Ricky, saya tidak boleh menyesali kepergian ini, meski pembicaraan kita seputar sepak bola tidak akan pernah selesai. Selamat jalan kawan. Tidur nyenyak di sana..
RICKY Yakobi menghentikan langkah ketika saya menyapanya dan, memberinya hormat. Ricky adalah salah satu legenda yang wajib hadir ketika kami – PT Gilbol Indonesia, menggelar “Football Is Back” di Lapangan MBAU Pancoran, 11 Juli 2020.
Ricky mengapresiasi acara sepak bola yang kami gelar. “Luar biasa …. Aku tengok kawan-kawan ya, nanti kita bicara-bicara lagi,” kata Ricky. “Terima kasih aku sudah kalian undang ke sini,” kata Ricky lagi, sebelum ia mempercepat langkah.
Ricky Yakobi – sebelumnya dikenal dengan Ricky Yakob – ia lahir di Medan, Sumatera Utara, 12 Maret 1963, adalah satu dari banyak pemain nasional yang saya hormati dan kagumi. Perkenalan kami berawal ketika sepak bola berada di “musim bunga” di era Galatama. Sejak kecil, Ricky sudah jatuh cinta pada sepak bola. Namanya mengorbit setelah bermain di PSMS Medan dan merebut Piala Suratin.
Bertahun-tahun mengenal Ricky, dia tak pernah berubah. Gaya Medan-nya selalu melekat pada suami Harli Ramayani dan ayah dari dua anak; Sabihisma Arsyi dan Tri Eka Sandiri. Meski Ricky meledak-ledak, tapi dia mudah “mencair”, terutama dalam mempertahankan pertemanan.
=RICKY, KADIPOLO, DAN ARSETO=
Ricky tak merasa terganggu ketika saya pernah mengusik kembali hatinya, ketika ia bersama Arseto Solo. Waktu itu, berada dekat dengannya, saya merasakan suasana hatinya.
Ricky Yakobi tak kuasa menahan emosi. Dadanya terasa sesak setiap kali melihat bangunan tua yang tak terawat itu. Matanya menerawang ke berbagai sudut bangunan. Juga ke lapangan bola yang rumputnya tak lagi hijau.
Di sana, selama hampir 11 tahun, Ricky bergabung bersama Arseto Solo. Di mes Kadipolo, bangunan tua yang terletak di Kampung Panularan itu, Ricky bersama teman-temannya – Eddy Harto, Nasrul Koto, Inyong Lolombulan, dan Yunus Muchtar – menikmati hari-hari indah di Kadipolo.
“Kami menikmati malam di Kadipolo setelah Arseto menang di Stadion Sriwedari Solo,” kata Ricky. “Di sana pula kami bersedih ketika Arseto kalah,” kata Ricky lagi. Mes Arseto atau lebih dikenal dengan mes Kadipolo adalah bekas Rumah Sakit Kadipolo. Rumah sakit ini letaknya di jalan Dr Radjiman atau kawasan Panularan. Bangunan ini berada di atas tanah seluas 2,5 hektare dan didirikan pada masa pemerintahan Paku Buwono X. Awalnya, bangunan ini dibangun khusus untuk poliklinik para abdi dalem kraton.
Pada 1976, terjadi pemindahan pasien Rumah Sakit Kadipolo ke Rumah Sakit Mangkubumen dan di sana berdiri Sekolah Pendidikan Keperawatan. Tapi kampus ini hanya bertahan lima tahun dan terjadi pengosongan Rumah Sakit Kadipolo. Sejak 1985, bangunan-bangunan tua itu menjadi milik Arseto sebagai mes pemain.
Arseto berdiri di Jakarta pada 1978. Klub milik Sigit Harjojudanto itu tidak didaftarkan sebagai anggota klub Persija, home base-nya pun dipindah ke Solo pada 1983. Arseto diambil dari potongan nama dua anak Sigit, yaitu Ario dan Seto.
