Bicara balap sepeda di Sumatera Utara (Sumut) kita tak mungkin mengabaikan nama Sutiyono. Namanya bukan saja melegenda di Sumut khususnya kota Medan juga secara nasional. Itu semua tak lepas dari prestasinya bukan hanya di level nasional juga internasional.

Di level nasional Sutiyono merajai tour de ISSI sehingga dijuluki si Raja jalanan. Bahkan di tingkat Asia namanya juga cukup harum. Pada tahun 1971, Sutiyono menjadi jawara Asia dan prestasinya itu dilengkapi dengan koleksi 7 medali emas di ajang SEA Games mulai 1977, 1979 hingga 1981.

Tak berlebihan memang, pria yang suka bicara blak-blakan ini telah membawa nama harum Sumatera tak hanya di even nasional juga internasional. Hingga kini pun belum ada pembalap yang berprestasi sebesar itu lahir dari Sumatera Utara.

Namun nama besarnya itu justru kurang dipandang oleh para petinggi olahraga di Sumut. Berbagai program pembinaan untuk mengembalikan masa jaya balap sepeda di Sumut nyaris tak mendapat perhatian selayaknya oleh para pemangku kepentingan olahraga di sana.

Jeritan hati seorang Sutiyono dalam upayanya membangun balap sepeda di Sumut itu diceritakannya saat jumpa TribunOlahraga.com  usai gowes bersama Ketua Umum PB.ISSI periode 2020-2024 Letjen TNI (Purn) Tatang Sulaiman, Sabtu, (7/11/2020) pagi tadi.

Menurutnya, KONI Sumut seakan tak mau peduli dengan apa yang dilakukannya untuk mengembalikan masa jaya balap sepeda Sumut.”Padahal saya sudah menjaring beberapa atlet muda potensial untuk dibina lebih lanjut. Ini semuanya dalam upaya memunculkan atlet balap sepeda Sumut berprestasi minimal di level nasional,”kata Sutiyono lirih.

Bahkan anak-anak Sutiyono pun yang semula terjun sebagai pembalap kini ”gantung sepeda” karena melihat masa depan balap sepeda di Sumut semakin suram. Semestinya, lanjut Sutiyono, KONI Sumut harus menggiatkan pembinaan balap sepeda terkait menjadi tuan rumah bersama Aceh untuk PON 2024.

Dia sempat menjadi pelatih dengan harapan agar kelak dari tangannya akan lahir pembalap seperti dirinya. Namun sampai kini cita-citanya itu belum kesampaian karena minimnya dana dan sarana prasarana penunjang yang tersedia.

Sebelum jadi pelatih, Sutiyono sempat menjadi Ketua Umum Pengprov ISSI Sumut. Namun posisinya sebagai nakhoda ISSI Sumut juga kurang mendapat sokongan memadai dari pemangku kepentingan olahraga di Sumut.

Padahal seperti dikatakan Sutiyono potensi pengembangan balap sepeda di Sumut cukup besar. Ia pun sempat punya ide menggulirkan Tour de Toba yang pendekatannya lebih pada sport tourisme.

Meski levelnya tak seheboh Tour de Singkarak di Sumbar, Sutiyono yakin Tour de Toba mampu menjadi besar dan bernial ekonomis tinggi dengan menjual destinasi wisata Danau Toba. ”Bahkan saya punya optimisme Tour de Toba bisa sejajar dengan Tour de Singkarak kalau saja penyelenggaraannya didukung pemerintah Provinsi,”paparnya.

Dengan ISSI wajah baru di bawah pimpinan Tatang Sulaiman, Sutiyono masih punya harapan untuk membangun kembali balap sepeda di Sumut. Kini dia tengah mencari figur yang tepat untuk dijadikan sebagai Ketua Umum Pengprov ISSI Sumut. Dan untuk yang satu ini, dirinya lebih condong ke figur birokrat dari Dinas Pariwisata Sumut karena balap sepeda tak lepas dari olahraga wisata. (Suharto Olii)

 

TINGGALKAN KOMENTAR