Tatang Sulaiman bersama Pengprov ISSI yang mendeklarasikan pencalonannya sebagai Ketua Umum PB.ISSI, 27 Juni 2020 lalu di Bandung, Jabar, (Foto/ist)

Sudah hampir empat bulan lamanya, Ikatan Sport Sepeda Indonesia (ISSI) dilanda kemelut yang berujung dengan mosi tidak percaya dilakukan oleh para Pengurus Provinsi (Pengprov) terhadap Ketua Umum PB.ISSI Raja Sapta Oktohari (RSO).

Mosi tidak percaya yang konon disuarakan oleh 22 Pengprov ISSI itu dipicu oleh perangkapan jabatan RSO sebagai Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia (KOI). Meski perangkapan ini tidak diatur secara jelas dalam AD/ART PB.ISSI, para Pengprov tetap mendesak RSO mundur sebagai Ketua Umum PB.ISSI.

Selain tuntutan mundur, RSO juga didesak menunjuk pelaksana tugas (plt) Ketua Umum dengan tugas utama menyiapkan Munaslub memilih Ketua Umum PB.ISSI. RSO sendiri terpilih menjadi Ketua Umum KOI pada 19 Oktober 2019 di Hotel Gandaria City Jakarta.

Namun fakta membuktikan RSO masih mempertahankan posisinya sebagai Ketua Umum ISSI. Hingga kini pun RSO masih memposisikan dirinya sebagai Ketua Umum PB.ISSI dan tetap bergerilya mempengaruhi Pengprov baik yang masih setia dengan dirinya atau yang sudah ikut menandatangani mosi tidak percaya itu.

Dengan spirit ingin melakukan perubahan di ISSI yang tujuan utamanya perbaikan dan peningkatan prestasi balap sepeda Indonesia ke depan, para Pengprov ISSI yang kemudian mengatasnamakan dirinya Forum Komunikasi Pengprov ISSI se-Indonesia menggelar pertemuan di salah satu hotel di Bandung, Jabar pada 27 Juni 2020.

Forum yang mengklaim dihadiri 22 Pengprov (jumlah anggota ISSI ada 30 Pengprov) itu langsung mendeklarasi pencalonan Letjen TNI Tatang Sulaiman sebagai Ketua Umum PB.ISSI periode 2020-2024.

Mantan Wakasad ini sejatinya bukan orang baru dalam olahraga bersepeda di tanah air. Meski bukan atlet profesional Tatang Sulaiman tidak buta sama sekali.terhadap peta perbalapsepedaan di Indonesia. Diam-diam mantan Pangdam IV Diponegoro dan Pangdam Iskandar Muda ini mengikuti perkembangan balap sepeda Indonesia bahkan dunia.

Tatang Sulaiman pun langsung menyatakan kesiapannya dicalonkan sebagai Ketua Umum PB.ISSI periode 2020-2024. Deklarasi di Bandung itu tentu merupakan angin segar untuk terjadinya perubahan di tubuh PB.ISSI.

Hasil deklarasi tersebut kemudian dilaporkan sekaligus permohonan kepada KONI Pusat sebagai pijakan untuk menggelar Munaslub. Namun oleh KONI Pusat, surat permohonan itu dianggap salah alamat karena semestinya ditujukan langsung kepada PB.ISSI.

Awal kerumitan mulai dari sini di mana PB.ISSI tidak merespon surat deklarasi dari Forum Komunikasi Pengprov. Bahkan PB.ISSI memaksakan diri untuk menggelar Munaslub dengan ancar-ancar antara Desember 2020 ini atau Januari 2021.

Forum Komunikasi yang dimotori beberapa Pengprov sudah pasti menolak Munaslub versi ISSI karena ISSI pimpinan RSO sudah kehilangan mandat setelah ada mosi tidak percaya.Forum Komunikasi pun merancang berbagai persiapan menggelar Munaslub untuk mengantarkan Tatang Sulaiman menuju kursi nomor satu di ISSI.

Namun upaya untuk menggelar Munaslub versi Forum Komunikasi ini tak berjalan mulus kalau tak mau dikatakan sulit diwujudkan. Selain terkendala tidak adanya rekomondasi dari KONI padahal rekomondasi itu tak perlu karena KONI cukup mengetahui dan mengesahkan hasil akhir Munaslub juga ada hambatan eksternal.

Dalam Forum Komunikasi Pengprov itu sendiri belum solid terutama soal jumlah yang pasti tentang pendukung Munaslub. Jangankan berpedoman pada jumlah 22 Pengprov yang mendeklarasikan pencalonan Tatang, untuk mencapai angka aman 17 atau katakanlah 16 (50 plus 1) saja seperti mengalami jalan buntu.

Kondisi seperti ini jelas menguntungkan PB.ISSI, dan ini memaksa Forum bekerja keras untuk keluar dari ketidakpastian tersebut. Tampaknya upaya Forum mengantarkan Tatang Sulaiman menjadi Ketua Umum PB.ISSI, masih penuh tantangan.

Jika Tatang dianggap sebagai pembalap, ia masih harus melalui jalan penuh tanjakan dan berliku. Forum Komunikasi bisa memaksakan Munaslub dengan catatan Tatang harus siap frontal karena dipastikan pada Munaslub nanti akan gaduh.

Menurut orang-orang dekat Tatang, dirinya justru tak menginginkan kegaduhan dalam Munaslub. Tatang sendiri didampingi beberapa pentolan Forum Komunikasi Pengprov ISSI sudah melakukan pertemuan dengan Ketua Umum KONI Pusat, Marciano Norman.

Namun pertemuan yang sifatnya lebih mengarah ke silaturahmi itu tentu tak bisa dijadikan sinyal bahwa KONI Pusat mendukung pencalonan Tatang Sulaiman sebagai Ketua Umum PB.ISSI.

Apalagi menurut keterangan salah satu pengurus KONI yang tak mau disebutkan namanya, Marciano Norman juga masih menjaga perasaan (ewu pakewuh) dengan RSO.

Kini Forum Komunikasi Pengprov ISSI seperti berada di persimpangan jalan, apakah tetap dengan memaksakan Munaslub atau menunggu sinyal dari KONI yang sebetulnya tidak perlu itu ? (Suharto Olii)

TINGGALKAN KOMENTAR