JAKARTA-(TribunOlahraga.com)
Menjelang Musyawarah Olahraga Nasional Luar Biasa (Musornaslub) Senin (7/12/2020) KONI Pusat, mengalami masalah pelik. Ini disebabkan aliran listrik untuk pending ruangan (AC) di kantor KONI, di Wisma GBK, Jakarta, diputus oleh pihak pengelola Gelora Bung Karno.

Musornaslub itu yang akan merevisi sejumlah pasal di AD/ART KONI itu akan dilakukan secara virtual. Ketua Umum KONI Pusat, Marciano Norman dan jajarannya akan memimpin langsung acara yang akan diikuti oleh 34 KONI daerah dan 71 pengurus besar olahraga di Indonesia.

“Sudah sejak Rabu kemarin, aliran listrik AC di kantor KONI ini diputus sepihak oleh pengelola. Ini membuat kami tidak maksimal dalam bekerja karena ruangan menjadi panas. Padahal kami tengah mempersiapkan berbagai hal untuk kepentingan Munaslub nanti,” kata Ade Lukman, Sekjen KONI Pusat.

Pengelola GBK, memang hanya memutus aliran listrik untuk AC saja. Sementara untuk aliran listrik non-AC masih bisa digunakan. Hanya saja di tengah cuaca Jakarta yang sangat panas akhir-akhir ini membuat kondisi itu tak nyaman.

Ade juga mengakui jika KONI memang mengalami keterlambatan pembayaran listrik sudah sejak tahun 2019. Besaran tagihan untuk listrik kantor KONI kisaran 30 hingga 40 juta rupiah per bulan.

“Kami bukannya tidak ingin membayar. Namun saat ini kami masih mengalami kesulitan dana karena anggaran pemerintah untuk KONI belum cair. Ini yang membuat kami kesulitan untuk membayar tagihan tersebut,” ungkap Ade.

Namun Ade menyatakan jika KONI tidak akan lari dari tanggung jawab tersebut. “Kami pasti akan bayar semua tagihan itu, begitu kami memiliki dana. Hanya saja untuk saat ini kami masih kesulitan,” tutur Ade.

Berbagai cara sudah ditempuh oleh pengurus KONI guna mencari jalan keluar atas kesulitan itu. “Kami sudah mencoba untuk berbicara dengan pihak pengelola Gedung agar kami bisa diberikan keringanan. Namun kami tak menyangka akhirnya mereka ambil keputusan itu (memutuskan aliran listrik AC),” kata ucap Ade.

Sebagai sebuah lembaga nonprofit yang selama ini menjadi pengelola pembinaan olahraga nasional, Ade berharap pihak pengelola Wisma GBK memberikan pertimbangan atas masalah yang tengah mereka hadapi.

“KONI ini bukan lembaga profit, jadi tolong diberikan keringanan. KONI selama ini berjuang mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional lewat olahraga, ini semua seharusnya jadi pertimbangan,” kata Ade yang pernah menjabat Sekjen Pengurus Besar Taekwondo Indonesia (PB.TI) ini.

Usaha yang ditempuh KONI agar menghindari pemutusan sebenarnya sudah cukup panjang. Mereka sudah mencoba untuk meminta bantuan Kemenpora bahkan Kantor Kepresidenan. Namun belum juga menemukan jalan keluar. TOR-08

TINGGALKAN KOMENTAR