Maria Lawalata saat menerima penghargaan dari Persatuan Wanita Olahraga Seluruh Indonesia (PP.Perwosi)yang diserahkan langsung oleh Ketua Umum PP.Perwosi Nyonya Tito Karnavian di Aula PTIK Jakarta. Foto/Olii

Pada tanggal 3 Desember 1991 adalah momentum yang tak bisa dilupakan oleh seorang Maria Lawalata. Pasalnya pada hari Kamis itu, perempuan kelahiran Jakarta,  9 Januari 1967 ini mencatat sejarah merebut medali emas nomor lari marathon SEA Games XVI 1991 Manila,  Filipina.

Medali emas Maria Lawalata memang layak dicatat dalam sejarah perjalanan olahraga Indonesia di ajang SEA Games. Medali emasnya itu menjadi penentu kontingen Indonesia  pertahankan gelar juara umum pada pesta olahraga terbesar antarbangsa se-Asia Tenggara itu.

Filipina menjadi tuan rumah SEA Games yang digelar pada 24 November sampai 3 Desember 1991 dengan mempertandingkan 28 cabang olahraga ini berambisi besar menggeser Indonesia dari tahta pemegang gelar juara umum.

Sebelum lomba lari marathon putri digelar, posisi perolehan medali antara Indonesia dan tuan rumah Filipina sama-sama mengantongi 91 medali emas. Sebagai tuan rumah, Filipina berambisi besar untuk menjadi juara umum.

Medali emas Maria Lawalata jelang penutupan SEA Games 1991 itu semakin melengkapi prestasi manis tim sepakbola yang juga sukses merebut medali emas dan kedigdayaan cabang olahraga judo yang nyaris sapu bersih medali emas. Sebagai catatan, judo merebut 10 dari 12 medali emas yang diperebutkan.

Posisi akhir perolehan medali antara Indonesia dan tuan rumah Filipina pada SEA Games 1991 itu adalah Indonesia peringkat atas dengan torehan 92 medali emas, 87 perak dan 69 perunggu. Sementara tuan rumah Filipina harus puas di urutan kedua dengan mengumpulkan  91 medali emas, 61 perak dan 95 perunggu.

Maria Lawalata anak ke-6 dari 9 bersaudara dari pasangan C.A.B Lawalata (ayah) dan Charlotta (ibu) sebetulnya bukan diproyeksikan merebut medali emas untuk nomor lari marathon putri  ini. PB.PASI waktu itu lebih mengandalkan Suryati yang sebelumnya menguasai lomba lari  marathon putri tingkat nasional.

Namun tekad dan kemauan keras Maria Lawalata mengantarkannya menjadi pahlawan kontingen Indonesia di SEA Games 1991 Manila, Filipina. Suryati sendiri  yang justru diunggulkan tak bisa menyelesaikan lomba karena mengalami keram perut menjelang kilometer kilometer 11.

Bagi Maria Lawalata,  prestasi itu adalah sebuah proses dan bukan datang begitu saja. Ia pun harus jatuh bangun dan berjuang keras untuk bisa menapaki tangga puncak termasuk medali emas SEA Games 1991 ini.

Maria yang mengenal atletik sejak usia 12 tahun itu ikut SEA Games sejak tahun 1983 Singapura, 1985 Bangkok, Thailand, 1987 Jakarta, 1989 Kuala Lumpur, Malaysia. Kehadiran seorang pria anak yatim piatu, Untung Waluyo yang kost di rumahnya itu ternyata membuat Maria Lawalata tertarik menjadi atlet.

Pada 2 Februari 1979 tepat di usianya jelas 12 tahun Maria mendaftarkan diri di perkumpulan atletik UMS Jakarta yang berada di kawasan Senayan. ‘’Saya mulai berlatih atletik di bawah asuhan dokter gigi Endang Witarsa dan Kak Leliyana Candra Wijaya. Di UMS Jakarta itulah Maria mulai rajin latihan setiap minggu 3 kali  ditambahan latihan di rumah juga 3 kali dalam seminggu,’’kata pemilik tinggi badan 151 yang kini menjadi Nyonya Sunyoto, mantan atlet marathon.

