Ketika embrio perpecahan sedang berkecamuk, dalam sepak bola nasional. Mbah Coco mendapat kabar, bahwa kondisi dua tokoh dalam sepak bola nasional, semakin memprihatinkan. Yaitu Lucky Acub Zainal, salah satu kunci lahirnya Arema Malang, dan juga Rusdi Bahalwan, libero terbaik Persebaya Surabaya dan tim nasional Indonesia.

Awal 2010, mencoba memberi informasi, kepada teman-teman mBah Coco, di PSSI era Nurdin Halid, agar kedua legenda tersebut, bisa mendapat perhatian. Karena, kedua tokoh tersebut dalam kondisi yang sangat rawan atas kesehatannya.

Beruntung, mBah Coco, punya kawan-kawan, seperti Estu Ernowo, Franky Chandra, Bandung Saputra, Ian Alon Rajagukguk, karakter militan. Keempat kawan-kawan di facebook inilah, memberi dorongan dan motivasi, agar mBah Coco. bisa berbuat sesuatu. Minimal, memberi hiburan, kepada Lucky dan Rusdi, bahwa mereka berdua masih diperhatikan, dan akan tetap menjadi inspirasi bagi komunitas sepak bola nasional.

Kebetulan mBah Coco, sedang getol-getolan menulis apa saja, khususnya di sepak bola nasional, diakun facebook Cocomeo Cacamarica. Saat itu, dunia maya bernama facebook, benar-benar seperti surga. Karena, hobi doyan menulis, bisa tersalurkan, setelah media cetak di Indonesia, sudah tidak berminat mengajak mBah Coco, yang pernah menekuni dunia jurnalistik, sejak 1981, dan berhenti bekerja di media cetak 1998.

Estu Ernesto, sepertinya yang paling tertantang, jika mBah Coco, membuat sesuatu, agar bisa ikut mengerjakan. Oleh sebab itu, sambil iseng-iseng mencoba berkawan kepada banyak kawan-kawan. Khususnya pemain-pemain yang memiliki darah Indonesia, namun sedang ranum-ranumnya bermain di liga-liga Eropa, khususnya di kawasan Belanda, Belgia, Italia dan Jerman.

Bagi penggemar mBah Coco, mungkin pernah mendengar gagasan, mencoba mencari pemain yang bisa direkrut sebagai pemain naturalisasi. Bahwa, mBah Coco, menjadi salah pencetus, lahirnya pemain yang bisa di-naturalisasi. Mendata , meriset dan memburu pemain naturalisasi ke Belanda, Februari 2009.

MENAMBAH JAM TERBANG
Dari pengalaman mBah Coco, mencari pemain yang siap di-naturalisasi, akhirnya menawarkan gagasan kepada Estu, agar ikut terlibat langsung, jika bisa menggelar event bertajuk ‘Charity Games, Garuda Merah vs Garuda Putih’, di Malang dan Surabaya. Setelah Estu bersemangat, akhirnya Estu bertugas mem-breakdown para pemain muda berbakat Indonesia, yang pantas diundang, dan dijadikan dua tim Merah dan Putih.

mBah Coco, hanya memberi gambaran. Bagaimana caranya setiap pemain berbakat yang pantas masuk skuad tim nasional di masa depan, tertarik, berminat dan siap diundang datang ke Malang dan Surabaya. Estu berinisiatif, menentukan siapa-siapa saja yang pantas menjadi pelatih dari skuad Garuda Merah dan Garuda Putih. Oleh sebab itu, tugas Estu adalah menemukan semua nomer handphone, semua pemain dan pelatih, yang siap dan bersedia diundang.

Di facebook, mBah Coco berinisiatif membangun komunikasi penggila bola nasional, untuk ikut terlibat memilih pemain-pemain yang pantas tampil untuk menghibur Lucky Acub Zainal dan Rusdi Bahalwan. Gayung bersambut, pencinta bola Indonesia, ikutan memilih, dari para kiper, belakang, tengah, depan dan pelatihnya. Bagi mBah Coco, menggelar event ini, sebetulnya hanya menambah ‘jam terbang’ sekaligus belajar membuat event berskala nasional.

