PSSI itu dibawah FIFA atau dibawah Pemerintah Indonesia? Kalau, dibawah FIFA, maka jika punya masalah, punya kendala, dan nggak punya uang, harus lapor ke FIFA. Contohnya, FIFA U-20 World Cup 2021, yang akan digelar di enam kota di Indonesia mendatang, harus laporkan ke FIFA. Bukan, malahan lapor ke Pemerintah Jokowi. Apa kata dunia?

Dari sini, mBah Coco, menilai, bawah PSSI dibawah “kursi panas” Iwan Bule dkk, benar-benar sontoloyo, dan nggak punya malu. PSSI jika butuh dana timnas, untuk multi-event, seperti SEA Gamas, Asian Games dan Olimpiade. Jika, sepak bola tim nasional Indonesia, tidak ikut dari salah satu event dibawah Internasional Olympiade Committee (IOC), maka anggaran tak bisa dikucurkan.

Tapi, kalau event-nya hanya tunggal, milik FIFA, maka aturan mainnya, etika organisasinya, adalah meminta bantuan ke FIFA. Dan, FIFA pasti akan menyetujui dan mempertimbangkan dengan cepat. Apalagi, Indonesia dipastikan tahun 2021, menggelar Piala Dunia U-20. Pertanyaannya, mengapa PSSI tidak minta ke FIFA? Jangan-jangan PSSI punya “dosa” terhadap FIFA, sehingga dana tak diturunkan?

Namun, 11 Juni 2020 lalu, plt Sekjen PSSI, Yunus Nusi, wakilnya Maaike Ira Puspita, dan Direktur Teknik PSSI, Indra Sjafri, menghadap Menpora yang diwakili Gatot Dewa Broto. Tujuannya, meminta bantuan dana dari pemerintah, untuk pelatnas tim nasional, dibawah asuhan Shin Tae-yong, pelatih asal Korea Selatan.

Dari sini, mBah Coco, sudah menilai bahwa PSSI dibawah Iwan Bule, benar-benar sangat memalukan. Kalau, tak mampu menggalang dana sendiri, di event FIFA. Iwan Bule, cuman punya dua pilihan. Jika minta bantuan ke FIFA, hanya untuk menjadi penyelenggara, maka dana cepat keluar. Tapi, kalau untuk pelatnas tim nasional Indonesia, dijamin mBah Coco akan ditolak FIFA.

Beruntung, pemerintah masih berhati baik. Bahwa, silahkan membuat anggaran pelatnas tim nasional, di mana saja, dan berapa yang diminta? Semuanya, akan dituruti pemerintah. Maklum, Indonesia juga sangat berharap, tak mau dibuat malu oleh dunia, saat jadi tuan rumah. Gara-gara pelatnas tim nasional Indonesia, tak mampu mempersiapkan skuad terbaiknya. Gara-gara PSSI tak punya uang.

Sayangnya, dari hasil investigasi mBah Coco, laporan keuangan permintaan PSSI, menggelar pelatnas tim nasional U-20, sangat amburadul. Kalau tidak mau dikatakan, seperti laporan keuangan sekelas RT-RW. Dan, semua hitungannya, sangat kacau-balau, banyak ngarang-ngarang anggaran.

mBah Coco maklum. Yunus Nusi itu penggangguran, dan tak punya latar belakang organsiasi sepak bola. Mana mungkin, bisa buat anggaran? Maaike Iea Puspita, adik iparnya Iwan Bule, nggak jelas latar belakang di lingkungan sepak bola. Ujug-ujug diangkat jadi wakil Sekjen PSSI. Mana mungkin paham manajemen dan keuangan? Apalagi, Indra Sjafri, yang sepanjang hidupnya, berkutat di lapangan, tak pernah di balik meja organisasi.

Pasukan organisasi manajemen dan keuangan PSSI, yang tidak paham, tentang dunia organisasi. Minta ke Menpora, agar bisa cepat-cepat bisa ditanggulangi, dan anggran segera dikeluarkan.

Mana mungkin, negara yang sedang terguncang pandemi Covid-19 ini, ujug-ujug mengeluarkan dana pelatnas timnas U-20 dengan cepat? Mana mungkin, pemerintah mau keluarkan dana bantuan ke PSSI, jika metode membuat hitung-hitungan anggaran pelatnas, sangat kampungan, kelas RT-RW? Emangnya pemerintah Indonesia, punya nenek moyangnya Iwan Bule dkk?

mBah Coco, jadi teringat menjelang Kongres Tahunan PSSI di Bali, awal 2019. Edy Rahmayadi, sebagai Ketua Umum PSSI, diminta sebagian anggota EXCO PSSI, untuk mencari dana Rp 165 miliar, agar PSSI bisa bayar hutang-hutangnya. Yaitu, hutang ke klub-klub Liga 1 dan 2 Indonesia 2018, hutang ke pihak pembuat siaran langsung, hutang ke pelatih asing, dan hutang-hutang individu seperti La Nyalla Mattalitti.

Edy Rahmayadi, sepertinya sedang dibuai-buai atau dikudeta secara “halus”. Menurut sebagian anggota EXCO PSSI, ada dua pilihan, jika masih tetap ingin menjadi Ketua Umum PSSI. Edy diminta cuti, sebagai ketum PSSI, sampai Kongres PSSI, 2 November 2019. Atau Edy diminta mengundurkan diri. Mantan Pangkostrad, yang baru terpilih pemenang sebagai Gubernur Sumut, tapi belum dilantik Jokowi, akhirnya memilih mengundurkan diri.

Era Iwan Bule dkk, sebetulnya mirip dengan nasib Edy Rahmayadi. Contohnya, saat Cucu Somantri, sebagai Direktur Utama PT Liga Indonesia Baru. Padahal, belum bekerja dan belum menghasilkan apa-apa, dipaksa mengundurkan diri. Dengan alasan yang dibuat-buat, oleh sebagian anggota EXCO PSSI.

Seharusnya, anggota EXCO PSSI, juga berani membuat statment dan keputusan, bahwa Iwan Bule, sebagai Ketua Umum PSSI, ternyata tak mampu membangun kepercayaan publik. Tak mampu menggalang dana. Tidak dipercaya oleh pemerintah, bahkan pelit banget keluar duwit dari kantongnya sendiri.

Maka, saran mBah Coco, pejabat seperti Iwan Bule, sangat panatas dilengserkan, dan dinyatakan tidak dipercaya oleh semua pemilik suara, dan diputuskan oleh EXCO PSSI, untuk segera menggelar Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI. Karena, benar-benar sangat memalukan, akibat tak mampu menggalang dana.

Bagi mBah Coco, PSSI itu sudah bangkrut, saat dipimpin Iwan Bule. Organisasi yang berdiri sejak 19 April 1930 ini, tak boleh dinilai bangkrut, hanya gara-gara ketua umumnya, tak becus menjadi pemimpin.

Sedangkan, seharusnsya organisasi PSSI, wasih tetap harus bergulir. Maka, caranya hanya satu. Turunkan Iwan Bule secepatnya. Selain memalukan, tak punya dana untuk pelatnas. Juga, ngemis-ngemis anggaran di tempat yang salah. Bukan minta ke FIFA, malahan mengemis ke pemerintah.

Mau dibawah ke mana sepak bola “Garuda Merah Putih”?(Penulis adalah wartawan olahraga senior peliput sepakbola.yang kini mengklaim sebagai Pemred Facebook)

TINGGALKAN KOMENTAR