Arseto tumbuh besar dan dicintai. Apalagi setelah anak-anak Kadipolo itu menjuarai Piala Liga 1987 dan Galatama 1992. Cinta masyarakat Solo begitu membekas di hati Ricky. Apalagi ketika Ricky merasa Arseto dan Solo telah membesarkan namanya. Dari gedung Kadipolo pula, pada 1989, Ricky berangkat ke Jepang memperkuat Matsushita sebagai pemain pinjaman. “Kenangan Kadipolo terlalu indah untuk dilupakan,” kata Ricky. “Kami bercengkerama di sana,” kata Ricky lagi.
Arseto tidak hanya melambungkan Ricky, pemain yang mengawali karier sepak bola di Kebun Bunga Medan. Arseto juga dikenal sebagai salah satu pionir berdirinya Liga Sepak Bola Utama atau Galatama pada 8 November 1978. Satu tahun kemudian, 17 Maret 1979, partai perdana Galatama digulirkan. Nama Sigit berdiri bersama para pemilik klub, sebut saja F.H. Hutasoit (Jayakarta), Benny Mulyono (Warna Agung), Benniardi (Tunas Inti), dan A. Wenas (Niac Mitra).
=SEKOLAH SEPAK BOLA RICKY YAKOBI=
Sisi lain saya mengenal lebih dalam Ricky Yakobi ketika saya beberapa kali menemui dia di lapangan sepak bola di Senayan. Di bawah sengatan matahari, waktu seperti berlalu begitu cepat. Ricky terus-menerus memberi instruksi untuk anak-anak bola di sekolah miliknya; Sekolah Sepak Bola Ricky Yakobi. Ia berlari dan berteriak-teriak sampai serak.
Ia tahu tak cukup satu atau dua sore untuk mencetak pemain andalan. Butuh ratusan hingga ribuan sore. Demi impiannya, ia berletih-letih di sana dengan sabar. Ia juga sadar dunia yang digelutinya bukanlah dunia yang mudah untuk menghasilkan uang. Orientasi sekolahnya bukan pada bisnis semata.
“Rasanya puas dan menyenangkan bisa selalu melatih anak-anak bermain,” kata Ricky.
Di tengah godaan nafsu bisnis sekolah sepak bola, semangat Ricky untuk mencetak bibit muda berbakat tak pernah terhenti. Sekolah sepak bola, menurut lelaki yang selalu dididik keras soal kejujuran itu, seharusnya benar-benar untuk mencetak bintang muda, terutama yang kurang mampu. Itulah mimpi yang dia wujudkan di sekolahnya.
“Sepak bola harus dibangun dengan disiplin, kerja keras, dan kejujuran,” katanya. Kesimpulan itu lahir dari pengalamannya berlaga bersama klub Matsushita sepanjang 1988.
Ricky yang saya kenal adalah ketika banyak orang menyebutnya sebagai Paul Breitner Indonesia.
Gaya bicaranya dan aksi lapangannya yang lugas seperti Brietner, pemain Jerman yang mengantongi tujuh piala liga di Jerman dan Spanyol (untuk Bayern Muenchen dan Real Madrid) serta satu Piala Eropa buat Jerman pada 1970-an.
Salah satu aksi yang saya ingat dari Ricky adalah ketika ia ikut mengantar tim nasional ke empat besar Asia di Asian Games 1986 di Korea Selatan. Ricky mencetak gol ketika melawan Uni Emirat Arab. Ia menyarangkan gol voli dengan tendangan langsung sebelum bola umpan sempat menyentuh tanah.
Bola itu ia lesakkan dari sisi kiri gawang Uni Emirat Arab dalam jarak yang amat jauh. “Selain dengan tendangan jarak jauh, saya kerap mencetak gol dari kepala,” katanya.
Pertemuan dengan Ricky di acara “Football Is Back”, sore itu, berlangsung pendek karena dia harus melebur dengan sesama legenda.
Sebelum itu, setiap kami bertemu, tentu saja sepak bola yang kami bicarakan; obrolan sepak bola yang tak pernah selesai dan, pertemuan sore itu, tentu saja, saya tak pernah menduga sebagai pertemuan terakhir kami.
“Ricky, saya tidak boleh menyesali kepergian ini, meski pembicaraan kita seputar sepak bola tidak akan pernah selesai. Selamat jalan kawan. Tidur nyenyak di sana. (YON MOEIS, wartawan olahraga senior, spesialis sepakbola).

TINGGALKAN KOMENTAR