Di lain pihak, Ian Alon Rajagukguk, punya jaringan go-internasional yang bagus. Sehingga, dari chatting di facebook, Ian menemukan pemain-pemain yang bermain di luar negeri, tertarik ikutan bisa tampil di event charity (hiburan sekaligus bersosial). Dari banyak pemain yang berminat ikutan meramaikan acara ini, adalah Irfan Bachdim, Kim Kurniawan dan Alessandro Trabucco. Sebetulnya, di detik-detik terakhir yang sangat ngotot mau berangkat ke Indonesia, adalah Stefano Lilipaly.

Charity Games Garuda Merah vs Putih, sejak awal, benar-benar tidak punya dana, tidak punya persiapan, menggalang dana. mBah Coco, hanya punya jaringan, dan punya banyak temen. Jika siap ditekuni, dan semua yang diundang siap hadir. Maka, mBah Coco, siap-siap cari dananya. Begitu pula, jika pemain “bule” mau hadir, punya dana sendiri, silahkan ditunggu di Jakarta.

Jika tertarik datang ke Indonesia, dengan dana sendiri. mBah Coco menjanjikan, tiketnya akan dibayar di Jakarta.

Pemain yang diundang, tertarik datang ke Indonesia, dengan anggaran pribadi lebih dulu, hanya tinggal Irfan Bachdim bersama bapaknya, Nouval Bachdim. Sedangkan, Kim Kurniawan, yang dating ke Indonesia dari Jerman, bareng, bapak, ibu, kakak dan adiknya Kim.

Dari Allesandro, bapaknya ikut mendampingi. Mereka, rata-rata memiliki motivasi yang sama, selain berharap anak-anaknya, bisa dijadikan pemain naturalisasi oleh PSSI. Juga ingin mengunjungi negeri asal salah satu orang tuanya, yaitu Indonesia. Hanya Stefano Lilipaly yang sangat berminat, tapi tak punya dana untuk ke Jakarta.

Update Estu Ernesto, juga sangat positif. Dari semua pemain yang menjadi nominasi untuk diundang ke Malang dan Surabaya, rata-rata sangat siap. Bahkan, para pelatih nominasi, Jaya Hartono, Rachmad Darmawan dan Jacksen F Tiago pun, siap datang jika benar-benar Charity Games akan digelar.

Dalam kondisi yang sudah siap, mBah Coco, membutuhkan pasukan baru. Maka, ada saran-saran dari “tim militan”, agar bisa mengajak para wartawan yang mau bergabung dalam event bermisi sosial ini, sekaligus ikut menjadi pembrontak rezi Nurdin Halid. Dari para jurnalis, yang akhirnya bergabung, adalah Yon Moeis, Akmal Marhali, dan Abi Hasantoso.

mBah Coco, juga mencari event organizer (EO), yang bisa menggarap pagelaran sepak bola di Malang dan Surabaya. Dari Ian Alon Rajagukguk, mengajak Mang Juned, yang kebetulan sedang ‘camping’ di markas GILBOL Indonesia.

DONASI dan SPONSOR TIBA
Setelah secara teknis sudah lumayan lengkap, untuk bisa dikerjakan. Maka, tugas mBah Coco, mencari donasi dan sponsorship. Untuk bisa mendapatkan donasi dan sponsor, mBah Coco, mengundang ANTV, untuk bisa siarkan dua event secara langsung. Terbukti, cuap-cuap mBah Coco, ANTV siap siaran langsung di Malang dan Surabaya.

Merasa punya ‘lapak’ di ANTV, maka segera memburu donasi dan sponsor. CN kemudian melanjutkan kepada para sponsor yang biasa tertarik di event sepak bola nasional. Fatih Chabanto, agensi PT Djarum, gayung bersambut. Djarum siap memberi sponsorshipr Rp 75 juta. Abi Hasantoso, menawarkan Kacang Garuda, bisa berpartisipasi, dengan nilai Rp 75 juta.

