PERSIAPAN Indonesia sebagai tuan rumah penyelenggara Piala Dunia U-20 tahun
2021 terus dikebut oleh pemerintah lewat sejumlah kementerian terkait yang telah
ditentukan dan ditetapkan melalui Keputusan Presiden (Keppres). Sebagai Ketua
Penyelenggara (INAFOC), Menpora Zainudin Amali dalam beberapa bulan ke depan
sampai tahun depan, bekerja keras mempersiapkan semua yang dibutuhkan, di luar
masalah teknis, agar penyelenggaraan nanti berjalan baik dan sukses.

Secara senyap, Amali telah melakukan road show ke beberapa kota, khususnya enam
kota yang menjadi venues, Palembang, Bandung, Surabaya, Bali, Solo dan Jakarta. Yang paling mendesak untuk diselesaikan adalah pembangunan dan renovasi insfrastruktur stadion dan akses jalan yang menghubungkan bandara dengan hotel, serta hotel dengan stadion.

Jika melihat keberhasilan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat
(PUPR) Basoeki Hadimoeljono mempersiapkan infrastruktur menjelang Asian Games
2018 silam, maka harus diakui masalah perbaikan stadion dan akses jalan juga pasti
akan diselesaikan sebelum atau tepat waktunya menjelang Piala Dunia digelar bulan
Juni 2021. Setelah infrasturktur, maka pekerjaan lain yang perlu mendapat perhatian serius Amali adalah mensosialisasikan kejuaraan tersebut.

Sampai saat ini, belum terlihat gegap-gempita Indonesia akan menjadi tuan rumah Piala Dunia tahun depan. Sepinya promosi Piala Dunia ini bukan tidak mungkin terkait berbagai kendala yang membuat pemerintah, atau panitia penyelenggara belum bisa bekerja tuntas dan berlari kencang untuk mempromosikannya. Kendala itu, antara lain, masalah kepastian jadi atau tidak dilaksanakan kejuaraan mengingat pandemi covid-19 yang belum jelas kapan menurun penyebarannya.

Jika dipaksakan melakukan promosi dan atau sosialisasi besar-besaran saat ini, bisa
menjadi bumerang kalau sampai kejuaraan akhirnya tidak jadi dilaksanakan tahun
depan. Sebuah pemborosan, atau kesia-siaan penggunaan uang negara. Sepertinya, pilihan ini yang sedang dibaca, dianalisa dan dipikirkan matang-matang oleh Amali
sebelum melangkah jauh. Hingga saat inipun, kepanitiaan INAFOC belum terbentuk. Kecuali ketua dan wakil ketua, maka struktur kepanitiaan yang lain masih dalam proses.

“Kami masih menunggu dan harus berkoordinasi lebih dulu dengan PSSI juga,” kata Amali sekitar dua bulan lalu. Susunan lengakap kepanitiaan ini akan disampaikan pula ke Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) untuk diketahui. Bahkan bila perlu, FIFA bisa mengembalikan untuk diperbaiki lagi jika tidak sesuai dengan regulasi yang sudah baku tentang syarat-syarat kepanitiaan penyelenggaraan sebuah event internasional di bawah FIFA.

Sebelum lengkap pembentukan kepanitiaan INAFOC, satu hal yang perlu diketahui
oleh Amali dan PSSI, FIFA perlu diberitahu bahwa Ketua INAFOC adalah intitusi dan
oknum pemerintah, bukan PSSI dan ketuanya. Pertanyaannya, apakah PSSI sudah
memberitahukan FIFA bahwa ketua INAFOC adalah wakil pemerintah?

Info yang didapat penulis, sampai saat ini, PSSI belum secara resmi memberitahukan
hal tersebut di atas kepada FIFA. Adanya komunikasi yang buruk dari PSSI ke “dunia
lua” membuat penulis juga sulit untuk meng-update info terkini tentang perkembangan penyelenggaraan Piala Dunia tahun depan. Baik Sekretaris Jenderal (Sekjen) Yunus Nusi maupun media of icer Piala Dunia Eko Rahmawanto menghindar memberikan informasi.

Keduanya senada mengatakan, bahwa semua informasi apapun tentang PSSI hanya lewat ketua, Mochamad Iriawan, atau lebih akrab disapa Ibul. Komunikasi yang buruk dari PSSI serta belum menyebar secara masif informasi Piala Dunia, menyebabkan FIFA belum berani memastikan lanjut atau tidak penyelenggaraan event ini tahun depan. Sampai saat ini, FIFA sedang memonitor dan mengumpulkan bahan-bahan dari sumber yang layak dipercaya, terutama media main stream tentang persiapan Indonesia.

Andaikan PSSI dan panitia INAFOC dapat membangun komunikasi yang baik
dengan semua pihak terkait, terutama media, maka tidak perlu diragukan lagi bahwa
kejuaraan ini dijamin tetap berlangsung tahun depan. Semoga sikap diam FIFA hingga
saat ini, bukanlah isyarat bagi kita bahwa Piala Dunia akan diundur ke tahun 2022
atau 2023.

