JAKARTA-(TribunOlahraga.com)

Ada lima (5) syarat yang diminta sponsor utama PSSI, untuk menggulirkan Liga 1 dan 2 Indonesia 2020. Pertama deklarasi, kedua bagaimana bentuk eventnya, ketiga siapa saja klub yang ikut, keempat di kota mana saja, jika berlangsung home turnamen atau lanjutan kompetisi, kelima mengapa sampai hari ini, tak ada jadwal?

Lima syarat yang diminta sponsor, sampai tulisan ini diturunkan, tak bisa dijawab PSSI. Hal itu terjadi, setelah PSSI melakukan pertemuan dengan para sponsor. Salah satu syarat yang diminta PSSI, bahwa kompetisi dipastikan tetap berlanjut. Dan, PSSI meminta panjer termin ke-2, dari kontrak PSSI dengan para sponsor, sebesar 20%. Januari 2020 lalu, termin pertama, sudah diturunkan 20%, namun kompetisi dihentikan.

Dari hasil investigasi mBah Coco, nilai kontrak total PSSI dan PT Liga Indonesia Baru (LIB) dengan para pihak, total nilai Rp 470 miliar. Para sponsor, sudah menggelontorkan 20%, atau sekitar Rp 80-an miliar, sebagai pembayaran termin pertama. Namun, minggu lalu, PSSI minta lagi 20% sebagai termin kedua.

Namun, jawaban para sponsor, apakah PSSI bisa memberi kepastikan lima (5) syarat yang diminta. Syarat pertama, PSSI sudah menjawab, bahwa lanjutan kompetisi Liga 1 dan 2 akan bergulir 1 Oktober 2020. Tapi, syarat kedua, ketiga, keempat dan kelima, PSSI tak bisa menjawab. Bagaimana bentuk event lanjutannya? Siapa saja pesertanya? Dan, menggunakan sistemnya apa? Mengapa jadwal tidak berani di sosialisakan?

PT LIB dan PSSI, dari hasil matematikan mBah Coco, jika menggulirkan lanjutan kompetisi. Minimal, harus ada dana Rp 13 sampai 15 miliar, untuk subsidi anggta Liga 1. Dan, sekitar Rp 8 miliar, untuk subsidi Liga 2. Sekitar Rp 5 miliar, untuk operasional kru PT LIB, serta Rp 4 miliar untuk perangkat pertandingan.

Pusing, tak bisa menjawab para sponsor dengan pasti, dan terkesan sekadar wacana. Pasukan “kartel baru” dibawah Iwan Bule, coba cari akal-akalan lagi. Siapa tahu, MolaTV, sudah lupa saat ditipu Iwan Budianto menjelang Kongres PSSI, 2 November 2019.

Dari hasil curi data, mBah Coco, nemu angka kontrak PSSI dengan MolaTV, perlaku tiga tahun. Nilainya, kurang lebih Rp 450 miliar. Tugas PSSI, menyediakan delapan pertandingan tim nasional senior, empat partai U-23 dan sampai ke U-29. Serta, menggelar Liga Wanita. Kompensasinya, MolaTV wajib ambil semua siaran langsungnya.

Pertengahan 2019, Iwan Budianto, sebagai pengganti Ketua Umum PSSI, Edy Rahmayadi Imengundurkan diri), dan kemudian Joko Driyono (tersangka), minta dana awal Rp 100 miliar. Janjinya Iwan Budianto, Rp 40 miliar, kompensasi menggelar tim nasional, sesuai kontrak. Namun, Rp 60 miliar disebutkan, sebagai dana kampanye sampai Kongres PSSI, 2 November 2019. Padahal, saat deal kontrak, Iwan Budianto, masih dapat masuk kantong sendiri, sebagai succes fee, sebesar Rp 8 miliar.

Minggu lalu, Iwan Bule dan gerbong ‘kartel”-nya, coba cawe-cawe manajemen MolaTV, untuk gelontorkan anggaran Rp 50 miliar, sebagai termin kedua, sesuai kontrak. Tapi, apa jawaban MolaTV? Lha, PSSI masih berhutang empat (4) partai tim nasional senior, yang belum mampu digelar PSSI. Mosok, sekarang minta hutang baru….heheheheh

Salah satu kelemahan mendasar Iwan Bule dan kawan-kawan. Karena, dari sononya, nggak paham sepak bola. Maka, dipastikan oleh mBah Coco, juga nggak paham filosofi sepak bola itu sendiri. Baik membangun pembinaan prestasi, maupun sebagai intusi bisnis.

Kalau mBah Coco, jadi Iwan Bule, maka prioritas utamanya, ketika PSSI nggak punya duwit, alias bangkrut. Maka, semua kontrak-kontrak berjalan, wajib dijalankan sendiri oleh Iwan Bule, jangan diwakili siapa-siapa. Karena, “striker” PSSI, yang bernama Rudy Kangdra, bendahara PSSI dan direktur bisnis PT LIB, sampai hari ini, tak mampu melebarkan umpan-umpannya ke berbagai sudut. Mungkin, karena kepalanya pitak kaleeee?

Dampak dari grubyak-grubyuknya Iwan Bule dan kawan-kawan, mencari dana, dan seolah-olah bisa meyakinkan para sponsor. Maka, dampak dari gerakan tanpa bola pasukan “huru-hara”-nya Iwan Bule. Yang jadi korban utamanya, 18 klub anggota Liga 1 Indonesia 2020.

Sejak PSSI mengumumkan kompetisi dihentikan sebagai “force majeuer”, sampai hari ini. Masalah “force majeuer” belum dihentikan. Namun, PSSI keluarkan instruksi, bahwa kompetisi Liga 1 akan dilanjutkan dari partai ke-3 sampai ke 34, pada 1 Oktober 2020.

PSSI dan PT LIB, tak pernah mengeluarkan jadwal resminya. Bagaimana bentuknya kompetisi atau “home tournament”? Siapa saja pesertanya? Apakah ada klub yang mundur?
Jika sistem kompetisi, apakah benar tidak ada ada degradasi?

Tapi, PSSI malahan mengeluarkan aturan yang ditujukan ke 18 klub anggota Liga 1 Indonesia 2020, agar membayarkan gaji ke pemain, sebesar 50%. Dan, juga menyiapkan gaji-gaji berikutnya, sampai menjelang 1 Oktober nanti. Kasihan banget, klub-klub anggota Liga 1 jadi “sapi perahan”, yang belum tentu menghasilkan susu.

Pertanyaannya, PSSI dan LIB saja, tak mampu membuat aturan main Liga 1 Indonesia. Tak mampu membujuk para sponsor ikutan lanjutan kompetisi. Tak mampu dapat uang dari MolaTV. Tapi, yang keluar di media mainstream, atau pun di portal-poratl Sudah merasa yakin dan optimis, bahwa lanjutan Liga 1 Indonesia 2020, pasti digelar. Karena, sudah mendapat ijin dari Satgas Covid-19.

Vietnam yang “zero” matinya, akibat pandemi Covid-19, berani memberhentikan kompetisinya. AFF Zusuki Cup, yang seharusnya digelar 23 November hingga 31 Desember 2020 mendatang, sudah diputuskan AFC, untuk ditunda tahun 2021. Lha, kok PSSI dengan “kartel” barunya, masih ngotot ingin melanjutkan kompetisi. Apa kata dunia?

Sayangnya, PSSI masih doyan nipu-nipu anggotanya. Beruntung, semua klub anggota Liga 1 Indonesia, doyan dan nyaman ditipu, kecuali Persebaya Surabaya.mBahCocomeo/TOR-06

TINGGALKAN KOMENTAR