Meski baru latihan dua bulan, Maria sudah menempati posisi ketiga lomba lari tingkat SD mewakili  pada 100 tahun RA Kartini. Sebelum sekolah pagi, jam 4.30 sudah latihan. Meski kehidupan kami pas-passan, saya melakoni latihan dengan penuh suka cita.

Untuk menambah uang ongkos dan jajan serta latihan di Senayan, Maria harus bekerja menemani orang kaya yang anaknya seorang putri namanya Rini. Rini ini hanya cocok bermain dengan Maria saja. Rini memang tak cocok bermain dengan tetangga rumahnya. Demi  mendapatkan uang tambahan, Maria jalani asja menemani Rini. Lama kelamaaan orang tua Rini ingin membeli Maria dengan menjadi adik kandung Rini. Maria dibeli orang tua Rini Rp.3 juta.

‘’Pada saat itu Papa setuju tetapi Mami tidak setuju, terpaksa saya ikut menemani orang tua Rini. Saya merasakan bahagia tinggal bersama orang tua Rini, Ibu Nimat beliau kerja di Pertamina. Maria diperlakukan seperti anak kandung sendiri . Saya diperlakukan seperti Rini, anak kandung mereka dibelikan macam-macam,’’papar ibu dari dua anak, Ines dan Andre itu.

Perjalanan hidup Maria memang penuh perjuangan, setelah beberapa tahun tidak tinggal serumbah dengan kedua orang tuanya, Maria sempat ikut,  ayahnya  pindah dinas ke Palembang, Sumsel. Maria diajak sebentar, lalu kembali ke Jakarta dititip sama ponakan ayahnya yang lain, sudah sepuluh tahun menikah tapi belum dikaruniai anak.

‘’Walaupun rumahnya kecil tapi Maria merasa bahagia karena dimanja dan dihibur seperti anaknya sendiri. Tiga tahun kemudian Papa kembali dinas di Jakarta dan tinggal bersama Mami dan kembaran saya Magdalena.Kadang-kadang saya ke sekolah membawa kue jajanan tetangga untuk dijual seperti panada, dadar gulung dan lain-lain. Kue jajanan yang saya bawa laku dibeli sama teman-teman sekolah dan guru-guru. Lumayan untuk menambah ongkos latihan di Senayan, kata Maria mengenang masa kecilnya itu .

Ketika di SMP  bakat Maria sudah mulai terlihat, dia yang sekolah di SMP 109 Jakarta itu sudah menjadi juara marathon di Jakarta. Bahkan Maria sudah sering keluar negeri seperti Singapura, Malaysia, Jepang dan Korea mengikuti open marathon. Masuk sekolah pun bisa dihitung  selama sebulan.

Memang ada beberapa guru yang tak mendukung  kiprah Maria sebagai atlet. Namun Maria tidak pernah mengadu kepada kedua orang tuanya. Dan tanpa sepengetahuan orangnya tuanya pun Maria kemudian berinisiatif pindah ke SMP 128 di Skadron Cililitan Jakarta Timur.  Di sini karirnya berkembang karena bisa latihan dengan nyaman sampai lulus.

Selepas SMP, Maria  mendaftar di sekolah SMA 67 di Halim Perdana Kusumah Jakarta tapi kemudian  pindah ke SMA Swasta Darma Bakti. Di sana Maria selalu disayang  sama guru-guru dan kepala sekolahnya sampai lulus walaupun harus sering bolos meninggalkan sekolah demi mengejar prestasi olahraga.

Bagi Maria medali emas SEA Games 1991 itu bukan hanya menjadi kebanggaan pribadi tapi juga keluarga terlebih lagi orang yang paling berjasa dalam karirnya di atletik yakni dokter gigi Endang Witarsa dan Lelyana Chandra Wijaya.

Kedua orang inilah yang menjadikan Maria hebat dan mampu memberikan  kebanggaan untuk bangsa dan negara. ‘’Saya tak pernah melupakan jasa keduanya, waktu Pak Endang Witarsa saat meninggal pun saya berada di sisi beliau.Sementara dengan Kak Lelyana Chandra hubungan saya sudah seperti orang tua. Sampai sekarang pun hubungan saya dengan Kak Lelyana masih intens. Saya lebih banyak menyambangi rumahnya di kawasan Cibubur.

