Jejak Charity Garuda Merah vs Putih, yang berlangsung 4 dan 7 Agustus 2020, di Malang dan Surabaya, masih meninggalkan bekas, yang tak pernah dilupakan. Khususnya, jejak mBah Coco, kepada keluarga Irfan Bachdim.

Ada perjanjian secara lisan, yang wajib dipenuhi mBah Coco, yaitu jika Irfan Bachdim, mau ikutan Charity, menghibur Lucky Acub Zainal dan Rusdy Bahalwan. Dengan catatan, mBah Coco, siap mengganti uang tiket Nouval (bapaknya) dan Irfan Bachdim. Saat itu, keinginan dan mimpi Irfan Bachdim, hanya ingin bisa bermain untuk tim nasional Indonesia.

Salah satu caranya, yaitu ikut pertandingan amal, Garuda Merah vs Garuda Putih, yang digelar mBah Coco dan kawan-kawan.

Ada pengalaman jelek, yang dialami Irfan Bachdim. Saat diseleksi Persib Bandung, Maret 2009. Nasibnya tidak beruntung. Karena, Irfan hanya di tes satu hari. Dan, dinyatakan tidak lulus manajemen Maung Bandung. Empat tahun sebelumnya, 2005, saat Tim Nasional U-23 pelatnas di Amsterdam, Belanda. Lagi-lagi Irfan Bachdim, dicoret timnas asuhan Bambang Nurdiansyah. Karena, dipaksa berlatih, dalam kondisi cedera.

Semangat, ambisi dan mimpi menjadi pemain nasional Indonesia, membuat mantan U-17 Ajax Amsterdam ini, tergiur untuk bisa datang lagi ke Jakarta. Dalam kondisi segar bugar. Kebetulan, bapaknya berteman di facebook dengan mBah Coco. Bapaknya, asli orang Malang, keturunan Arab, sedangkan ibunya Irfan, asli orang Belanda.

Komunikasi yang dilakukan Nouval Bachdim dengan mBah Coco, sangat intens, khususnya pada bulan Juni dan Juli 2010, khususnya, masalah tiket yang akan dibeli bapaknya. Untuk Amsterdam – Jakarta – Amsterdam. Dua tiket yang dibeli bapaknya Irfan, total 2 ribu Euro. mBah Coco, disuruh bayar separohnya saja. Yaitu 1000 Euro, jika Charity Games, menjelang selesai.

Sejak mendarat di Jakarta, Nouval Bachdim, ngotot banget, agar mBah Coco, jadi agennya Irfan Bachdim. Dan, sejak awal, mBah Coco selalu menolak. Karena, nggak pernah bisa jadi agen pemain. Begitu pula, bapaknya Kim Kurniawan, juga sangat berharap, mBah Coco, menjadi agen anaknya. Karena, kedua orangnya, buta soal jaringan sepak bola nasional.

mBah Coco, hanya berpesan, bahwa jika ada rejeki anak soleh. Event Charity Games Garuda Merah vs Garuda Putih, banyak pelatih dan asisten pelatih, nonton langsung, penampilan anak-anak muda tim nasional di televisi. Para talen nonton di Malang dan Surabaya. Pesan mBah Coco, tunjukan saja ilmu bolanya, dan cetak gol. Dijamin, dilirik klub-klub Indonesia.

Minggu, 7 Agustus 2010, sekitar pukul 21.00 malam, mBah Coco ditagih Nouval Bachdim, agar segera mengganti uang tiket pulang-pergi 1000 Euro. Karena, besok tanggal 8 Agustus, terbang ke Jakarta, dan malamnya pulang ke Amsterdam, Belanda.

Ada dua peristiwa, yang ujug-ujug harus diselesaikan mBah Coco, malam itu. Pertama, tim Panpel Surabaya, belum memberi fee kepada panitia Jakarta, dari 30 ribu penonton, partai Garuda Merah vs Putih, malam itu. Kedua, mBah Coco ditelepon Timo Scheunemann. Agar, bisa membawa Irfan Bachdim dan Kim Kurniawan, ke Malang, malam itu juga.

Alasan Timo, karena besoknya (Senin 8 Agustus 2010), kedua pemain yang sukses bermain di Charity Games, akan dikontrak Persema Malang. Saat itu, pengelola Persema Malang, walikota Malang, Peni Suparto. mBah Coco, juga diminta malam itu, bisa menganter Irfan dan Kim, ke Malang, dari Surabaya.

Konflik, agar semua masalah bisa selesai. mBah Coco, mencoba menyakinkan Nouval Bachdim. Bahwa, jika dana Panpel di Surabaya, segera dikirim ke pantia Charity, segera dibayarkan hutangnya. Sebaliknya, Nouval Bachdim, tak punya nyali, untuk menanyakan status Irfan Bachdim, yang malam itu “diculik” Timo ke Malang.

Begitupula, bapaknya Kim Kurniawan, hanya pasrah, ketika ngobrol di telepon dengan Timo, pake bahasa Jerman. Intinya, semuanya dalam kondisi “force majuere”. mBah Coco tak mungkin jadi agen. Bapaknya Nouval dan Kim, pasrah dengan mBah Coco. Sedangkan, Timo tak memberi kompensasi apa pun, saat memboyong Irfan dan Kim, kepada panitia Charity, maupun kepada kedua orang tuanya.

