JAKARTA-(TribunOlahraga.com)

ACARA penutupan IWF Online 2020 Youth World Cup dilangsungkan Rabu(18/11) pukul 04:30 waktu Peru atau, Kamis (19/11) 04:30 WIB menobatkan Lifter  Remaja Indonesia yang tampil di kelas 73 kg sebagai Lifter terbaik.

Ketua Panita Ivan Dibos yang juga Anggota IOC menyatakan senang atas suksesnya penyelenggaraan dan berterimakasih atas antusias dan partisipasi negara-negara peserta sebab menjadikan nilai plus IOC untuk cabang Angkat Besi tetap dipertandingkan di Olimpiade.

Komentar senada disampaikan Sek Jend IWF Mohammed Jalood, beliau menyatakan “IWF Online 2020 Youth World Cup diikuti oleh 62 negara dari lima benua dan lebih dari 400 atlet merupakan modal bagus untuk penilaian IOC tetap memberikan kelayakan mempertandingakan Angkat Besi di Olimpiade, “demikian seperti diutarakan Wasekjen PABSI, Sonny Kasiran dalam siaran persnya.

Pada acara Penutupan tersebut diumumkan Rizki Juniansyah adalah The Best Lifter Putra, bahkan menampilkan tayangan komentar Rizki Juniansyah. Kiki panggilan kecilnya berkomentar “Saya telah bertarung dengan selisih waktu 12 jam, saya mengangkat barbel pukul 4:30  pagi. Keberhasilan ini untuk semua Keluarga Angkat Besi dimanapun kalian berada, “ungkap Rizki.

Menurut Sonny Kasiran, penilaian The Best Lifter di Angkat Besi berdasarkan perhitungan Formula Sinclair, Berat badan dikonversikan terlebih dahulu ke tabel koefisien Sinclair lalu dikalikan dengan total angkatan. Score tertinggi adalah yang Terbaik. Rizki menang tipis dengan Peraih medali emas Kelas 81 Kg asal Bulgaria Nasar Karlos May Hasan.

Prospek Olimpiade 2024

Olimpiade bisa dibilang Puncak tertinggi prestasi olahraga paling bergengsi bagi dunia olahraga “amatir’. PB PABSI kini memiliki beberapa atlet-atlet muda sebagai Lapis Utama, kendati usianya tergolong muda namun sudah menjelma menjadi Lapis elit Nasional.  Mereka adalah Windy Cantika Aisah (18) Kls 49 Kg Putri, Rizki Juniansyah (17) Kelas 73 Kg Putra dan Rahmat Erwin Abdullah (20) Kelas 73 Kg Putra.

Dikatakan Sonny Kasiran, materi atlet elit Angkat Besi Indonesia memang tidak bisa dibandingkan dengan Tiongkok yang memiliki materi atlet elit dunia yang cukup banyak atau Bulutangkis Indonesia yang sejak beberapa dekade yang lalu sudah menjalankan Perlatnas tanpa henti dengan jumlah atlet dan SDM yang mumpuni.

“Dukungan Kemenpora terhadap Pelaksanaan Pelatnas tanpa henti sejak Persiapan Asian Games dan keberanian kebijakan PB PABSI mengkombinasikan materi usia atlet Pelatnas  serta tetap menjalankan Pelatnas Isolasi karena wabah Covid-19 sangat berpengaruh memproses melahirkan atlet-atlet elit muda usia tersebut,”ungkapnya.

Dikatakan, waktu tak bisa mundur, negara-negara kuat Angkat Besi saling pantau hingga detail perkembangan sesama usia atletnya.

“Waktu terus bergulir, bila lengah atau terhenti ditengah jalan proses menuju arena paling bergensi Olimpiade maka impian tampil di Podium terhormat ajang paling bergengsi tersebut bisa buyar. Proses ibarat Lari Marathon, kalau sudah tertinggal jauh sulit dikejar,”tandasnya lagi.

Ia juga mengatakan, masih ada’PR’ atau Pekerjaan Rumah bagi tim angkat besi Indonesia, adalah dengan mempersiapkan atlet-atlet muda tersebut ke ajang Olimpiade 2024, sambil terus menggali potensi-potensi atlet-atlet belia lainnya.

“Ada kemauan ada jalan, demikian kalimat bijak, Ketua Umum PB PABSI Rosan P Roeslani beserta jajaran PABSI tentu akan terus berusaha untuk capaian tersebut, “papar Sonny Kasiran.

Dalam kesempatan terpisah Wakil Ketua PABSI Djoko Pramono mewakili Ketua Umum PB PABSI, Rosan P Roeslani memberikan bonus kepada Lifter Muhammad Faathir peraih dua emas dan 1 perak dan Rizki Juniansyah peraih tiga emas dalam kejuaraan itu.TOR-08

TINGGALKAN KOMENTAR