Menurut opini mBah Coco, jika Olimpiade Tokyo, yang berlangsung 24 Juli – 9 Agustus 2020 lalu, tak ada pandemik Covid-19. Bisa jadi, Indonesia, maksimal bisa meraup tiga medali emas, sebagai tradisi budaya cabang bulutangkis, sejak Olimpiade Barcelona 1992.
Peluang meraup emas, di Oimpiade Tokyo, dari ganda putra, yang menempatkan dua pasangan Indonesia, Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo (ranking 1) dan Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan (ranking 2), sangat besar peluang, mengulang tradisi ganda putra di Olimpiade, bisa jadi all Indonesia final.
Emas kedua, sangat besar bisa didapat dari Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti, walaupun hanya menjadi ranking ke-4, sejak April 2020 lalu. Ambisi dan spirit yang pernah diraih Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir di Olimpiade Rio de Janeiro 2016, menjadi tonggak budaya tradisi Indonesia, mengibarkan “merah putih”.
Sedangkan, emas ke-3, masih sangat besar menjadi milik dua tunggal putra Indonesia, Antony Sinisuka Ginting (ranking 6), dan Jonatan Christie (ranking 7), mengikuti jejak Alan Budikusuma (Olimpiade 1992) dan Taufik Hidayat (2004).
Bahkan, sosok Shesar Hiren Rhustavito, walaupun diurutan ke-18, jika Olimpiade Tokyo 2020 tiga bulan lalu berlangsung, bukan berarti tak mampu membuat kejutan, sebagai “kuda hitam”.
Nggak ada yang bisa menggugat, menurut mBah Coco, ada peristiwa yang sangat fenomenal, ketika Indonesia memang pantas dijuluki “raja” bulutangkis, ketika cabang bulutangkis sebagai cabang resmi Olimpiade Barcelona 1992. Indonesia, menyapu bersih semua medali tunggal putra. Alan Budikusuma (emas), Ardy BW(perak) dan Hermawan Sutanto (perunggu).
Debut bulutangkis masuk kancah multi event, sudah dimulai saat dijadikan demontrasi di Olimpiade Minich 1972. Rudy Hartono meraih medali emas tunggal putra, Tri Utami, medali perak tunggal putri, dan Ade Chandra/Christian Hadinata medali emas di ganda putra. Sedangkan, di eksebisi di Olimpiade Seoul 1988, hanya Icuk Sugiarto, yang meraih medali perak, setelah kalah atas Yang Yang di final tunggal putra.
Intermezo di atas, hanya sebagai pembuka bagi mBah Coco, sekaligus Pemimpin redaksi (Pemred) Facebook Indonesia, untuk menyambut Musyawarah Nasional (Munas) PB PBSI, yang akan berlangsung 5 – 6 November 2020, untuk mengisi orang nomor satu di bulutangkis, setelah jenderal TNI (Purn) Wiranto.
Suka atau tidak, bulutangkis satu-satunya cabang yang hanya sendirian di kancah multi event sekaliber Olimpiade, yang mampu mengibarkan bendera merah putih, sampai hari ini.
Sejak Tri Sutrisno, mengisi posisi ketua umum PB PBSI, sampai hari ini, nyaris semua adalah sosok-sosok pejabat negara. Kalau nggak tentara, menteri, dan pengusaha yang kebetulan juga mantan tentara. Sebut saja, setelah Tri Sutrisno (1985 – KSAD), Soerjadi (1993 – Wa-KSAD), Subagyo Hadi Siswoyo (1997 – KSAD), Chairul Tanjung (2001 – Pengusaha), Sutiyoso (2004 – Gubernur Jakarta, dan mantan TNI bintang tiga), Djoko Santoso (2008 – Pangab), Gita Wiryawan (2012 – Menteri Perdagangan pemerintah SBY periode kedua), dan Wiranto (2016 – Menkopolhukam, pemerintah Jokowi periode pertama, dan mantan Pangab).
