SAM Lantang berdiri terpaku. Diam sejenak dan, darahnya terlihat “mendidih” ketika saya menggodanya dengan pertanyaan yang, saya yakini tak mungkin ia jawab. “Oke, off the record ya,” kata Sam dan, seketika itu pula meledaklah tawa kami.

Pesan tidak boleh diumumkan itu, sebenarnya, bukan sebuah penekanan. Buat saya, membuktikan bahwa Sam Lantang tak pernah berubah yang, saya kenal sejak 1983. Manusia tanpa batas itu adalah senior yang saya kagumi, abang yang saya hormati, dan dia guru yang menyenangkan. Hatinya terbuka, lapang, dan dia yang selalu menghadirkan kehangatan-kehangatan.

Sami Leo Lantang – dia lahir di Manado, 15 Agustus 1950 – hari ini berusia 70 tahun. Pencapaian yang luar biasa dan saya melihat Sam Lantang yang gagah ketika Kamis lalu saya dan beberapa teman menyambangi kediamannya di kawasan Depok. Meski pernah terserang stroke, Sam masih sanggup mengimbangi “permainan” kami dengan celoteh-celoteh segar, termasuk pertanyaan di atas tadi yang, menggoda dan pasti mengusiknya.

“Semua mengalir saja, datang dari hati ini. Saya banyak teman, saya tidak punya musuh,” kata Sam ketika saya tanyakan kebahagiaan apa yang ia rasakan bisa mencapai angka 70.

Perjalanan jurnalistik Sam Lantang bisa dikatakan pendek karena hanya tiga media yang ia singgahi. Dua koran umum; “Proklamasi”, “Berita Yudha”, dan media olahraga; Mingguan “Bola”. Tapi, terasa begitu panjang ketika ia mengisinya dengan banyak nama, banyak tokoh yang kelak menjadi teman baiknya, sebut saja, (alm) Bob Hasan. Sam menyebut Mangombar Ferdinand Siregar ketika saya memintanya menyebut satu nama yang paling berkesan dari banyak tokoh-tokoh olahraga yang ia kenal.

“Indonesia beruntung memiliki MF Siregar dan saya ikut bangga,” kata Sam.

Nama Sam Lantang selalu dilekatkan dengan perjalanan olahraga Indonesia. Senior di “Kampus Tercinta” – ketika masih bernama Perguruan Tinggi Publisistik (PTP), sebelum menjadi Sekolah Tinggi Publisistik (STP)/IISIP – itu, adalah Ketua Siwo PWI Jaya (1983 – 1987, 1987 – 1991).

Saya bisa leluasa mengenal lebih jauh Sam Lantang ketika saya bergabung di “Bola” (1987 – 1989) dan menjadi bagian terkecil di mingguan olahraga itu. Begitu leluasanya, saya tak hanya mengenal Sam Lantang secara fisik, tapi juga hingga ke hati dan perasaannya.

Bang sam – demikian saya memanggilnya – adalah manusia pilihan yang tidak dijatuhkan dari langit. Saya menghormati dan mengaguminya ketika ia tak henti-henti merajut cinta untuk dan kepada siapa pun. Dan, saya ikut bangga dengan Sam Lantang yang telah menyimpan empat nama selama-lamanya di hatinya yang terdalam; Erny Prihati – wanita kelahiran Kediri yang setia mendampinginya – dan tiga buah hati mereka; (alm) Marhendra Yudhistira Lantang, Dian Aninda Lantang, Daud Lazarus Lantang. Ini semua, saya sebut sebagai perjalanan cinta yang tak akan pernah berakhir.

“Bang Sam, senior, guruku, happy birthday, sehat, dan tetap bahagia bersama orang-orang tercinta . Yon Moeis/TOR-08

 

TINGGALKAN KOMENTAR