Banyak yang inbox dan japri ke mBah Coco, sebetulnya lanjutan kompetisi Liga 1, 2 dan 3 Indonesia 2020 ini,untuk kepentingan persepakbolaan nasional, atau untuk pembinaan, ataukah untuk segelintir orang-orang yang sudah lama berkecipung di bisnis sepak bola nasional?

mBah Coco mencoba investigas ke lorong-lorong PSSI dan PT Liga Indonesia Baru (LIB). Masih ingat dengan alat-alat siaran langsung dan streaming, kamera dan alat-alat lainnya, untuk siaran langsung Liga 1 dan 2 selama ini? Alat-alat ini, sudah di investasikan oleh Glenn Sugita (pemilik Persib Bandung) dan Pieter Tanuri (pemilik Bali United), dengan nama usahanya Kreasi Karya Bangsa (KKB).

PT LIB sejak lahir 2008, tak pernah investasi alat-alat kamera dan turunannya, untuk kegiatan sepak bola. Sejak lahir, awalnya, menggunakan alat dan kru ANTV. Namun, sejak 2016, setelah PSSI dibekukan pemerintah dan FIFA. Glenn dan Pieter berani investasi. Agar, PT LIB bekerjasama dengan lembaga yang mengelola alat-alat siaran langung.

Sejak itulah, PT LIB menyewa atau bekerjasama dengan KKB, untuk masalah siaran langsung, sampai hari ini.

Yang jadi pertanyaan, PT LIB, musim Liga Indonesia 2019, masih berhutang sekitar Rp 80 miliar kepada KKB. Dan, saat menjelang Dirut LIB, Mayjen TNI (Purn) Cucu Somantri, dipaksa mundur oleh gerombolan “kartel baru” milik Ketua Umum PSSI, Letjen Pol (Purn) Mochamad Iriawan, alias Iwan Bule, sempat membayar separoh hutangnya sekitar Rp 40 miliar. Artinya, LIB masih hutang Rp 40 miliaran, kepada KKB.

Musim Liga 1 Indonesia 2020, PT LIB sudah melakukan kontrak baryu kepada KKB. Namun, sampai terhenti kompetisi Maret 2020, belum sepeser pun, pembayaran musim ini, bias disalurkan ke KKB. Karena, PT LIB dan PSSI, terlanjur bangkrut.

Informasi yang didapat mBah Coco, Pieter Tanuri, sangat ngotot, agar lanjutan kompetisi Liga 1 Indonesia 2020, yang terhenti sejak pekan ke-3. Segera bisa dilanjutkan, hinggak pekan ke-34, tanggal 1 Oktober 2020.

Walaupun, masalah pandemi Covid-19, masih tetap stabil melanda wilayah-wilayah Zona Merah, di Jawa. Sepertinya, PSSI cenderung ngotot tetap bisa dilanjutkan, ketimbang masalah kemanusian, dan tentunya masalah profesionalisme, dalam kompetisi liga profesional. PSSI abaikan profesionalisme 18 klub anggotanya. Hanya, untuk kepentingan bisnis oknum PSSI. Sangat menjijikan.

Versi mBah Coco, ketika suasana bathin, suasana bangsa dan negara dalam kondisi prihatin, saat mengalami pandemi virus Corona. Masih saja ada, lembaga milik Pieter Tanuri, cari untung. Maklum, alat-alat canggih untuk siaran langsung dan streaming itu, dipastikan busuk dan rusak selama di gudang, tidak digunakan.

Tetapi, mengapa PSSI melakukan pembiaran, untuk mendahulukan dan mementingkan alat-alat benda mati, seperti kamera dan turunannya. Ketimbang, memikirkan Sumber Daya Manusia (SDM) di lingkungan sepak bola?

Seharusnsya, PSSI lebih jernih, lebih cerdas, dan lebih mementingkan masa depan manusia-manusia yang ada di lingkungan sepak bola. PSSI takabur, hanya mikirin program jangka pendek. Ini ciri-ciri khas, para penguasa yang doyan dan berambisi bercokol di PSSI, tapi kosong wawasannya.

mBah Coco, nggak bayangin, jika PSSI tetap ngotot melanjutkan kompetisi Liga 1 Indonesia 2020, hanya untuk kepentingan mafioso yang dibangun Pieter Tanuri, dan “kartel baru” milik Iwan Bule. Akhirnya, sampai awal tahun 2021, dampak Covid-19 tak mereda, tapi justru semakin mewabah.

Maka, dampaknya FIFA ada kemungkinan curiga, jangan-jangan Indonesia, tak siap menjadi tuan rumah FIFA U-20 World Cup 2021. Karena, tak konsisten menghadapi Covid-19. Padahal, Piala Dunia U-20, adalah kebanggaan Jokowi, sebagai presiden di jamannya. Dan, tentunya sangat mengecewakan pencinta bola di Tanah Air, menikmati event kelas dunia di depan publiknya sendiri.

Jika, negara dan pemerintah dianggap, tidak peduli dengan Covid-19. Maka, FIFA mudah mengubah jadwal. Atau, bisa saja dibatalkan event Piala Dunia U-20 di Indonesia.mBah Cocomeo/TOR-06

TINGGALKAN KOMENTAR