Robert Hermawan

Nama cabang olahraga ini pernah populer bersamaan dengan bukutangkis. Hampir di setiap kelurahan kita bisa menyaksikan dari mulai anak-anak hingga orang tua keranjingan permainan tenis meja. Mereka yang ingin bermain rela antri hingga patungan membeli bola tenis meja.

Di tahun 70 hingga 90-an, tenis meja Indonesia sempat merajai Asia Tenggara. Kejayaan itu terengkuh saat PB PTMSI dipimpin Jakasa Agung, Ali Said.

Sebut saja nama Diana Wuisan, Anton Suseno, Toni Meringgih, Lingling Agustin, Rosi Syeh Abubakar, Ismu Harinto, dan Deddy Dacosta.

 

Prestasi tenis meja mulai meredup saat PB PTMSI dipimpin Datok Tahir. Suasana semakin tidak kondusif setelah Datok Tahir yang berambisi memimpin untuk tiga periode mendapat perlawanan. Organisasi tenis meja pun terbelah.

Tak terasa sudah  kurang lebih10 tahun lebih terjadi dualisme organisasi tenis meja. Tak ada yang mau mengalah baik Pengurus Besar Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PB PTMSI) di bawah kepemimpinan Pieter Layardi yang melanjutkan kepemimpinan Lukman Edy maupun Pengurus Pusat Persatuan Tenis Meja (PP PTMSI) di bawah kendali Oegroseno.

Sebelum Lukman Edy jabatan Ketua Umum PB PTMSI pernah dipegang mantan Ketua DPR RI, Marzuki Alie selama 1 tahun 3 bulan.

Miris memang. Olahraga yang begitu populer di masyarakat sudah terkubur. Tak terlihat lagi masyarakat bermain tenis meja. Tak terdengar lagi kompetisi tingkat lokal maupun nasional yang digelar. Yang lebih menyedihkan lagi, tak ada nama atlet tenis meja nasional tercantum dalam Kontingen Indonesia.

Baik pada saat Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games 2018 maupun SEA Games Manila 2019. Bahkan, tenis meja yang merupakan cabang olahraga resmi Olimpiade pun tak dimainkan pada PON Papua XX 2021.

“Saya tidak mau menyalahkan siapa pun. Sebagai mantan atlet dan mantan pengurus PB PTMSI, saya sedih melihat kondisi tenis meja Indonesia dan hanya bisa berharap tenis meja kembali seperti semula,” kata mantan Sekjen PB PTMSI pimpinan Lukman Edy, Robert Hermawan yang ditemui, Rabu, (21/10/2020).  TOR-08

 

TINGGALKAN KOMENTAR