Prolog proposal yang disampaikan ke Nirwan Bakrie, pertengahan Januari 2009, adalah bagian dari curhat Nirwan Bakrie, melihat situasi dan kondisi PSSI, yang simpang siur akibat statuta PSSI, belum ada ‘lampu hijau’ dari AFC dan FIFA, di mana harus menunggu sampai April 2009.

Artinya, saat gagasan naturalisasi, yang digagas mBah Coco, sebetulnya hanya untuk mengantisipasi, jika AFC dan FIFA menolak Statuta PSSI. Otomatis, posisi Nurdin Halid diujung tanduk, dan dipastikan tak boleh menjadi ketum PSSI. Jika itu terjadi, April 2009 harus ada Kongres Luar Biasa PSSI.

Kami berempat, memberi input, saat diajak diskusi bersama Nirwan Bakrir, sebagai teman. Dan, kami memiliki tugas masing-masing, ketika NDB panggilan Nirwan, menerima gagasan, untuk meriset naturalisasi, yang pertama kalinya. Jika nantinya bisa direstui pemerintah, menjelang berangkat ke Belanda,

Kami berempat, terdiri dari, M. Nigara, sebagai jembatan, agar Nirwan konsisten dan berkomitmen, Dedy Reva Utama karena punya tim dokumentasi di ANTV, untuk posisi Yesayas Oktavianus, punya jaringan temen-temen di Belanda, serta mBah Coco, tugasnya standart. Yaitu,’pembuat konsep, coy !!!.

Januari 2009 itu, kondisi PSSI sedang genting-gentingnya. Di luar PSSI, ada grup raksasa siap ambil alih kartel PSSI di bawah Nirwan Bakrie. Masalah naturalisasi, tidak ada urusan dengan prestasi tim nasional. Pasalnya, saat itu tim nasional, baru melakukan pelatnas untuk Pra Piala Asia, Asia U-19 dan SEA Games Desember 2009.

Nirwan legowo menyatakan, “Kalau bisa dapat 6 pemain, sudah bagus, asal mau jadi warga negara dan siap jadi pemain nasional Indonesia. Serta jangan main di kompetisi lokal, biar mereka tetep main di liga Belanda,” tutur Nirwan.

mBah Coco ngotot, bahwa jika ke Belanda, bisa mendapat 12 – 30 pemain keturuan dan berdarah Indonesia, dari berbagai usia, dari semua suku, sesuai kebutuhan tim nasional. Untuk yang usia dini, remaja sampai yang instant sebagai tim senior bisa didapat dengan mudah.

Alasan yang diterima Nirwan, naturalisasi bisa dijadikan proposi kampanye Nirwan Bakrie sebagai kandidat Ketum PSSI, gantikan Nurdin Halid, jika tidak diterima statuta PSSI oleh AFC dan FIFA.

Saat itu, Nirwan tidak menjawab, ya atau tidak jadi ketum PSSI. Tapi setuju, gagasan mencari alternative, untuk mendukung motivasi masyarakat sepak bola nasional, jika ada naturalisasi. Di dalam negeri punya dampak positif, lebih giat membina dan membentuk kompetisi usia dini.

mBah Coco, memberi gambaran kepada Nirwan, secara psikologis masyarakat Indonesia ini sebagai bangsa “Melayu” adalah bangsa pemalas, dan bisa maju kalau dilecut dan diberi motivasi bisa sukses, jika yang memberi instruksi itu orang asing.

Contohnya, saat Wiel Coerver pegang Iswadi Idris dkk tahun 70-an, dan kemudian saat Anatoli Polosin saat SEA Games 1991.Di banyak cabang lainnya juga sering terjadi, jika ada pelatih asing biasanya lebih sukses.

Jika pihak pemerintah Indonesia keberatan, dengan undang-undang keimigrasian masalah status kewarganegaraan yang double, bisa diajukan pemerintah untuk di revisi, agar mereka tetap optimis dan tertarik jadi pemain nasional, tanpa harus menghilangkan kewarganegaraan. Setelah bergulat diskusi, selama sebulan dengan Nirwan, mBah Coco berangkat ke Belanda, 15 Februari 2009.

Bagi mBah Coco, ini pekerjaan baru. Ke Belanda, bareng M. Nigara, Yesayas Oktavianus, Reva Deddy Utama.

Tiba di Schiphol, Amsterdam, dijemput pemandu kami, selama di Belanda. Dan, sudah dijadwal untuk bertemu pemain maupun orang tuanya, ataupun pemilik klub. Salah satunya adalah Atilla Tjahyono, putra pertama dari Antonius Tjahyono (PSIS Semarang), mantan bek kiri Tunas Inti Galatama dan Tim Nasional Indonesia.

Saking semangatnya, 16 Februari 2006 setibanya di Amsterdam, kami sudah dijadwalkan oleh pemain-pemain ‘naturalisasi’ yang berdarah Maluku, bersama orang tuanya di Ultrech. Padahal saat itu, harusnya kena jet-leg, namun sorenya, kami siap ke Ultrech untuk diskusi dengan pemain yang siap bergabung dengan tim nasional Indonesia.

mBah Coco dari Jakarta, sudah menyiapkan kostum Adisad tim nasional, serta DVD yang isinya , partai Indonesia vs Korea Selatan, di Piala Asia 2007. Motivasi mBah Coco, agar mereka mengetahui, bahwa sepak bola Indonesia sudah seperti itu, dengan dukungan 80 ribu penggila bola. Dan, Indonesia hanya 0 – 1 atas Korsel.

Intinya, dalam diskusi misi dan visi dari mBah Coco dfan kawan-kawan bersama perwakilan pemain. Bahwa, banyak pertanyaan dari orang tua pemain. Dimana kesimpulannya adalah. 1. Bagaimana dengan kewarganegaraan. 2. Bagaiman jaminan di tim nasional. 3. Bagaimana kontrak pemain dengan klub dan tim nasional Indonesia. 4. Apa bentuk kompensasi negera Indonesia terhadap pemain. 5. Apakah bisa punya dua kewarganegaraan. 6. Bagaimana prestasi tim nasional Indonsia saat ini. 7. Siapa pelatih nasionalnya. 8. Kapan mulainya dan bla bla bla?

Perjalanan perdana, mencari naturalisasi, sempat dikabari oleh tim pemandu, bahwa tim raksasa calon lawan Nirwan Bakrie untuk menguasai PSSI, sudah mengutus Bob Hippy ke Den Haag, untuk hal sama.

Bedanya, tim calon lawan Nirwan Bakrie ini head to head dengan pejabat-pejabat Indoesia, di keduataan Belanda. Sedangkan pasukan kopassus mBah Coco dkk, langsung ke grass root. Jadi kami semakin bersemangat, setelah para calon pemain ikutan bersemangat. Bahkan, para orangtuannya, ikutan optimis, tentang naturalisasi, bisa terwujud.mBah Cocomeo/TOR-06

TINGGALKAN KOMENTAR