BIASANYA setiap menghadapi sebuah pesta olahraga, apalagi yang namanya
sepakbola, hingar-bingar dan eforia di masyarakat sangat terasa menghiasi detak
kehidupan dan perbincangan sampai di warung kopi.

Mereka yang gila sepakbola menghangatkan pembicaraan mulai dari menyorot tim-tim favorit yang akan hadir, siapa yang bakal juara, sampai pada peluang tim tuan rumah untuk sanggup berbicara banyak, atau sekadar hanya sebagai pelengkap penderita. Mei-Juni 2021 adalah saat di mana Indonesia untuk pertama kalinya akan menggelar
hajatan terbesar sepakbola dunia, Piala Dunia U-20.

Enam venues telah ditetapkan dan disetujui oleh federasi sepakbola internasional (FIFA) untuk menggelar pertandingan yang diikuti 24 wakil dari enam zona, Asia, Oceania, Eropa, Amerika Selatan, Amerika Utara-Tengah, Afrika. Untuk menyukseskan kegiatan tersebut, pemerintah sudah mulai berbenah lebih serius setelah turunnya surat Keputusan Presiden (Keppres) dan surat Instruksi Presiden (Inpres) tertanggal 15 September 2020.

Sebagai Ketua Penyelenggara Kegiatan (INAFOC), adalah Menpora Zainudin Amali. Sedangkan Ketua PSSI, Mochamad Iriawan atau Ibul dipercayakan mengurus tim nasional agar mencapai prestasi minimal lolos babak penyisihan grup seperti yang diinginkan Presiden Joko Widodo.

Langkah-langkah nyata persiapan pemerintah, mulai dari infrastruktur, mendukung
persiapan tim nasional serta menyokong anggaran sudah berjalan. Anggaran bagi tim
nasional telah dikucurkan Rp 56 miliar, dan timnas saat ini berada di Kroasia
menjalani latihan.

Mengenai infrastuktur, menurut Zainudin Amali, akan dikebut dan diharapkan keenam stadion sudah diujicobakan pada bulan Maret 2021. “Saya dan pak Basuki (Menteri PUPR) sudah menetapkan di bulan Desember 2020 nanti akan kami turun bersama meninjau seluruh lapangan. Dan, kami berharap di bulan Maret 2021 semua lapangan sudah dapat diujicobakan,” kata Amali.

Namun, di balik keseriusan seluruh kementerian dan lembaga terkait yang akan ikut
menyukseskan penyelenggaraan Piala Dunia ini, menurut Amali, ada stadion yang
perlu penanganan serius untuk mencapai standard yang diinginkan FIFA.

Stadion yang dimaksud adalah Kapten I Wayan Dipta, Bali. Stadion yang menjadi
homeground-nya klub Liga 1 Indonesia, Bali United ini, butuh penanganan serius. “Kondisi stadion itu sendiri, jalan atau akses ke stadion dan enam lapangan latihan membutuhkan perbaikan dan pembangunan lagi,” kata Amali.

Sementara Stadion Gelora Bung Tomo (GBT), Surabaya yang tadinya diperkirakan
akan mengalami renovasi cukup serius, ternyata sudah tidak ada masalah. Akses jalan
ke stadion yang tadinya hanya ada satu jalan, akan dibangun lagi empat akses jalan
sehingga memudahkan dan mempercepat waktu menuju stadion.

Tiga stadion lainnya, Si Jalak Harupat Bandung; Manahan Solo; dan Jakabaring
Palembang tidak butuh banyak perbaikan. Kalaupun masih ada, hanya perbaikan
minor, antara lain, lapangan pendukung dan akses jalan. Stadion Gelora Bung Karno
(GBK), Jakarta yang paling siap saat ini. GBK didukung beberapa stadion sebagai
tempat latihan, antara lain, Stadion Madya Senayan, Lapangan PTIK, Jaksel, Stadion
Beacukai, Jaktim dan Stadion Kuningan, Jaksel.

=Sikap FIFA=
Kita semua tetap berharap Indonesia akan menggelar kegiatan ini tepat waktunya. Ada
banyak pertimbangan yang muncul dan juga berbagai spekulasi mempersoalkan
jadi-tidaknya Piala Dunia U-20 digelar tahun depan.

Suasana ketidakpastian kejuaraan ini dilaksanakan, menyusul adanya pandemi covid-19 yang mengobrak-abrik sendi-sendi kehidupan, sosial, ekonomi, dan kesehatan di seluruh dunia. Di sepakbola sendiri, beberapa zona belum menyelesaikan babak kualifikasi untuk
mendapatkan wakilnya ke putaran final. Zona Asia yang sedianya menggelar
kualifikasi bulan Oktober di Uzbekistan, ternyata diundur.

Sedangkan zona Afrika, sesuai jadwal normal, akan melakukan kualifikasi di bulan Februari 2021. Melihat dua kondisi ini, adanya covid-19 yang belum memperlihatkan tanda-tanda
menurun serta belum seluruh zona menyelesaikan babak kualifikasi, maka patut kita
menanti dengan cemas, jadi atau tidak Piala Dunia U-20 digelar tahun depan.

Di sisi lain, PSSI ingin menggelar kegiatan kompetisi Liga 1 dan 2 di bulan Oktober. Rencana ini, sesuai dengan kalender PSSI yang sudah tertnunda beberapa kali akibat
pandemi covid-19. Namun, sebaiknya PSSI perlu berhati-hati, karena ada kepentingan
lebih besar yang harus diutamakan, yaitu Piala Dunia U-20. Jika tetap kompetisi dilaksanakan bulan Oktober, maka dikhawatirkan akan memunculkan klaster baru covid-19 di kota-kota yang menjadi tuan rumah penyelenggara pertandingan yang menggunakan sistem home turnamen.

Indonesia Police Watch (IPW), telah mengingatkan PSSI untuk langkah menggelar kompetisi ini. Untuk itu pula, IPW memberitahukan Kepolisian RI agar hati-hati jika mengeluarkan ijin pertandingan bagi PSSI.

FIFA sebagai otoritas tertinggi yang akan memastikan jadi atau tidak Piala Dunia
dilaksanakan dalam kondisi pandemi covid-19, masih mengambil sikap diam. Padahal, biasanya FIFA sudah terjun ke lapangan untuk, minimal, meninjau stadion-stadion
yang akan digunakan.

Rencana awal, FIFA akan berkunjung ke Indonesia bulan Maret, kemudian diundur
lagi ke Oktober. Akan tetapi, sepertinya di bulan Oktober nanti, FIFA kembali batal
datang. “Sampai saat ini, kami belum mendapat konfirmasi positif dari FIFA untuk
rencana kunjungannya,” kata Amali.

Sepertinya, ada berbagai alasan yang membuat FIFA belum mau mengunjungi
Indonesia untuk menginspeksi stadion serta melihat persiapan lainnya. Selain alasan
covid-19, FIFA bisa saja tidak ingin memberikan harapan besar bagi Indonesia bahwa
Piala Dunia ini akan tetap dilaksanakan.

“Bersukacitalah dalam pengharapan, bersabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa”. Untuk itu, saya mengajak kita semua, tidak saja masyarakat Indonesia, tetapi lebih
khusus insan-insan sepakbola di Tanah Air untuk mari kita berharap bersama. Piala
Dunia U-20 tetap terlaksana sesuai jadwal, Mei-Juni 2021. Bravo sepakbola..(Penulis adalah Wartawan Kompas 1983-2016 Spesialis Sepakbola).

TINGGALKAN KOMENTAR