Oleh : Bert Toar Polii

Bridge Base Online atau yang lebih dikenal dengan BBO dan Google telah merubah drastic pentas dunia bridge.Kalau dulu sebelum ada BBO dan Google maka yang akan muncul sebagai juara ya itu-itu saja atau dengan mudah bisa diprediksi. Hanya bisa dihitung dengan jari, Negara-negara yang mampu menjadi juara.

Tapi sekarang pemain baru yang bagus bisa muncul dari mana saja. Bahkan ada Negara yang awalnya terkenal sebagai ayam sayur bisa tiba-tiba muncul dengan tim yang kuat.
Contoh nyata yang kebetulan juga penulis alami, Singapura. Dulu setiap kejuaraan di Singapura baik itu Pesta Sukan atau Easter Congress, siapapun pemain yang dating dari Indonesia pasti dengan mudah akan keluar sebagai juara.

Tapi kemudian sekitar tahun 2009, beberapa pemain junior Singapura mulai aktif di BBO dan mencari lawan latih yang kuat. Keseriusan mereka ditanggapi Jimmy Cayne dari Amerika yang memberikan kesempatan untuk bertanding dengan timnya yang diperkuat beberapa pemain top dunia.

Sejak saat itu mereka maju pesat, diawali meraih medali perak di SEA Games 2011 kemudian bisa menang di dua turnamen besar di Indonesia, Gubernur Cup dan Gabrial UI Cup dan terakhir yang lebih spektakuler meraih medali emas Asian Games 2018 di Jakarta.
Selain itu mereka tidak ada kendala bahasa sehingga bisa melahap berbagai tulisan tentang bridge di Google yang bisa diunduh dengan gratis.

Untuk pemain yang punya masalah dengan bahasa sekarang dengan adanya Google Translate menjadi sangat tertolong. Selain itu ada beberapa fasilitas di BBO yang dapat dimanfaatkan untuk berlatih partnership terutama dalam bidding.

Di Kejuaraan Eropa nomor Mixed Team, Latvia dan Rumania muncul sebagai kekuatan baru yang mewakili Eropa di Kejuaraan Dunia Mixed Team di Wuhan China tahun 2019. Latvia malah meraih medali perak.

Selain kedua hal diatas, kemajuan teknologi juga sangat membantu. Dulu butuh waktu bertahun-tahun agar partnership bisa saling mengerti. Selain butuh waktu bertemu untuk diskusi juga mengikuti banyak pertandingan untuk latihan.

Sekarang kendala ini tidak menjadi hambatan. Untuk diskusi bisa langsung video call, chatting dan lain-lain. Untuk latihan bidding bisa langsung di BBO demikian juga untuk mencari lawan latih.

Walaupun demikian untuk menjadi pemain baik tetap butuh pengalaman bertanding offline karena bridge bukan olahraga matematika tapi banyak hal lain yang ikut mempengaruhi, seperti “table presence” atau psychologis dan kematangan menguasai emosi saat bertanding.

Akibatnya memang sering kita terkaget-kaget ternyata di online ada juga pemain yang cukup bagus, namun saat offline belum terlihat. Memang mungkin saat offline, mereka ada sedikit gugup terutama saat melawan pemain yang punya nama. Selain itu pemain berpengalaman bisa menyimpulkan sesuatu dari gerak gerik lawan terutama para pemain yang belum banyak pengalaman.

Hal ini tidak ada pada pertandingan online.Semoga kedepan PB Gabsi bisa menjaring talenta-talenta berbakat dari turnamen online untuk dibina dengan serius. Namun dengan banyaknya kecurigaan pemain terhadap permainan bridge online maka sebaiknya yang ditangani adalah para pemain terlebih dahulu.

Tanamkan jiwa sportivitas. Memang mengawasi dengan ketat juga cukup membantu seperti video call, zoom dan lain-lain, tapi selama jiwa sportif belum tertanam dalam jiwa pemain ada saja akal mereka untuk memperdaya.(Penulis dan pemerhati bridge).

TINGGALKAN KOMENTAR