Perubahan Timnas Katakanlah Piala Dunia tidak jadi digelar tahun depan, meski hal itu sangat tidak kita inginkan, lalu bagaimana dengan persiapan tim nasional U-19 yang kini ditangani pelatih asal Korea Selatan (Korsel), Shin Tae-yong (STY). Ada beberapa masalah yang bakal muncul, dan perlu adanya langkah antisipasi dari PSSI. Para pemain di pelatnas sebagian besar kelahiran tahun 2001. Selain itu, ada pemain kelahiran tahun 2002 dan 2003.

Dari sekitar 11 kali uji coba saat menjalani pelatnas di Kroasia, tim ini sudah mulai
terbentuk terutama dari sisi fisik dan kepercayaan diri. Namun semua ini bisa
berantakan dan kembali lagi dari nol STY membangun timnya, kalau sampai
kejuaraan diundur ke tahun 2022 atau 2023.

Direktur Teknik (Dirtek) Tim Nasional PSSI, Indra Syafrie dalam obrolan singkat
dengan penulis, mengatakan, belum ada pengaturan khusus di regulasi AFC maupun
FIFA tentang keabsahan usia seorang pemain jika kejuaraan diundur atau ditunda. “Akan tetapi, jika merujuk pada pembicaraan kami dengan AFC, maka pemain-pemain yang sudah dipersiapkan untuk tahun 2021 tetap bisa tampil di babak kualifikasi zona Asia bulan Maret tahun depan di Uzbekistan,” kata Indra yang menjadi satu-satunya pengurus PSSI yang duduk sebagai Anggota Komite Teknik AFC.

Tercatat ada 13 anggota, dan Indra menjadi orang pertama dari pengurus PSSI
yang pernah duduk di badan tersebut. Selamat buat Indra…! Sadar atau tidak, PSSI belum mengantisipasi perubahan yang bakal terjadi. Untuk itu, sebaiknya, PSSI sudah bisa memikirkan dan mempersiapkan tim cadangan U-19 mengantisipasi kemungkinan kejuaraan diundur ke tahun 2022, atau 2023.

Kapten tim saat ini yang terdiri dari tiga orang, David Maulana, Riski Ridho dan
Pratama Arhan serta kawan-kawannya bisa kehilangan kesempatan tampil di Piala
Dunia kalau sampai diundur kejuaraan. Dan kesempatan ini, sangat bergantung pada
keputusan terakhir FIFA, atau tahun kelahiran sang pemain. Dari sekitar 30 pemain yang ada di pelatnas, dominan berusia tahun kelahiran 2001.

Selebihnya, pemain kelahiran 2002 dan 2003. “Kami memasukan pemain-pemain
kelahiran tahun 2002 dan 2003 hanya untuk memberikan kesempatan bagi mereka
yang masih punya perjalanan panjang ke depan. Prioritas diberikan bagi pemain usia
kelahiran tahun 2001,” kata Indra. Menurut Indra, tim yang dipersiapkan STY masih tetap berpatokan pada jadwal awal, yaitu tampil di Piala Dunia 2021. Untuk itu, tim ini tetap berjalan dengan format yang sudah ada.

Setelah kembali dari Kroasia bulan lalu, tim akan kembali menjalani pelatnas di bulan
Desember. Rencananya, STY akan memboyong tim ke Korsel. Hanya saja, sampai
saat ini, belum ada kejelasan, karena kehadiran tim di Korsel sangat bergantung dari
kondisi kesehatan, atau pandemi covid-19. Keterlibatan pihak pemerintah sepertinya dibutuhkan untuk memuluskan semua rencana perjalanan ke Korsel.

Menggandeng pemerintah adalah sikap yang terbuka dan perlu dari PSSI, karena bagaimanapun pemerintah adalah mitra yang tidak bisa diabaikan oleh PSSI dalam membangun sepak bola lebih baik ke depan. Contoh terakhir, bagaimana peran pemerintah dalam mendukung kinerja PSSI, adalah ketika timnas berlatih ke Korasia. Ketika itu, tim mengalami kesulitan perjalanan kembali ke Tanah Air, sehingga pemerintah ikut campur tangan untuk mendapatkan tiket pulang.

“Keterbukaan awal dari pemulihan. Semua kekeliruan pasti ada perbaikan, Berbahagialah orang yang tidak menyimpan kesalahannya, tetapi mengakuinya”. Bagaimana Jenderal? Sampai kapan Anda harus memimpin PSSI dengan one man show. Sebelum terlambat, bukalah pintu komunikasi dengan semua pihak terkait.

Kita semua sama-sama mencintai PSSI dan sepakbola. Dan membangun sepakbola tidak
bisa sendirian, tetapi butuh kebersamaan semua pihak terkait. (Penulis adalah Wartawan Kompas 1983-2016 Spesialis Sepakbola).

TINGGALKAN KOMENTAR