Bisa dibayangkan, jika satu cabang. Misalkan, cabang Dayung, dengan jumlah atlet paling banyak, setiap pelatnas. Setiap atletnya, dipotong Rp 100 ribu oleh Deputi IV Menegpora, yang dijabat Chandra Bhakti, untuk penginapan, transportasi, akomodasi dan tetek bengeknya. Maka, sehari sudah kantongi Rp 12 juta. Kalikan saja, jika ada pelatnas satu tahun?

Ini salah satu, permainan Deputi IV, yang sudah berlangsung sejak jaman Imam Nahrawi. Dan, ini salah satu, permainan tidak saja Deputi IV. Tapi, juga permainan beberapa oknum, yang saling terkait jabatannya, dibawah Kuasa Pengguna Anggaran (KPA), Gatot Dewa Broto. Atau juga, memiliki kerjasama diluar lembaga Menegpora.

Istilah “CashBack”, terbiasa terdengar, jika ada di sekitar lingkungan Deputi IV Menegpora. Dan, perbuatan tercela inilah, yang terendus pihak Kejaksaan, untuk kembali membuka “borok-borok” lembaga Menegpora, saat menggelontorkan dana bantuan ke KONI Pusat, sejak 2017 lalu. Ketika, ada lebih dari 100 saksi, dipalsukan tandatangannya, oleh gank “kartel” Deputi IV.

Ada kata-kata Chandra Bhakti, yang diinvestigasi mBah Coco. “Selama GDB sebagai sesmen, saya duduk dimana pun posisinya, maka saya aman,” ujarnya. Kalimat tersebut, terkesan oleh mBah Coco, sangat jumawa, takkabur dan mudah jadi “bumerang”. Makanya, Menpora, Zainuddin Amali, walaupun sudah atau belum melantik struktur organisasi Menegpora, alangkah baiknya, berpikir panjang. Agar, tidak terjadi, seperti Imam Nahrawi.

Dari hasil investigasi mBah Coco, ada 60 cabang olahraga, yang dikelola Deputi IV, saat dimulai Januari hingga September 2017, total kurang lebih, dari hasil “CashBack”, untuk 807 atlet, 318 ofisial, setiap bulan, dana yang dikeluarkan, untuk kepentingan penginapan saja, mencapat Rp 16 miliaran. Hitung saja, dari Januari hingga September 2017. Laporan ini didapat mBah Coco, dari manajer akomodasi, bukan dari cabor-cabor, bro !!!

Hasilnya, sangat fantastis, yaitu CashBack-nya, jika dihitung kurang lebih, sekitar Rp 15, 5 miliar, hanya 10 bulan. mBah Coco, dapat angka-angka yang diambil Deputi IV, selama 10 bulan, tahun 2017. Januari 1.419.432.196. Februari 2.194.170.072. Maret 2.322.336.495. April 2.095.842.915. Mei 2.259.304.335. Juni 1.452.340.000. Juli 1.089.270.000.
Agustus 1.195.150.000. September 1.600.350.000. Totalnya Rp 15.628.196.013.

Yang menjadi pertanyaan besar mBah Coco, kok mereka tega banget ya? Karena, hasil investigas, ternyata lembaga Deputi IV Menegpora, jika mau mengambil CashBack, tidak pernah lewat proses transfer. Tapi, langung ambil duwitnya di TKP. Ada hasil CashBack dari pelatnas disabel pun, ditekan harga hotelnya, hanya untuk kepentingan CashBack.

Sempat kepergok oleh wartawan teman mBah Coco, saat Deputi IV membawa bawaan tas besar, dari hasil CashBack di bandara Solo. Namun, sepertinya, para bandit-bandit “tikus kelapa” lembaga Kementrian Pemuda dan Olahraga, tetap nyaman dan tak pernah gentar. Hanya, ada kong-ka-li-kong, antara deputy dan atasannya. Hehehehe

Jaman Menpora Imam Nahrawi, permainan terbelah menjadi dua. Gank Menpora bermain dengan staf khusus atau staf ahlinya. Sedangkan, Deputi IV, yang bertugas di Bidang Prestasi, ikutan menjadi “Sarang Penyamun.”

Nikmat bener duwit negara, hanya buat segelintir manusia-manusia bejat, karena yang dikorbankan adalah para atlet-atlet yang membawa nama besar negara dan bangsa, lewat “Merah Putih”. Namun, diperlakukan sebagai manusia-manusia “Sapi Perahan.”

Pihak Kejaksaan Agung, sudah memiliki data-data yang sama dengan versi mBah Coco. Komunitas olahraga nasional sangat berharap, bahwa Jaksa Agung dan bawahannya, untuk tidak “Masuk Angin”. Beberapa atlet yang diajak ngobrol dengan mBah Coco, berharap Menpora Zainuddin Amali, masih bisa berubah pikiran.

mBah Coco, sebagai pencinta olahraga, hanya berharap, jika lembaga Deputi IV, sudah dipilih oleh Menpora Zainuddin Amali. Maka, jangan sungkan-sungkan segera dibuang dan diganti. Namun, kalau belum dipilih. Maka, segera dibuang jauh-jauh.

Karena Deputi IV menurut mBah Coco, adalah “Ladang Benalu”, yang lebih genting lagi, merugikan dan menghambat prestasi para atlet wakil negara dan bangsa. Uang negara dikelola dengan cara-cara kotor, jatah atlet dikemplang, kejaksaan sudah punya bukti. Tapi, malah dipilih oleh Menpora, Zainuddin Amali.

Tahun 2021 nanti ada hajatan besar untuk bangsa dan negara. Hanya untuk single-event, bernama FIFA U-20 World Cup 2021. Biaya penyelenggara sudah diketok palu oleh Komisi X DPR RI, kurang lebih Rp 600 miliar. Harapan mBah Coco, Zainuddin Amali, jangan kecolongan. Atau, jangan juga pura-pura kecolongan?

Bijimane? (bersambung).mBah Cocomeo/TOR-08

TINGGALKAN KOMENTAR