Kemampuan menguasai sistim dan konvensi yang digunakan serta teknik-teknik permainan secara individual belum menjamin keberhasilan dalam permainan bridge. Sebab permainan bridge adalah permainan pasangan, sehingga seorang pemain betapapun tinggi keterampilan indivudunya akan sia-sia tanpa seorang pasangan yang mampu memahami dirinya baik dalam segi teknis maupun nonteknis.

Kunci keberhasilan dalam permainan bridge lebih cenderung ditentukan oleh kemampuan dan kekuatan partnership daripada kemampuan individual. Membina partnership bagaikan suatu ikatan perkawinan, yang akan langgeng dan lancar jika saling dapat memahami dan menghormati antar individu.

Sangat sulit untuk menentukan kriteria-kriteria yang tepat dalam membina partnership. Berdasarkan pengalaman penulis yang telah menekuni olahraga ini selama kurang lebih 30an tahun, ada beberapa kriteria penting yang harus diperhatikan untuk membina partnership.

1. Membina dan mengembangkan diri sendiri.

Sebelum membina partnership dengan orang lain, terlebih dahulu kita harus mempersiapkan diri sendiri.

Dalam mempersiapkan diri, kita harus memperhatikan 3 hal, yaitu:

a. sabar

Meningkatkan kemampuan dalam permainan bridge memerlukan kesabaran karena menyangkut waktu yang cukup panjang. Untuk menjadi pemain bridge yang baik selain membutuhkan waktu (sering bermain agar mendapatkan pengalaman yang berharga), rajin belajar dari buku-buku teori yang ada serta perbanyak diskusi dengan pemain-pemain bridge yang baik.

b. rileks dan gembira

Dalam permainan, bagaimanapun sulitnya problem yang dihadapi jangan tegang tetapi usahakan tetap rileks dan gembira.

c. berusaha menjadi partner yang baik.

Penulis terkesan dengan wejangan dari Alamarhum Yasin Wijaya, mantan pemain nasional tentang salah satu kunci utama untuk menjadi partner yang baik. Menurut Almarhum, untuk menjadi partner yang baik kita harus secara tulus menerima apapun kekurangan maupun kelebihan partner kita. Jika terjadi kesalahan dalam bidding, defense ataupun play, sekalipun jangan menyalahkan partner secara berlebihan, sebab partner juga tidak ingin berbuat salah. Satu hal yang penting, kita juga tidak sempurna.

2. Hindari diskusi dimeja.

Diskusi dimeja pertandingan merupakan salahsatu faktor yang dapat mempengaruhi moral dan kepercayaan partnership. Sebaiknya setiap permasalahan didiskusikan berdua saja. Hal ini akan mempermudah dalam memberikan maupun menerima kritiki-kritik yang membangun dan menganalisa hasil yang jelek tanpa didengar orang lain. Kalaupun perlu orang ketiga, hendaknya dicari seorang yang ahli yang mampu memberikan masukan tentang masalah yang dihadapi.

3. Diskusi

Sediakan waktu yang cukup untuk mendiskusikan sistim, konvensi, perjanjiaan antar partnership dll. agar tidak terjadi salah pengertian. Biasakan mencatat seluruh bahan-bahan yang telah didiskusikan.

4. Praktek bidding

Perbanyak latihan bidding, latihan bidding dapat dilakukan berdua baik dengan menggambil distribusi dari majalah-majalah atau buku-buku bridge atau membagi sendiri kartu berdua dilanjutkan dengan melakukan bidding.. Untuk memperlancar slam bidding, kartu sebelum dibagi, angka 2 sampai dengan 8 dikeluarkan dulu baru dibagi.

5. Jadilah partner yang menyenangkan

Menjadi juara dalam suatu pertandingan, tentunya adalah suatu hal yang sangat diidam-idamkan oleh setiap pemain. Tetapi, jangan lupa bahwa yang lebih penting lagi adalah menikmati permainan itu sendiri. Hasil terjelek sesudah pertandingan berakhir adalah tanpa kedua hal di atas.

Penulis menyadari bahwa hal-hal di atas memang mudah untuk diutarakan tetapi dalam praktek terasa agak sulit untuk diterapkan. Walaupun sulit, kapan lagi jika kita tidak mulai mencobanya dari sekarang.(Penulis adalah pemain dan pemerhati bridge).

TINGGALKAN KOMENTAR