David Sulasmono, penulis dan.Risdianto

TANAH pemakaman itu sudah lama mengering. Air mata terhapus sudah. Tapi, kepedihan dan kesedihan tetap tertanam di hati orang-orang yang mencintainya, setiap kali singgah dan mengirim doa di sini; rumah terakhir Zulkarnain Lubis.

Zul, legenda sepak bola nasional, telah pergi. Ia pergi pada Jumat, 11 Mei 2018 lalu, meninggalkan kawan, sahabat, keluarga, ketika ia berada di dunia yang ia cintai; sepak bola. Esok harinya, Zul dimakamkan di Pemakaman Tanah Tinggi, Binjai – yang letaknya sekitar 22 kilometer sebelah barat Medan, Sumatera Utara – yang, juga tanah kelahirannya. Zul lahir di sini pada 21 Desember 1958.

Risdianto terdiam ketika saya kembali menyebut nama Zul. Ia sejenak melempar pandangan jauh-jauh ke depan. “Tidak hanya saya, kita semua, juga sepak bola Indonesia telah ditinggal pergi pemain dengan kepribadian yang unik,” kata Risdianto.

Serupa Risdianto, begitu pula David Sulaksmono. Ia seperti tersentak ketika saya menyebut nama Zulkarnain Lubis. “Kita telah ditinggal pergi pemain yang berprilaku baik, tak hanya di lapangan, tapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Zul baik kepada siapa pun, dia humble,” kata David.

Risdianto dan David, dan Zulkarnain Lubis, tentu saja beda generasi. Tapi harum rumput lapangan Petak Sinkian, Simpruk, Bea Cukai di Rawamangun, telah mempersatukan Zul tak hanya dengan Ris dan David, dan senior-senior yang lain, tapi juga dengan seluruh pemain.

Risdianto pernah satu tim dengan Zulkarnain Lubis di Persegres Gresik (1993-1995, 1995-1996). Sebagai pelatih, Risdianto selalu mengandalkan Zul setiap kali ada masalah pada pemain. “Saya tahu Zul dekat dengan seluruh pemain dan sering mengumpulkan kawan-kawannya di rumahnya,” kata Risdianto.

Di lapangan, Zulkarnain Lubis tak hanya bertumpu pada dua kakinya, tapi ia bermain dengan hatinya. “Zul pernah menangis di pelukan saya,” kata Risdianto.

Cerita air mata Zul ini berawal ketika Persegres masuk enam besar Perserikatan dan bergabung satu grup bersama PSMS Medan PSM Ujungpandang (kini PSM Makassar). Memetik dua kali hasil imbang, Gresik dipastikan melangkah ke semifinal dengan asumsi salah satu PSMS atau PSM pasti ada yang kalah. “Tapi ada kesepakatan PSMS dan PSM tuk menyisingkirkan Gresik. Zul tahu itu dan dia menangis,” kata Risdianto.

Zul juga salah satu pilar tim nasional. Dia, yang pernah mendapat julukan sebagai Maradona Indonesia, adalah pemain gelandang yang memiliki akurasi umpan sangat baik. Dia ikut membawa tim nasional menjuarai Subgrup III Asia di penyisihan Piala Dunia Meksiko 1986 dan ikut menempatkan Indonesia ke semifinal Asian Games 1986 di Korea Selatan. Dia juga ikut mengantar Krama Yudha Tiga Berlian meraih dua gelar juara Galatama, pada 1987 dan 1988.

“Zul pemain hebat. Ia bisa melewati dua atau tiga pemain seketika,” kata David. “Ia memiliki karakter yang kuat. Jika saja Zul lahir di negara dengan sepak bola yang kuat, namanya pasti mendunia,” kata David lagi.

KEGELISAHAN RISDIANTO, KERISAUAN DAVID

Risdianto dan David Sulaksmono adalah dua dari banyak pemain nasional yang masih peduli dengan perkembangan sepak bola di negeri ini. Tuk tidak kehilangan langkah, Ris dan David, bersama Marsely Tambayong, Berti Tutuarima, dan sejumlah pemain lain, mendirikan “Indonesia Football Ambassador” (IFA).

Organisasi mantan-mantan pemain nasional ini berawal di salah satu meja cafe di kawasan Rawamangun. Waktu itu, kopi sudah mulai dingin dan, Risdianto masih saja bersemangat bicara sepak bola. Di wajahnya, terlihat ia sedang gelisah. Ia tak berharap banyak dan hanya menginginkan sepak bola kita baik-baik saja. “Saya yakin kondisi sepak bola kita segera membaik dan prestasi yang kita inginkan bisa kita raih,” kata Risdianto.

Kegelisahan Ris, juga kerisauan David, mendapat dukungan teman-temannya dengan satu misi; IFA harus berbuat sesuatu untuk sepak bola Indonesia.

Hingga hari ini, IFA memang belum memperlihatkan sesuatu yang, juga disebut ikut memperbaiki sepak bola di negeri ini. Tapi, tanda-tanda ke arah sana sudah diperlihatkan IFA yang berada di bawah komando David Sulaksmono.

Jika Risdianto dan David memberi perhatian penuh pada Zulkarnain Lubis, itu adalah langkah dan sikap terpuji; terlihat jelas kepedulian sesama pemain, meski dalam suasana duka. Sehingga kelak, para legenda sepak bola Indonesia yang bergabung di IFA, tidak terlupakan; selalu ada di hati, meski di hati sesama pemain.(Penulis adalah wartawan olahraga senior, peliput sepakbola)

 

TINGGALKAN KOMENTAR