Untuk sementara, sejak Menpora Zainuddin Amali, sudah membentuk INAFOC, atau Indonesia FIFA U-20 World Cup Organising Committee, 21 Febriari 2020 lalu. Nama, Iwan Budianto, sebagai Ketua Panitia, versi mBah Coco, belum tentu di acac oleh Presiden RI ke-7, Ir. Joko Widodo.

Mengapa?
Pasalnya, sampai hari ini, PSSI, belum membentuk tim INAFOC. Padahal, waktunya sudah sangat mepet, setelah empat bulan diterjang pandemi Covid-19. Sehingga, semua jadwal FIFA untuk memilih enam stadion dari 10 stadion yang ditawarkan, belum ada tanda-tanda, bisa disetujui FIFA.

Salah satu kelemahan yang paling mendasar. PSSI dibawah Iwan Bule, tidak serius memilih pejabat barunya, di posisi Sekjen PSSI, menggantikan Ratu Tisha, yang mundur pertengahan Februari 2020 lalu. Padahal, posisi Sekjen PSSI itu, sangat sentral, dan sangat super penting, dalam rangka Indonesia, sebagai tuan rumah FIFA U-20 World Cup 2021 mendatang.

Sekjen PSSI itu, pusat informasi lintas benua, bagi Indonesia. Namun, Iwan Bule, yang nggak paham sepak bola, justru sangat sembrono, hanya memilih plt Sekjen PSSI, Yunus Nusi. Bahkan, adik iparnya Iwan Bule, di posisi wakil Sekjen, Maaike Ira Puspita, versi mBah Coco, juga plonga-plongo, nggak tau apa yang harus dikerjakan secara prioritas.

Menpora Zainuddin Amali dan Jokowi, dari investigasi mBah Coco, hanya dalam posisi menunggu laporan dari PSSI. Namun, sampai hari ini, PSSI tidak punya program yang jitu, untuk menggelar event sekaliber sepak bola Piala Dunia, setelah INAFOC diresmikan. Seharusnya, yang paling mudah itu, menuangkan semua isi dunia turisme, di 10 kota yang sudah siap di presentasikan ke FIFA.

Bagi mBah Coco, Piala Dunia itu, adalah turisme. Bagi negara Indonesia, FIFA U-20 World Cup 2021, adalah event raksasa, sekaligus ingin memperkenalkan, semua tentang Indonesia, dari A sampai Z. Sudah nggak penting lagi, bicara partai demi partai pertandingan, yang akan digelar di enam kota. Eventnya hanya 20 hari.

Sampai hari ini, ada 10 stadion, yang disiapkan untuk dipresentasikan FIFA, adalah Stadion Gelora Bung Karno (80.000 penonton), Jakarta. Stadion Patriot, Bekasi (30.000), Wibawa Mukti, Cikarang (30.000), Pakansari, Cibinong (30.000), Si Jalak Harupat, Soreang (27.000), Mandala Krida, Jogjakarta (45.000), Manahan, Solo (18.000), Gelora Bung Tomo, Surabaya (50.000), Kapten I Wayan Dipta, Gianjar (22.000), serta Gelora Sriwijaya, Palembang (23.000).

Jika, versi mBah Coco, yang mengacu pada event Piala Dunia, adalah turisme atau pariwisata. Maka, pilihannya, adalah GBK Jakarta, Wibawa Mukti, Cikarang, Mandala Krida, Jogjakarta, Gelora Bung Tomo, Surabaya, Kapten I Wajan Dipta, Gianjar, Bali, dan Gelora Sriwijaya, Palembang.

GBK Jakarta, mewakil ibukota, Cikarang mewakili Jawa Barat, Mandala Kridia Jogjakarta, mewakili Jawa Tengah dan sekitarnya, GBT Surabaya mewakili Jawa Timur, Gianyar Bali, mewakili “surga dunia” sekaligus Indonesia Timur, dan Gelora Sriwijaya mewakili pulau Sumatera.

Oleh sebab itu, versi mBah Coco, PSSI sudah wajib membuat blue-print tentang dunia pariwisata. Dari masalah bandara, jalur kereta api, transportasi darat, jalan tol, ring road, stadion, tempat latihan, rumah sakit, hotel bintang kelas tiga (untuk suporter), sampai bintang lima. Dan, lokasi periwisata yang paling indah, beserta transportasi dan akomodasinya.

