Hari Ini PSSI Berusia 91 Tahun, Menyepak Sejarahnya Sendiri, Oleh:Suharto Olii

Hari Ini PSSI Berusia 91 Tahun, Menyepak Sejarahnya Sendiri, Oleh:Suharto Olii

59
0

i

Dalam buku Profil 100 Atlet Legendaris Indonesia, cabang sepak bola dibilang miskin prestasi dan miskin bintang. Padahal sepak bola adalah cabang olahraga paling populer dan digemari masyarakat Indonesia.

Tak heran dalam buku Profil 100 Atlet Legendaris Indonesia setebal 287 halaman yang direkomondasikan KONI Pusat itu, cerita sepak bola Indonesia hanya membutuhkan dua halaman. Judulnya pun cukup miris ”Sepak Bola Menyepak Sejarahnya Sendiri.

Judul itu memang menggambarkan betapa buruknya prestasi sepak bola Indonesia jika melihat prestasi timnas tak menggembirakan. Kekalahan masih dominan ketimbang kemenangan mengukir sejarah bagus.

Dari sekelumit sejarah perjalanan sepak bola Indonesia baik mulai pra kemerdekaan hingga kemerdekaan, ada beberapa momen yang sedikit membuat kita tersenyum. Pada masa ”prasejarah” alias semasa negeri ini masih dalam cengkraman penjajahan Belanda, sepak bola Indonesia diakui atau tidak telah membuat gebrakan besar yang ditandai berdirinya organisasi PSSI pada 19 April 1930 di Surakarta.

Delapan tahun setelah berdirinya PSSI yang dimotori Ir.Suratin itu, sepak bola kita mencatat sejarah lain kendatipun belum mengusung bendera Merah Putih atau nama Indonesia.Pada tahun 1938, sebuah tim dari negeri yang masih dalam kondisi terjajah ini ikut Piala Dunia di Prancis dengan membawa nama Hindia-Belanda.

Sebagian besar pemainnya adalah pribumi seperti Sudarmadji, dan Issac Pattiwael.Lupakan bahwa mereka hanya tampil satu kali dan menelan kekalahan besar tanpa mencetak satu gol pun. Tapi itulah sejarah yang mau tak mau, pahit atau manis keikutsertaan sejumlah orang Indonesia pada Piala Dunia 1938 itu merupakan bagian dari sejarah sepak bola kita khususnya untuk fase sebelum kemerdekaan.

Lalu bagaimana pada masa kemerdekaan, syukurlah sepak bola Indonesia membuat sejarah yang lumayan penting pada arena tingkat dunia untuk dikenang . Sebut saja penampilan timnas kita di Olimpiade tahun 1956 di Melbourne, Australia. Pada pesta olahraga terbesar di dunia itu, Maulwi Saelan dan kawan-kawan sempat mengejutkan tim Uni Soviet yang kala itu diperkuat kiper legendarisnya Lev Yassin dengan bermain imbang 0-0 meski dalam laga ulangan kita dibantai 0-4.

Namun bukan kekalahan telak itulah yang menjadi sorotan tapi itulah penampilan pertama dan terakhir kesebelasan Indonesia di ajang multi even olahraga tingkat dunia bernama Olimpiade.

Setelah itu prestasi timnas Indonesia agak sulit untuk bersaing jika tolok ukurnya dunia. Memang kita ”nyaris” meraih tiket ke Olimpiade lagi pada tahun 1976 Ronny Paslah, Anjas Asmara, Risdianto dan lain-lain bertemu Korea Utara di Stadion Utama Senayan Jakarta dalam babak final untuk zona Asia.

Sayangnya, keuntungan sebagai tuan rumah bermain di kandang sendiri dengan dukungan sekitar 120 ribu penonton hingga meluber ke pinggir lapangan dan masuk buku rekor Guinness tak mampu dimaksimalkan timnas Indonesia yang kala itu dilatih pelatih asal Belanda, Wiel  Coerver.

Pasukan Wiel Coerver kalah satu gol dalam drama adu pinalti setelah dalam permainan  90 menit berkesudahan 0-0. Dalam drama adu pinalti itu, satu-satunya eksekutor yang gagal adalah Anjas Asmara sehingga membuat timnas Indonesia gagal pula berlaga di Olimpiade Montereal Kanada itu.

Pada level di bawahnya, Asian Games sepak bola kita tak lebih dari hanya pelengkap penderita. Bahkan noda hitam mencoreng wajah sepak bola Indonesia tatkala menjadi tuan rumah Asian Games IV 1962. Prestasi tim kita babak belur karena diawali kasus suap atas sejumlah pemain kunci.

Prestasi timnas sepak bola kita di Asian Games baru bisa sedikit dibanggakan ketika masuk semifinal pada Asian Games 1986, Seoul, Korsel. Di semifinal langkah timnas Indonesia yang waktu itu diasuh pelatih lokal Bertje Matulapelwa ini menyerah 0-3 dari tuan rumah dan kembali kalah telak 1-4 dari tim Kuwait dalam perebutan medali perunggu.

Di tengah kesulitan menembus kekuatan Asia itu, di era kejayaan Soetjipto Soentoro, Jacob Sihasale, Herry Tjong, Yudo Hadianto, Ronny Pattinasarani dan Iswadi Idris, tim kita memang pernah menjadi juara pada turnamen Merdeka Games di Kuala Lumpur Malaysia, Piala Raja di Bangkok, Thailand, dan Anniversary HUT kota Jakarta.

Sulit bersaing di tingkat Asia, tentu wajar kita menurunkan keberadaan sepak bola Indonesia di kawasan Asean. Jika ukurannya SEA Games, timnas sepak bola kita hanya mampu dua kali meraih emas yakni tahun 1987 di Jakarta dan 1991 di Manila, Filipina. Selebiihnya antara perak dan perunggu bahkan lolos dari penyisihan grup pun seakan barang mahal.

Sejak awal, timnas Indonesia U-23 ini ditargetkan  masuk semifinal baik oleh PSSI maupun pemerintah dalam hal ini Kemenpora. Kalau kembali ke hasil undian, untuk lolos ke babak berikutnya barangkali masih bisa dilalui. Namun untuk melangkah lebih jauh apalagi menembus semifinal masih penuh tanda tanya besar. Maklum, sejumlah negara Asia baik yang ikut Piala Duna Rusia maupun yang pernah tampil di ajang sepakbola bergengsi di dunia itu seperti Korsel, Iran, Irak, Korut, Jepang dan Saudi Arabia ambil bagian di Asian Games 2018 ini. (Penulis adalah pemerhati olahraga dan wartawan)

TINGGALKAN KOMENTAR