Dari sejarah panjang kepemimpinan PBSI, sejak jaman orde baru, hingga jaman reformasi, menurut mBah Coco, saatnya dikembalikan ke marwahnya. Yaitu, dipimpin oleh manusia-manusia yang bergelut di dunia bulutangkis. Seperti, Sudirman (1967, mantan pemain bulutangkis dan tokoh bulutangkis internasional), dan Ferry Sonneville (1981 – kapten tim juara Thomas Cup 1958, 1961 dan 1964, salah satu pendiri PB PBSI).
Jika, mantan pemain bulutangkis, tidak ada yang punya minat menjadi ketua umum PBSI, seperti Liem Swie King, Hastomo Arbi, atau Richard Maniaky. Minimal, orang-orang yang sudah bergelut dan berdarah-darah di bulutangkis. Di jaman milenial ini, ketua umum PBSI, tidak butuh jenderal dan menteri. Apalagi, nggak pernah teplok raket….
Contoh, Zhang Jun, pemain ganda campuran, peraih dua medali emas Olimpiade 2000 dan 2004, yang kini ditunjuk menjadi Ketua PBSI-nya Cina. Atau, coba dibaca, bahwa Presiden IBF – federasi bulutangkis dunia, juga mantan peraih medali emas Olimpiade 1996, Poul-Erik Hoyer Larsen, asal Denmark.
Cerita pendek, tentang organisasi bulutangkis, dipimpin oleh orang-orang yang memang pernah menjadi pemain, mencintai bulutangkis, paham organisasi, punya jaringan internasional. Dan, tentunya mampu mempertahankan reputasi bulutangkis Indonesia di pergaulan dunia, beserta turunannya.
Menurut mBah Coco, ketua umum PBSI 2020 – 2024 nanti, wajib menjaga kredibiltas perusahaan seperti PB Djarum, yang sudah mendunia, dan disegani, serta punya kredibiltas mendukung prestasi bulutangkis kita. Dengan event-eventnya di lingkup Indonesia, yang tidak pernah surut mencetak event-event, untuk melahirkan pemain kelas dunia.
Oleh sebab itu, mBah Coco sangat berharap, bahwa ketua umum nanti, harus jauh dari unsur-unsur kepentingan para kandidat. Biasanya, kalau pengusaha, punya kepentingan. Contohnya, Alex Tirta, Ketua pengprov DKI jakarta, pemilik Alexis, sedang ancang-ancang jorokin Agung Firman Sampurna, yang saat ini Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
Dari hasil CCTV mBah Coco, sosok Alex Tirta, terkesan sudah punya kepentingan. Apalagi, dirinya nggak berani maju, tapi mengajukan sosok ketua BPK. Dari situ, sudah terlihat, Alex Tirta sedang bermain membangun “kartel” baru di PBSI. Padahal, selama ini, sejak Tri Sutrisno, nggak ada yang punya niat bermain kepentingan, lewat kartel.
Triki-triki Alex Tirta, sudah melakukan kejahatan membunuh karakter, ketika memaksa Wiranto mundur dari Ketua Umum PBSI, yang belum waktunya. Kerikil-kerikil yang dilakukan Alex Tirta, sangat membahayakan kelangsungan PBSI yang selama ini, anteng-anteng, dan selalu happy-happy saja,
Agung Firman Sampurna, adalah pejabat negara, diluar tentara dan menteri. Pekerjaannya sangat super sibuk mememeriksa keuangan para lembaga negara. Sedangkan, rata-rata ketua pengprov PBSI di daerah-daerah adalah para kepala daerah, seperti bupati, walikota dan gubernur. Jika Agung Permana Sampurna, yang ditunjuk jadi ketum PBSI, akan banyak konflik kepentingan.
Bulan September 2020 lalu, dalam diskusi webinar SIWO PWI Pusat bertema “Mencari Figur Tepat Ketua Umum PBSI”, ada tujuh nama yang muncul sebagai kandidat, yaitu Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko (mantan Pangab TNI), Menteri BUMN Erick Thohir, Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Agung Firman Sampurna, Kapolri Jendral Idham Aziz, Ketua Pengprov PBSI Banten Ari Wibowo, Ketua PP PBSI 2012-2016 Gita Wirjawan, hingga Direktur Utama Djarum Foundation Victor Hartono. (bersambung). (mBah Cocomeo, Wartawan Olahraga senior dan pemerhati bulutangkis).

TINGGALKAN KOMENTAR