Dua tahun sebelum merebut medali emas monumental di SEA Games 1991, Maria Lawalata sudah kerja di Bank Dagang Negara pada tahun 1989. Ada sedikit cerita ikhwal saya bisa kerja di Bank Negara itu, awalnya saya ingin kerja di Diknas Bengkulu untuk mewakili daerah itu di PON 1989.

Gubernur Bengkulu kemudian memberikan pernyataan di media setempat bahwa Bengkulu punya atlet tangguh dari cabang olahraga atletik nomor lari marathon. Pernyataan Gubernur Bengkulu itu ternyata diketahui oleh Gubernur DKI waktu itu Wiyogo Atmodarminto. Wiyogo terkejut mendengar khabar itu dan tidak setuju kalau Maria Lawalata sampai ikut daerah lain di PON 1989.

Akhirnya Ketua Pengda PASI DKI,  Sriyatna yang juga Direktur Bank Dagang Negara bersama Maria menghadap Wiyogo untuk menyampaikan keinginan kerja di Bank Dagang Negara.’’  Saya menjalani tes sebagaimana bisa di Bank Dagang Negara dan lulus,’’urainya.

Sriyatna yang juga adik ipar mantan Kapolri Jenderal  Polisi (Purn) Anton Sujarwo itu di mata Maria, orangnya sangat perhatian sama atlet berprestasi sampai-sampai masalah urusan tali sepatu pun tak luput dari perhatian beliau.

Karena Pak Sriyatna meninggal maka posisi Direktur Bank Dagang Negara digantikan Pak ECW Neloe yang juga sudah almarhum.  Neloe juga salah satu pembina cabang atletik di Pengda PASI DKI. Neloe kemudian dipindahkan ke Bank Mandiri dan Maria pun diajak pindah kerja di Bank swasta nasional itu.

‘’Pada era reformasi, Pak Neloe dipensiunkan karena ada masalah ‘’politik’’ . Kami semua karyawan yang mantan atlet praktis kehilangan bapak angkat sehingga tidak bisa mendapat kesempatan untuk berprestasi di dalam bank tersebut.

Suasana kerja di lingkungan Bank Mandiri pun sudah tidak sehat, ada semacam kecemburuan sosial  dengan mereka yang bukan berlatarbelakang atlet  dan mantan atlet. Pada saat Maria menjadi salah satu pembawa obor SEA Games 2011 Jakarta-Palembang dengan membawa nama sponsor Bank Mandiri semakin membuat karyawan lainnya tidak suka sama saya,’’tambahnya.

Namun itu kenangan indah Maria Lawalata 29 tahun silam. Ibu dua anak ini kini mendekam di sel tahanan Polres Jakarta Utara karena terlilit hutang piutang dengan salah seorang Pamen Polri.senilai Rp150 juta.

Sejak 8 Juni 2020 lalu Maria dikrengkeng dalam tahanan Polres Utara sembari menunggu proses hukum lanjutan yakni pengadilan.Pihak keluarga Maria Lawalata dalam hal ini suaminya, Sunyoto sudah menyampaikan kasus ini ke Kemenpora pada 22 Juni 2020.

Kemenpora melalui Sesmen Gatot S Dewa Broto melayangkan surat permohonan kepada Kapolres Jakarta agar ada pertimbangan hukum yang bisa membebaskan Maria dari jeruji besi tahanan.

Dalam surat itu dijelaskan bahwa Maria Lawalata adalah pahlawan olahraga Indonesia di SEA Games 1991 Manila. Selain itu pihak keluarga sudah siap menyanggupi pelunasan hutang piutang tersebut

Alih-alih menggubris surat permohonan dari Kemenpora, Polres Jakarta malah memperpanjang masa tahanan Maria Lawalata selama 30 hari.Kini Maria Lawalata dibuat tak berdaya.Ia bagaikan “bebek yang lumpuh yang.harus dibunuh”.(Suharto Olii)

TINGGALKAN KOMENTAR