Ricky Yacobi, sebagai salah satu, manajer marketing di produk apparel, sangat berminat untuk menyumbangkan produk SPECS, dalam bentuk t’shirt, dua tim warna merah dan putih. Dan, juga t’shirt latihan kedua tim, serta tas. Ada sponsor barter lainnya, ketika Entong Nursanto, pemilik TopSkor, bisa menyumbangkan buku panduan yang disiapkan Estu Ernesto, dicetak TopSkor. Bonusnya, berminat menyumbang uang ke Lucky Acub Zainal dan Rusdi Bahalwan.

Yon Moeis, tugasnya mencari donasi. Dari kantong pribadi, dapat Rp 150 juta. Andi Darusalam, menyumbang Rp 50 juta. Kedua tokoh ini menyumbang, karena niat dan tujuannya, menghibur dan mendonasi pemain, yang mengalami penderitaan berkepanjangan.
Iman Arif, ketua BTN PSSI, ikut menyumbang Rp 50 juta. Alasannya, pelatih nasional, butuh event untuk seleksi, untuk diterjunkan ke AFF Cup Desember 2010.

BUSYET, DILARANG POLISI
Menjelang event Charity Games berlangsung, tim “acakadabra” dari Rawamangun, Jakarta, mencoba mempersiapkan semaksimal mungkin. Mengurus transportasi dan akomodasi, serta bagaimana menyambut para pemain ‘asing’ yang diundang. Serta bagaimana menyiapkan semua yang terkait dengan urusan teknis pertandingan di Malang dan Surabaya, khususnya untuk tim panitia pertandingan.

Di Malang, mBah Coco, mendapat partner, Aang Kurniawan, yang bersedia menjadi panitia pertandingan (PanPel). Sedangkan, di Malang, setelah bolak-balik bersama Yon Moeis dan Abi Hasantoso, akhirnya Saleh Ismail Mukadar juga sangat bersemangat sebagai PanPel, Event ini, juga dijadikan kendaraan, menggugat dan mealwan PSSI di era Nurdin Halid.

Kedatangan Kim Kurniawan dan keluarganya, disusul kedatangan Irfan Bachdim dan Allesandro Trabucco. Ada kejutan yang tidak diperkirakan sebelumnya. Yaitu, mendapat respon positif bagi semua media cetak, on-line dan elektronik, untuk memberitakan event Charity Games Garuda Merah vs Putih.

Selama tiga hari di Jakarta, trio pemain asing Irfan, Kim dan Ale mendapat porsi pemberitaan yang luar biasa. Ada tiga program yang langsung tertarik mengundang ketiga ‘bule berdarah Indonesia’. Tampil di ‘Bukan Empat Mata’ Tukul Arwana, TransTV. Dan, dua kali tampil di program ‘Kabar Pagi’ dan ‘Pagar Malam’ TvOne.

Alessandro yang bisa bahasa sedikit-sedikit berbisik ke mBah Coco, “Dari datang sampai sekarang, saya belum pegang bola dan belum melihat lapangan. Saya ke Indonesia, untuk main bola, bukan jadi selebritis.” Hehehehehehe……..

Tiga hari di Jakarta, Ian Alon Rajagukguk dan Mang Juned, ditugaskan mBah Coco, sebagai ‘guide’. Berangkat ke Malang. Bandung Saputra dan Franky Chandra, siap-siap bertugas bagian apa saja, membawa alat-alat dan jersey kedua tim. Sedangkan, Estu, bekerja untuk memastikan, semua pemain yang diundang siap hadir di Malang dan Jakarta.

Anehnya, sampai di Malang, sehari menjelang digelar, yaitu tanggal 3 Agustus 2010, ada kabar dari Aang Kurniawan, bahwa ijin pertandingan acara event bertema sosial, tidak dikeluarkan oleh pihak Kapolda Jatim, Komjen (Purn.) Drs. Pratiknyo, S.H.

