Bridge Indonesia beruntung bisa memanfaatkan dua pelatih bridge ternama di dunia, pertama Eric Kokish asal Kanada dan Kryzstov Martens asal Polandia. Kedua pelatih ini dikenal sebagai pelatih terbaik dunia saat ini. Karena Negara yang dilatih mereka umumnya bisa meraih prestasi bagus.

Kokish melatih tim nasional Indonesia pada tahun 1997-1998. Ia datang ke Indonesia bersama keluarga. Karena isterinya Beverly Kraft juga seorang pemain bridge kawakan maka ia diminta membantu menangani pemain-pemain muda. Sedangkan Kryzstov dating melatih timnas Indonesia untuk Asian Games 2018.

Penulis beruntung bisa mengikuti pelatihan kedua pelatih kelas dunia ini dalam posisi berbeda. Pada waktu dilatih Eric Kokish penulis masih berstatus sebagai pemain dan sekarang sebagai pelatih. Tapi dalam perjalanan kemudian malah diminta menjadi pemain berpasangan dengan M Bambang Hartono.

Gaya melatih keduanya tidak banyak berbeda, namun konsentrasinya saja yang sedikit berbeda. Eric Kokish memprioritaskan penanganan partnership terutama menyangkut Sistim, konvensi dan agreement yang digunakan.

Sementara itu Kryzstov Martens lebih mengutamakan kemahiran “dummy play” dan defense walaupun itu ia tidak melupakan pembenahan sistim dan konvensi.Eric Kokish menganggap semua yang sudah masuk pelatnas pasti sudah menguasai teknik declarer play dan defense yang mumpuni.

Sementara Kryzstov Martens memberikan masukan-masukan agar pemain bisa menguasai sekitar 500an motif yang sering muncul dalam permainan demikian juga dengan defense.
Ia ingin semua pemain konsentrasi penuh saat mulai penawaran sehingga sudah bisa mengambil kesimpulan dengan apa yang terjadi di meja.

Selanjutnya dengan telah menguasai banyak motif dalam permainan maka pemain akan bisa lebih cepat mengambil keputusan. Keuntungan apa yang bisa ditarik dari sini? Semakin cepat anda memainkan kontrak yang anda capai maka kesempatan lawan untuk berpikir lebih jauh dipersempit.

Keuntungan kedua, anda telah menghemat enerji sehingga bisa dimanfaatkan pada kesempatan lain. Kuasailah lapangan, jangan hanya terpaku dengan bidding kita sendiri. Perhitungkan ketika lawan bereaksi saat bid, saat lead dan saat defense.

Dia memberikan contoh, sebagai professional ia diajak bermain oleh seorang pemula di salah satu turnamen di Mesir. Partnernya seorang ibu yang tidak pernah menghitung point. Ia akan buka 1D dan rebid 2C dengan 11 HCP atau 21 HCP sehingga kita sulit mengambil keputusan.

Suatu papan ia pegang 6 HCP dan partnernya buka 1D dan ia respons 1S kemudian partnernya bid 2C. Normalnya ia akan pass tapi ia memperhatikan kedua lawannya setelah buka kartu langsung menutupnya. Berdasarkan informasi diatas ia mengambil kesimpulan bahwa keduanya paling banyak pegang masing-masing 6 atau 7 HCP. Berdasarkan informasi itu ia bid 2NT dan partnernya bid 3NT. Kontrak bikin 5 karena partnernya ternyata pegang 21 HCP.

Penulis juga punya pengalaman yang sama sekitar 20an tahun yang lalu ketika partner invite 3S, saya ingin bid 4S. Tapi karena disebelah kanan saya mengambil waktu berpikir yang cukup lama setelah 3S, maka saya batalkan niat saya. Kenapa? Karena dari reaksi pemain tersebut sepertinya ia ingin double kontrak 3S. Benar kontrak 3S saja mati 1.
Hal kedua yang kami dapat adalah “bidding like a music”.

Selama ini pemain Indonesia dikenal sebagai pemain yang malas dalam bidding. Beberapa tahun yang lalu hal ini sempat dibahas pada satu majalah bridge terbitan luar negeri. Hal yang dibahas adalah ketika pasangan Indonesia hanya berhenti di game karena tidak mau memanfaatkan kesempatan untuk mengetahui lebih lengkap pegangan pasangannya.

Dalam pelatihan Kryzstov Martens, ia meminta para pemain agar mau melakukan penawaran seperti ketika kita menikmati music.Lakukan dengan irama yang terpadu, jangan terburu-buru. Bidding itu seni lanjutnya.

Tapi ingat satu hal yang perlu dijiwai dalam bidding, bid seakurat mungkin jika punya peluang untuk bid slam. Tapi ketika hanya bid game, bid secepatnya, hindari informasi yang tidak perlu buat lawan. Karena itu dalam beberapa konvensi yang dianjurkan agar kita bid “kamuflase” atau tidak memberikan banyak informasi ke lawan.(Penulis adalah pemain dan pemerhati bridge)

TINGGALKAN KOMENTAR