Jika saat itu, mBah Coco, punya kebiasaan jadi agen. Maka, malam itu juga, Irfan dan Kim tak mungkin bisa berangkat ke Malang, diantar Aang Kurniawan dkk. Karena, belum bicara kompensasi. mBah Coco malam itu, hanya senang, jika hasil Charity Games Garuda Merah vs Putih, melahirkan pemain yang siap dikontrak klub Persema Malang.

Intinya, malam itu, Nouval Bachdim ngambek dan marah kepada mBah Coco. Karena, mBah Coco terlambat membayar hutang tiket pulang pergi Amsterdam – Jakarta – Amsterdam. Sedangkan, malam itu, Nouval juga berangkat ke Malang, bersama suadara-suadaranya. mBah Coco, hanya berpesan, mohon sabar, karena Irfan Bachdim, diam-diam langsung kontrak dua musim dengan Persema Malang.

Sejak dikontrak Persema, manajemen Persema Malang dan pelatih Timo Scheunemann, tak pernah lagi mengubungi mBah Coco. Bahkan, di media cetak, ada berita-berita, bahwa yang membawa Irfan Bachdim dan Kim Kurniawan itu, manajemen Persema Malang. Bukan mBah Coco dan kawan-kawan.

Buat mBah Coco, cerita-cerita di-klaim, bahwa Irfan Bachdim dan Kim, berkat kerjasama manajemen Malang dan Timo, ya silahkan. Tapi, faktanya, Nouval Bachdim nagih hutangnya ke mBah Coco, sebesar 1000 Euro.

Bulan Oktober 2010, Irfan Bachdim dan Kim Kurniawan, datang dari Malang ke “Kandang Ayam”, setelah melakukan kontrak dengan manajemen Persema Malang. Dan, mereka berdua datang ke ‘Kandang Ayam:, memintah honor pertandingan, Garuda Merah vs Putih, sebesar Rp 3 juta, untuk Irfan dan Kim, yang saat itu, tak sempat dikasih kepada Irfan dan Kim.

Awal November 2010, mBah Coco ditelepon Iman Arief, ketua Badan Tim Nasional (BTN) PSSI. Menyakan status Irfan Bachdim, apakah pemain naturalisasi atau punya passport Indonesia? Karena, Alfred Riedl, pelatih tim nasional Indonesia, sedang memanggil pemain untuk seleksi AFF Suzuki Cup 2010. Salah satunya, Irfan Bachdim.

Ketika AFF Suzuki Cup berlangsung, nama Irfan Bachdim menjadi salah satu “icon” tim nasional, bersama Cristian Gonzales (naturalisasi). Bahkan, jersey timnas, laku keras dengan nama Irfan dan Gonzales. Sedangkan, pemain lokal yang membawa timnas masuk final, tenggelam haru-birunya nama Irfan dan Gonzales.

Selesai AFF Suzuki Cup, walaupun Indonesia hanya runner up. Tim nasional Indonesia, terlanjur melejit di awang-awang. Dua nama asing, yang selama ini, tak pernah nongol dalan sejarah dan jejak tim nasional Indonesia. Irfan Bachdim, orang asing berpassport Indonesia, sedangkan Cristian Gonzales, pemain naturalisasi.

Gemuruh dan gaung pemain nasional, tidak hanya sampai sebagai viral. Namun, banyak produk-produk nasional dan korporasi nasional, berduyun-duyun mengambil Irfan Bachdim dan Cristian Gonzales, sebagai model iklan. Keduanya laku keras tiap malam, bergantian produknya, sebagai model iklan di layar tivi.

Sejak itu, Nouval dan Rrfan Bachdim, tak lagi menagih hutangnya 1000 Euro ke mBah Coco. Namun, jika besok-besok masih ngotot nagih hutang mBah Coco. Maka, jawabnya hanya singkat. Mintalah kompensasi pergantian tiket Amsterdam – Jakarta – Amsterdam, ke manajemen Persema Malang.

Di hari ulang tahunnya ke-32, tanggal 11 Agustus 2020 hari ini. mBah Coco, hanya bisa mengucapkan, mudah-mudahan Irfan dan Jenifer serta kedua anakanya selalu sehat, dan jangan lupa bahagia.

Dari hati kecil mBah Coco, jika tidak ikut Charity Games Garuda Merah vs Garuda Putih. Belum tentu, dapat jodoh Jennifer Jasmin Kurniawan. Belum tentu, dapat uang berlimpah, sebagai model iklan lima tahun di Indonesia. Belum tentu nikmat main di Chonburi FC Thailand. Belum tentu dua musim main di Ventforet Kofu di Consadole Sapporo, di Jepang.

Bahkan, belum tentu, Irfan Bachdim, masih terpanggil Shin Tae-yong, pelatih asal Korea Selatan, dalam usia 32 tahun. Benarkan, Irfan Bachdim, semakin matang di usia senja, atau memang Shin Tae-yong butuh tenaganya, sebagai pemain senior, buat adik-adiknya?

Kemarin, mBah Coco japri Irfan Bachdim. Dan, ternyata doi masih kenal….dan ternyata tak teringat lagi, hutang 1000 Euro. Mungkin, sudah lupa, atau sudah dapat gantinya dari Persema Malang. Heheheheheehehhe.mBah Cocomeo/TOR-06

 

TINGGALKAN KOMENTAR