JAMES Octavianus Momongan adalah satu dari sedikit orang-orang olahraga berkuda Indonesia yang saya kenal. James bersahabat, cerdas, santun, dan rendah hati. Bukan lantaran dia pernah menjamu makan siang di kediamannya di Lembang, Bandung, lantas saya harus memujinya. Jika hanya sebatas kawan, dia lah orangnya, dan diam-diam saya mengaguminya.
Hari ini dia sedang berbahagia. James – lahir di Kawangkoan, 21 Oktober 1954 – adalah pelatih equestrian yang sangat mencintai pekerjaannya. Dan, dia pula, yang hingga detik ini menjaga nama baik keluarga besar Momongan. James lahir dan besar dari keluarga olahraga berkuda yang sudah turun temurun.
Melengkapi kisah perjalanan James, saya berkunjung ke Desa Kamanga di Kecamatan Tompaso, Kabupaten Minahasa, dan bertemu dengan Hengky Momongan, ayah James. “Di desa ini kami memulai menjadi keluarga besar berkuda, dan sudah turun-temurun dari Papa dan Opa saya,” kata Hengky.
Hengky Momongan – kelahiran 26 Juni 1934 — adalah generasi ketiga keluarga Momongan di arena olahraga berkuda setelah Daniel Momongan, ayahnya, dan kakeknya, Nicolas Momongan. Hengky mulai dari merawat dan memandikan kuda sebelum diajak ayahnya ke lomba pacu yang tersebar di Sulawesi Utara, diantaranya, Kotamobagu, Kakas, dan Air Madidi. “Dulu, untuk ke arena lomba kami jalan kaki, sampai malam. Tidak seperti sekarang, semua sudah siap,” kata Hengky.
Hengky adalah legenda dan sangat bangga dengan sembilan anak-anaknya yang memakai nama Momongan. Alih-alih bercerita pengalaman sebagai joki, dia, dengan penuh tawa dan canda, lebih banyak bicara seputar James Octavianus Momongan. James adalah anak tertua Hengky dari sembilan bersaudara. Dan, cerita Hengky tentang James adalah gambaran pendidikan orang tuanya, baik di arena berkuda maupun di kehidupan sehari-hari. “Saya selalu bicara dengan James, kita bisa seperti sekarang ini karena orang tua. Saya melatih James sejak dia berusia tujuh tahun,” kata Hengky.
Hengky begitu membanggakan James. Menurut Hengky, James cerdas dan punya kelebihan. “James bisa mengukur jarak untuk bisa sampai ke garis finish dan memenangkan lomba.
Dia nakal, centil kuping kuda. Dia bakalai di atas punggung kuda,” kata Hengky menggambarkan kelebihan yang dimiliki James. “Pada tahun 1970, saya bawa James berlomba di Pulomas, saya pelatihnya,” kata Hengky.
James adalah generasi ke empat keluarga besar Momongan. Bersama lima adik laki-lakinya; Jhony Momongan, Joyke Momongan, Jolfy Momongan, Jones Momongan, dan Fiva Momongan, James menjaga nama Momongan dengan baik, terutama di arena berkuda. James juga punya tiga adik perempuan. “Kami bisa seperti ini karena orangtua,” kata James.
Keluarga Momongan tidak berakhir pada nama James Momongan. Anak James, Yoel Ireno Momongan dan dua dua keponakannya; Steven Menayang dan Alvaro Menayang, adalah atlet equestrian. “Kami sangat bangga bisa meneruskan dan memelihara dengan baik nama Momongan sebagai keluarga berkuda,” kata James.
James sudah mengenal arena pacu, terutama di Tompaso, Airmadidi, Kotamobagu, sejak berusia tujuh tahun. Menurut James, dia mencapai top joki daerah di arena pacu tradisional ketika berusia sepuluh.
Pada 1970, James mulai ikut lomba di arena pacu Pulomas yang dikelola Jakarta Racing Management (JRM). Waktu itu, Alex Evert Kawilarang adalah Ketua JRM. Pada 1972, James meraih rankingpertama sebagai top joki Indonesia.
James meninggalkan arena pacu pada 1979 dan berlatih equestrian di Pamulang Riding School. Enam tahun kemudian, pada 1985, James meraih gelar juara nasional Adam Malik Memorial dan gelar yang sama di Solo pada 1986. James ikut mewakili Indonesia di Asian
Games Hiroshima 1994.
“Sejak 1982 saya merangkap jadi atlet dan pelatih,” kata James. Sebelum menjadi pelatih di Bandung Equestrian Centre pada 2002, James sebelumnya menjadi pelatih di Trijaya Equestrian Centre di Ciganjur selama 22 tahun. James menjadi pelatih tim equestrian Sulawesi Utara di Pekan Olahraga Nasional 1996/Jakarta dengan raihan empat medali emas, pelatih tim Jawa Barat di PON 2004 dengan raihan lima medali emas, dan pelatih tim Kalimantan Timur di PON 2008 dengan sapu bersih enam medali emas.
Pada 2012, James membawa nama Momongan ke Venezuela ketika mendampingi atlet muda Indonesia, Brayen Brata Coolen tampil di putaran final World Jumping Challenge (WJC) 2012 di Caracas, Ibu Kota Venezuela.
“Saya dan kami keluarga besar Momongan bisa seperti ini karena orangtua,” kata James. (Yon Moeis Adalah Wartawan Olahraga Senior & Pemerhati Olahraga Berkuda).

TINGGALKAN KOMENTAR