Karena mBah Coco didesask para wartawan-wartawan, agar berani melawan tetap menggelar, maka akhirnya CN tetap umumkan, agar pertandingan Garuda Merah vs Garuda Putih, tetap berlangsung 4 Agustus 2010, tanpa dapat ijin. ANTV terlambat 45 menit, saat tetap menggelar siaran langsung.

Pagelaran tanpa mendapat ijin, semakin membuat was-was. Karena, masih ada satu sisa partai di Surabaya, 7 Agustus 2010, menghibur keluarga Rusdi Bahalwan, di Stadion Bung Tomo, Surabaya. semakin ‘teka-teki’. Apakah tetap bisa digelar, atau justru batal sama sekali? Mengingat, mbah Coco sudah melawan kebijakan keamanan Polda Jatim.

Tanggal 6 Agustus 2010, mBah Coco, masuk kota Surabaya, bersama Akmal Marhali, sempat bertemu dengan Saleh Ismail Mukadar dan Cholid Ghoromah di Tunjungan Mall. Namun, sepertinya, kedua tokoh Persebaya Surabaya, juga menyerah, untuk mendapatkan ijin agar Charity bisa digelar.

Iseng-iseng, mBah Coco, menelpon Ipong Witono di Bandung. Dan, menanyakan, siapa jawara Surabaya yang bisa memberi rekomendasi ke Kapolda Jatim, agar event Charity tetap bisa digelar?

Dari balik handpone, Ipong menyarankan ketemu La Nyalla Mattalitti, yang saat itu sebagai Wakil Ketua KONI Jatim. Bahkan, mBah Coco disarankan segera menghadap La Nyalla, karena beliau menunggu kedatangan rombongan Charity.

Setibanya di kantor La Nyalla, mBah Coco, bercerita tentang misi dan visi menggelar Charity Games, adalah untuk menghibur keluarga Rusdi Bahalwan. Syukur-syukur bisa menyumbang uang.

La Nyalla menelpon Kapolda Jatim. Obrolan La Nyalla dan bapak Kapolda Pratiknyo, yang bisa di-speakerin di ruangan tersebut. Akhinya, La Nyalla menjamin, bahwa pertandingan Garuda Merah vs Garuda Putih, sekadar hiburan, dan dijamin tidak ada kerusuhan.

“Ok, mas Nyala, besok event silahkan bisa digelar. Tapi, mohon si Toro, event organizer pertandingan itu besok pagi menghadap saya. Karena, dia sudah melawan kebijakan saya sebagai Kapolda, saat tetap menggelar di Malang,” demikian pesan suara Kapolda, di teleponnya La Nyalla.

Walaupun, besoknya mBah Coco, harus menghadap Kapolda Jatim. Namun, sejujurnya sangat gembira happy banget. Atas kebaikan La Nyalla, pertandingan di Stadion Bung Tomo, Surabaya bisa digelar. Dan, puncaknya, 7 Agustus 2010, GBT menjadi event perdana sekaligus perawan ting-ting, saat Charity Garuda Merah vs Putih.

Ada sekitar 30 ribu masyarakat Surabaya, berbondong-bondong datang ke Stadion Bung Tomo. Selain ingin datang ke stadion yang masih ‘perawan’, juga ingin melihat pemain-pemain berbakat masa depan tim nasional, termasuk Andik Vermansyah, yang masih berusia 18 tahun saat itu.

KIM Dan IRFAN DITAKSIR PERSEMA
Dalam dua partai Charity Games. berlangsung di Malang dan Surabaya, ada yang tidak terduga dan tidak pernah terpikirkan oleh mBah Coco dan kawan-kawan. Bahwa, ada pemain yang langsung akan segera dikontrak, jika ingin bergabung dengan salah satu tim yang berlaga di Indonesia Super League (ISL).

Timo Scheunemann, pelatih Persema Malang, yang menyaksikan langsung pertandingan Garuda Merah vs Garuda Putih, di Stadion Gajayana, Malang 4 Agustus 2010, diam-diam sms ke mBah Coco. Dirinya tertarik Irfan Bachdim dan Kim Kurniawan. Kebetulan, Irfan mencetak gol, dan Kim memberi assist. mBah Coco menjawab, silahkan berhubungan langsung ke orang tuanya. Orang tuanya, semua datang di Malang. Juga menegaskan,bahwa mBah Coco, bukan agen pemain.