Informasinya, harus super detail. Dari jarak bandara ke hotel, jarak hotel ke tempat latihan, dari hotel ke stadion. Serta semua jarak lokasi tempat-tempat keindahan pariwisata, yang ada di sekitar kota, yang nantinya dipilih FIFA. Tentunya, semuanya sudah digarap, khususnya portal Indonesia, sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20.

mBah Coco, nggak bisa bayangin. Jika, nanti ada 23 negara, dari enam benua, Eropa (5 negara), Afrika (4 negara), Amerika Utara (4 negara), Amerika Latin (4 negara), Asia (4 negara), serta Asia Pasifik (2 negara). Ujug-ujug besok-besok ada dari 23 negara telepon ke PSSI, yang menerima plt Sekjen PSSI, Yunus Nusi.

Mereka menanyakan, tentang hotel bintang lima, yang private? Tanya lapangan untuk latihan tim, dan tanya menu makanan apa saja? Serta, bertanya informasi transportasi, pesawat, kereta, jalan darat? Lha, Yunus Nusi, nggak paham dunia pariwisata. Belum tentu, Yunus Nusi, sudah pernah ke salah satu kota yang dipilih FIFA, sebagai tuan rumah? Dan, yang terakhir, Yunus Nusi, sepertinya nggak paham bahasa Inggris.

Atau, ternyata presiden sepak bola Spanyol, atau Sekjen PSSI-nya Spanyol mau tau banyak tentang kota yang akan dijadikan homebase tim dan ofisial, selama FIFA U-20 World Cup 2021. Misalkan, di sekitar Stadion Wibawa Mukti, Cikarang. Yang ditelepon Iwan Budianto, sebagai Ketua INAFOC. Dengan pertanyaan yang sama, seperti saat telepon Yunus Nusi?

Jika itu terjadi di bulan depan sapai akhir tahun 2020 nanti. Bagaimana wajah Indonesia, di mata mereka? Karena, Iwan Budianto, ketua INAFOC dan Sekjen PSSI, Yunus Nusi plegak-pleguk nggak ngerti bahasa Inggris. Dan nggak ngerti apa yang ditanya dan diinginkan para tamu negara Indonesia itu.

Arinya, sebelum Jokowi ketuk palu, meresmikan struktur organisasi INAFOC, alangkah baiknya Menpora Zainuddin Amali, segera ambil alih INAFOC, agar Jokowi merasa tidak malu, dan minder.

Masih ingat, ketika Jokowi, akhirnya memilih Erick Thohir, sebagai ketua INASGOC, kepanitaan Asia Games 2018 lalu. Alasan Jokowi, sangat sederhana saat menunjuk Erick Thohir. Di mata IOC – organisasi olimpiade dunia, dan OCA organisasi olimpiade Asia, mengenal Erick Thohir, dengan track recordnya.

Lha, kalau nanti, ketua INAFOC-nya itu Iwan Budianto, yang sudah tersandung banyak kasus, atur mengatur skor. Dan, sampai hari ini, tidak ada update yang dikerjakan. Bagaimana, kata dunia? Bagaimana Jokowi bisa setuju dan mengakui, serta percaya?

Makanya, mumpung Jokowi belum marah dan sebel banget dengan PSSI, alangkah baiknya Menpora Zainuddin Amali, segera ambil alih, dan segera mencari solusinya. Serta mendapatkan sosok-sosok calon pemimpin sepak bola U-20 di Indonesia, yang memang pantas menjadi ketua INAFOC.

Dan, saran mBah Coco, alangkah baiknya, Zainuddin Amali yang menjadi ketuanya. Sama dengan posisi Ketua KOI, yang akhirnya sebagai ketua INASCOG, Erick Thohir. Dan, kemudian Zaenuddin, menemukan orang-orang kababel, jujur, jago bahasa Inggris, dan punya nama baik di depan Jokowi, untuk menjalankan kepanitiaan.

Kesalahan fatal PSSI, adalah setelah Ratu Tisha, mengundurkan diri dari Sekjen PSSI, Iwan Bule, justru hanya memilih plt. Padahal, Sekjen PSSI itu, super sentral, dalam menjalankan roda organisasi. Namun, sampai tulisan ini diturunkan, Iwan Bule, tidak punya calon, kecuali adik iparnya. Padahal, nggak tahu apa-apa, soal organisasi dan keuangan sebuah lembaga, bernama PSSI. Hancur…Minnaaaaaaa !!!

Mudah-mudahan tim Istana, setelah membaca ini, langsung koordinasi dengan Menpora, Zainuddin Amali.(Penulis adalah wartawan olahraga senior peliput sepakbola.yang kini mengklaim sebagai Pemred Facebook).

TINGGALKAN KOMENTAR