Ada contoh di sepakbola nasional, ketika Joko Driyono sebagai Direktur Utama PT Liga Indonesia Baru (LIB), merangkap sebagai Sekjen PSSI. Secara organisasi, Joko Driyono sebagai dirut LIB, akan memepertanggungjawabkan semua kegiatan kompetisi kepada Joko Driyono, sebagai sekjen .

mBah Coco, masih mencontoh di sepakbola, Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan alias Iwan Bule, yang merangkap sebagai manajer tim nasional Indonesia U-20, yang disiapkan ke FIFA U-20 World Cup 2021. Jika terjadi, Iwan Bule sebagai manajer tim, akan melaporkan dan bertanggungjawab kepada Iwan Bule, sebagai ketum PSSI.

Jika, Agung Firman Sampurna, Ketua Badan Pemerikasaan Keuangan (BPK), benar-benar dipilih oleh voter, dalam Musyawarah Nasional (Munas) BP BPSI, 5 – 6 November 2020 nanti. Hasilnya, jika Agung Firman ingin melaporkan hasil dan audit keuangan PBSI, akan melaporkan ke Agung Firman Sampurna, sebagai ketua BPK.

Lucu bin aneh. Wajib ditentang, daripada Agung Firman Sampurna terlanjur malu nantinya. Alangkah baiknya, Agung Firman Sampurna mundur dari pencalonan ketua PBSI. Daripada jadi bahan ejekan dan mempermalukan dirinya sendiri, juga mempermalukan PBSI dan BPK. Mendingan abaikan saja posisi ketua PBSI, agar wajah bulutangkis Indonesia dipergaulan dunia, tidak malu?

Dari hasil CCTV mBah Coco, terkesan Agung Firman yang tidak pernah berkecipung di bulutangkis, akan dijadikan “tumbal”, buat Alex Tirta, yang sampai hari ini, sebagai Ketua Harian PBSI. Gerakan Alex Tirta selama di bulutangkis, tidak ada yang bisa melawan. Karena, Alex Tirta menggunakan powerfull, menggerakan organisasi PBSI. Terkesan otoriter, nggak ada yang bernai melawan.

Namun, dibalik gerakan Alex Tirta di PBSI, dari analisis mBah Coco, ada yang disembunyikan. Khususnya, masalah keuangan PBSI yang selama ini, menerima bantuan pelatnas dari lembaga negara Menpora. Tahun ini, PBSI mendapat bantuan, sebesar Rp 18.618.087.000, untuk 28 atlet dan 17 ofisial. Belum lagi, setiap bantuan Menpora selama lima tahun terakhir ini?

Bagi PBSI, bantuan yang dikucurkan Agustus 2020 lalu, adalah urutan nomer, setelah PSSI, yang meraup kucuran dana sebesar Rp 50.619.561.500, yang diperuntukan pelatnas tim Indonesia U-20, yang disiapkan ke FIFA U-20 World Cup 2021, yang akan berlangsung di Jakarta, 20 Mei – 11 Juni 2021 mendatang.

Dari hasil CCTV mBah Coco, PBSI selama ini, memilik dana abadi sebesar Rp 60 miliar. Secara aturan mainnya setiap ketua umum sudah paham aturan mainnya. Bahwa, yang wajib dikeluarkan, hanya 75% dari bunganya saja. Itu pun, tidak semua digunakan. Karena, sebagian bunga 75%, kembali digulirkan untuk organisasi PBSI, ke dana abadi.

Dari hasil investigasi mBah Coco, ternyata Alex Tirta, yang sudah menggusur ketuanya Wiranto, sekaligus menggunakan dana abadi itu seenaknya. Dan, ada dana Rp 12 miliar, yang wajib dipertanggungjawabkan oleh Alex Tirta, sebagai Ketua Harian PBSI.

Yang menjadi pertanyaanya, apa hubungan Alex Tirta, dengan pencalonan Agung Firman Santoso, sebagai Ketua BPK, sebagai kandidat Ketua Umum PBSI 2020 – 2024 nanti?

Indikasinya, Agung Firman yang dijorokin Alex Tirta, dijadikan “tameng”, untuk permainan dana keuangan PBSI yang dikelola Alex Tirta, yang juga pemilik Hotel Alexisi yang dibredel Anie Baswedan tahun 2019 lalu.

BPK sebagai intitusi negara, dijadikan mainan Alex Tirta, dengan memasang Agung Firman Sampurna, agar bisa “patgulipat”, urusan audit. Mengingat BPK adalah lembaga “penyambut nyawa”, bagi institusi negara, termasuk lembaga Menpora, Koni dan semua induk cabang olahraga.

Oleh sebab itu, saran mBah Coco, Ketua BPK segera mengundurkan diri, daripada dibius masuk ke PBSI sebagai “boneka”nya Alex Tirta, yang sudah banyak dosanya, di lingkungan bulutangkis nasional.

mBah Coco mencatat, Saat Gita Wiryawan jadi ketua PBSI – 2012, Alex Tirta sudah menjadi “duri” bagi perkembangan organisasi. Satu tahun sebelumnya 2011, Alex Tirta sudah merusak organisasi Pengcab PBSI Jakarta Utara, yang saat itu Ketua PBSI DKI Jakarta dipimpin Icuk Sugiarto. Tahun 2018, Pengprov PBSI Sumatera Utara, juga diganggu-gugat oleh ulah Alex Tirta, saat melakukan Musprovlub.

Dari sini, menurut mBah Coco, sudah sangat jelas, bahwa Alex Tirta, ingin membangun “kartel” di PBSI, dengan menggunakan kekuasaan Ketua BPK, yang diduduki Agung Firman Sampurna. Padahal, sejak kemelut dan kasus yang terjadi di lingkungan Menpora, kasus-kasus keuangan di beberapa cabang, membuat Menpora memutuskan, agar pejabat PB PB jangan lagi dipimpin oleh pejabat negara. Karena akan berbenturan kepentingan.

Sedangkan, menjelang Munas PBSI 5 – 6 November 2020 nanti, sudah ada nama Agung Firman Sampurna, sebagai salah satu kandidat ketua umum PBSI, menggantikan Wiranto, yang sudah dikudeta Alex Tirta. Kebetulan yang menyuruh Agung Firman maju sebagai calon, adalah Alex Tirta.

Menurut analisis mBah Coco, skenarionya sangat mudah dibaca, bahwa selama di PBSI, Alex Tirta, terlalu dominan mengatur semua anggaran PBSI, baik dana abadi mau pun dana bantuan atau pun dana pelatnas bulutangkis. Sehingga butuh “algojo” bernama Agung Firman Sampurna.

Mosok Agung Firman Sampurna nyaman jadi “algojo” dan “boneka”-nya Alex Tirta, yang sudah banyak dosanya, dalam mengurus organisasi PBSI, khususnya di urusan anggaran keuangan?

Jika Agung Firman tetap ngotot maju sebagai kandidat ketum PBSI, sama saja melanggengkan dan mengawal sepak terjang Alex Tirta, yang dinsinyalir sulit mempertanggungjawabkan dana PBSI?

Saran mBah Coco, sebaiknya Agung Firman Sampurna mengundurkan diri, ketimbang nanti masuk “jurang’ bareng Alex Tirta. (bersambung). (mBah Cocome, wartawan olahraga senior, pemerhati bulutangkis).

TINGGALKAN KOMENTAR