasional A dan B.

Konsepnya, Juli – Desember 2020, tim nasional A dan B, sama-sama melakukan pelatnas. Entah di luar neger atau di dalam negeri. Dan, semuanya wajib segera dicarikan anggarannya. Januari – Maret 2021, kombinasi tukar menukar pemain, dari Tim Nasional A dan B, agar mereka saling mengenal. PSSI, cukup menyediakan fasilitas, untuk membuat turnamen, atau ikut turnamen di manca negara, yang punya jadwal uji-tanding antar U-20.

Ingat, mBah Coco, bukan ngarang asal-asalan. Tapi, sejarah sepak bola Indonesia, punya catatan emas, terbiasa buat dua Tim Nasional !!!

Pada bulan April 2021, Shin Tae-yong, sudah mengantongi 23 pemain nasional U-20, dari hasil seleksi ketat Indonesia A dan B, yang akan diterjunkan di depan publiknya sendiri, Stadion Gelora Bung karno, Mei dan Juni 2021 mendatang.

Maksud mBah Coco, seluruh jajaran Iwan Bule, harusnya mikirin pembentukan tim nasional ini, secera serius. Jangan, malah cari panggung sendiri, dengan membentuk staf khusus dan satgas PSSI, yang nggak ada hubungannya, dengan permainan sepak bola itu sendiri.

Holllllaaaa, Iwan Bule dan kawan-kawan. Jika, Anda tak mampu memberi kepercayaan kepada Shin Tae-yong 100%, serta Anda lebih suka memilih Indra Sjafri, untuk cawe-cawe serta ikut campur konsep dan taktik strategi Shin Tae-yong. Bisa jadi, pemerintah Jokowi, akan ambil-alih semua persiapan Indonesia, sebagai tuan rumah, sekaligus mempersiapkan tim nasional, sebagai legitimasi Jokowi.

Silahkan direnungkan. Tapi, jangan lama-lama, bro !!!(Penulis adalah wartawan olahraga senior peliput sepakbola.yang kini mengklaim sebagai Pemred Facebook)

TINGGALKAN KOMENTAR