Ketika berada di Surabaya, setelah pertandingan siaran langsung disiarkan oleh ANTV. Lagi-lagi, Timo sms dan telepon. Apakah bisa difasilitasi, agar Irfan dan Kim bisa diantar ke Malang, dan mendapat ijin oleh bapaknya, untuk tinggal di Malang sementara, sampai proses kontraknya selesai.

Di lain pihak, orang tua Irfan, yaitu Nouval juga menyerahkan sepenuhnya kepada mBah Coco,, begitu pula bapaknya Kim Kurniawan, juga menyatakan terserah mBah Coco. Semua orangtuanya pasrah kepada mBah Coco. Busyet daghhh !!!

Malam itu, Timo ngotot minta tolong ke mBah Coco. Maka, meminta rombongan Panpel Malang, Aang Kurniawan dan kawan-kawan, setelah nonton di Surabaya, bisa mengantar Irfan Bachdim dan Kim Kurniawan ke rumah Timo di Malang. Hingga, akhirnya seminggu kemudian, Timo sms lagi ke mBah Coco, bahwa Irfan dan Kim resmi dikontrak Persema Malang.

Hanya ada satu ganjelan, yang membuat mBah Coco, kecewa kepada Timo Scheunemann. Bahwa, dalam etika ijin ambil mengambil pemain, memang tak perlu harus membayar fee kepada mBah Coco. Namun, seharusnya Timo dan manajemen Persema Malang, mengganti uang tiket pesawat Ifan Bachdim dan Kim Jeffrey Kurniawan.

Timo dan manajemen Persema Malang, harus mengganti semua biaya perjalanan dari Amsterdam – Jakarta – Amsterdam, untuk Irfan Bachdim dan bapaknya, serta harus membayar ongkos tiket pulang-pergi, Kim Kurniawan dan keluarganya, dari Frankfurt – Jakarta – Frankfurt. Kok, seolah-olah, Timo dan manajemen Persema Malang, seenaknya mendapatkan ‘durian runtuh’ dari langit.

Walaupun, ada pahit, getir, gembira dalam event Charity ini. mBah Coco dan kawan-kawan sebetulnya secara tidak sengaja, memberi ruang dan waktu, “perjodohan” antara Irfan Bachdim dan Jennifer Kurniawan, kakak kandung Kim Kurniawan. Mengapa? Karena, sejak berangkat dari Jakarta, saat diantar Ian Alon Rajagukguk dan Mang Juned, kedua insan ini sudah ada rasa saling membawa ‘bunga cinta’ dihatinya masing-masing.

Bahkan, selama di Hotel Santika, Malang, kedua insan cucu ‘Adam dan Hawa’ ini, sudah berduaan, berenang dan makan di hotel. Puncaknya, setelah kedua tim berlaga di Gajayana, Malang. Malamnya, mereka berangkat ke Surabaya. Lagi-lagi, kedua insan yang sedang dimabuk cinta,, duduk berduan, juga sepuas-puasnya ciuman di dalam perjalanan menuju kota Surabaya (demikian tutur Nouval, bapaknya Irfan).

Biarkan cerita-cerita Charity ini mengalir. Entah sampai kapan. Yang pasti, mBah Coco benar-benar sangat berterima kasih kepada Ferril Raymond HattuEstu ErnestoAang Kurniawan, Bandung Saputra, Franky ChandraIan Alon RajagukgukMang JunedHerna Jacqueline Christnatasha PardedeYon MoeisAkmal Marhali, Abi Hasantoso, Ipong Witono dan La Nyalla Mattalitti. Tanpa mereka, event charity ini hanya mimpi mBah Coco di siang bolong…….sekali lagi thanks berat.mBah Cocomeo/TOR-06

TINGGALKAN KOMENTAR