Sejak Alfred Riedl, menjadi pelatih nasional Indonesia 2010 – 2011, kesan pelatih asal Austria ini, tidak dibayar oleh PSSI, semakin terkuak. Setelah Alfred Ridle menulis surat kepada FIFA, atas perlakukan PSSI. Nyatanya, desas-desus yang bereder, karena Alfred Riedl, bukan dibayar oleh PSSI, melainkan oleh bohir.

mBah Coco, sebetulnya juga mendengar rumor dan gosip yang sudah beredar, sejak Ivan Kolev, ditunjuk sebagai pelatih nasional Indonesia, 2002 sampai 2004. Pelatih asal Bulgaria ini, kembali sebagai pelatih nasional Indonesia, tahun 2007. Setelah diselingi, pelatih asal Inggris, Peter White, 2004 – 2007.

Setelah Alfred Riedl, dari pengamatan mBah Coco, para pelatih asing itu, lagi-lagi menangani timnas Indonesia 2016. Kok, sepertinya Indonesia, kesulitan mencari pelatih nasional? Dia lagi…dia lagi…….

Tiga pelatih asing berikutnya, Luis Milla (Spanyol) 2017 – 2018, Simon McMenemy (Inggris), 2018 – 2019, serta Shin Tae-yong (Korsel) 2019 sampai hari ini. Masih saja terkesan, bahwa ada tangan-tangan kotor, yang jadi makelar atau calo. Dan, juga ada agen pemain, yang ikutan mengatur pemanggilan pemain.

Mengapa mBah Coco, memasukan nama agen pemain?
Yang terdengar sayup-sayup, pelatih asing, direkomendasikan oleh agen, kepada para makelar yang sliweran di PSSI. Tujuannya, agar para pemain klub yang diinginkan agen pemain, bisa terpanggil masuk pelatnas.

Motifnya, adalah uang atau succes fee. Jika, para pemain yang terpanggil masuk pelatnas. Walaupun dicoret oleh pelatih asing. Sudah bisa menaikan harga nilai transfer dan nilai kontrak, ke klub lainnya di Indonesia. Maklum, pemain yang bersangkutan, sudah seolah-olah dipanggil masuk pelatnas tim nasional, mosok harganya biasa-biasa saja?

Alfred Riedl, pernah curhat dengan mBah Coco, mengapa dirinya harus melapor ke FIFA, karena nilai kontraknya dengan PSSI, hampir tiga bulan tidak dibayar oleh PSSI. Sementara itu, para pengurus PSSI yang berurusan dengan dirinya, selalu bilangnya “tak-sok….tar-sok…” Sehingga, akhirnya lapor ke FIFA, dan FIFA minta segera PSSI membayar semua gajinya, yang hampir Rp 3 miliar.

Hal, serupa juga dialami oleh Luis Milla. Setelah melaporkan PSSI ke FIFA, maka gajinya yang terkantung-kantung, hampir Rp 7 miliar, bisa dibayar oleh PSSI. Pertanyaannya, duwit dari mana, saat PSSI membayar Luis Milla?

Padahal, di saat PSSI tekor dan banyak hutang, jaman Edy Rahmayadi. Ujug-ujug, hutangnya La Nyalla Mattalitti, kepada PSSI, sebesar Rp 13.5 miliar, bisa dibayarkan. Itu pun menjeleng Kongres PSSI, 2 November 2019. Pertanyaan mBah Coco, mengapa, justru menjelang Kongres, uang PSSI berlimpah? Dari mana asalnya?

Dunia kepelatihan sepak bola Indonesia, terlalu banyak klik-klikan, dan dianggap mBah Coco, sudah tidak sehat. Makanya, banyak sekali para pelatih lokal, yang sudah banyak melakukan kursus, untuk mendapatkan sertifikat, justru selalu tergusur oleh pelatih asing. Walaupun, kualitasnya, dipertanyakan.

Jawabnya, karena kontrak pelatih asing, mudah dipolitisir oleh para agen pemain dan agen pelatih, yang tidak memiliki sertifikat keagenan dari AFC atau pun FIFA. Sehingga, succes fee para agent, begitu besar menjerat nilai kontrak pelatih asing. Sementara itu, pelatih lokal, yang lebih muda, suka minta-minta carikan klub.

Maka, salah satu yang kini mencuat, kelompok pelatih, membangun “kartel”, agar periuk nasinya tidak hilang ditelan jaman.

Pertanyaannya, apakah Iwan Bule, yang sudah nikmat duduk di “kursi panas”, paham lika-liku dunia kepelatihan Indonesia, yang sebetulnya menyimpan “bom waktu”?

Bahkan, pelatih yang belum punya kapasitas, ikut-ikutan mengkritik Shin Tae-yong, yang notabene, menurut mBah Coco, sudah dijalur yang bener. Namun, lagi-lagi ada pertanyaan, siapa sebetulnya, yang membayar gaji Shin Tae-yong? Bohir beserta para makelarnya, atau PSSI?

Dari semua pertanyaan mBah Coco di atas. Tujuannya satu, jika Shin Tae-yong yang belum berbuat apa-apa, sudah diberhentikan, maka sangat aneh, dan patut dicurigai. Dan, jika itu terjadi, berarti PSSI sedang menagih bohir, agar segera membayar gaji Shin Tae-yong. Namun, jika diteruskan, apakah PSSI mampu membayar gaji pelatih asal Korea Selatan ini? Buah simalakama sedang dibangun oleh Iwan Bule dan kawan-kawan.

mBah Coco, sangat curiga, bahwa PSSI sebetulnya, tidak punya anggaran untuk membayar Shin Tae-yong dan para asistennya. Terbukti, para anggota Badan Yudisial, yang menaungi Komite Disiplin, Banding dan Etik, sudah tiga bulan, tidak dibayar honornya, dari Maret – Mei 2020. Akhir Mei lalu, ada 10 karyawan profesional PSSI yang diberhentikan.

Sementara, di depan wajah Iwan Bule, ada anak buahnya, yang menguasai keuangan PSSI dan PT Liga Indonesia Baru, dengan nikmat mencuri uang PSSI. Namun, Iwan Bule bergeming. Kalau sudah begitu, mau dibawa ke mana PSSI, coy?

Mudah-mudahan, ini hanya dugaan mBah Coco.(Penulis adalah wartawan olahraga senior peliput sepakbola.yang kini mengklaim sebagai Pemred Facebook)

TINGGALKAN KOMENTAR