“Berikan yang terbaik untuk negara ini.” Itu pesan singkat, sederhana, namun penuh makna yg disampaikan Ketua Umum PSSI Mochamad Iriawan atau Iwan Bule sesaat sebelum keberangkatan timnas Merah Putih ke Buriram, Thailand pada 3 Oktober lalu.

Pesan ini membakar semangat Evan Dimas dan kawan2 saat berlaga melawan Taiwan di Stadion Chang Arena, Buriram. Tidak ada kemenangan yg mudah. Taiwan bukan tim sembarangan. Mereka punya prestasi masa lalu yg terhormat dgn menjadi juara Asian Games 1954, 1958. S

ekarangpun mereka berada di peringkat 151 dunia (Indonesia 175). Artinya kemenangan ini merupakan awal yg baik utk membuka optimisme menghadapi pertandingan2 berikutnya. Ini adalah pijakan yg bagus utk menapaki kembali jalan persaingan di level internasional terutama di Asia.

Apalagi setelah kemenangan 2-1 atas Taiwan, menurut Footy Rangkings, Indonesia mendapat tambahan 14,62 poin (menjadi 971,67 poin) dan naik ke peringkat 169. Bagi pelatih timnas Shin Tae-yong kemenangan ini bisa lebih membesarkan rasa percaya diri utk mengeluarkan seluruh kapasitas terbaiknya sebagai pelatih kelas Piala Dunia.

Bagi Indonesia, apapun prestasi timnas Merah Putih memiliki multi makna simbolik. Sebab sejarah sepakbola Indonesia lahir ditengah situasi kebangsaan yg diwarnai menyalanya spirit nasionalisme. Sepakbola memang mempunyai nilai filosofis yg tidak persis sama di berbagai belahan dunia.

Di Amerika Tengah dan Latin sepakbola lebih dimaknai sebagai perwujudan identitas kebangsaan. Tidak heran, pertandingan antar negara disana bisa memicu sentimen antar negara. Sejarah mencatat, hasil akhir pertandingan sepakbola yg dibumbui dgn aneka macam sentimen politik masa lalu, bisa menyebabkan terjadinya perang terbuka antara El Zalvador vs Honduras.

Dua negara tetangga yg sejak lama memiliki masalah politik krusial termasuk soal imigran dan garis batas antarnegara. Ketika itu pada 27 Juni 1969, El Zalvador lolos ke Piala Dunia Meksiko 1970 setelah menyingkirkan Honduras. Beberapa hari setelahnya, angkatan udara dan darat Honduras menggempur perbatasan El Zalvador.

Perang lima hari ini dilaporkan menewaskan sekitar 4000 orang dan puluhan ribu lainnya terluka. Perang ini dikenal sebagai “Football War” (La Guerra del Futbol) atau Perang Sepakbola. Tapi sepakbola juga bisa mendatangkan perdamaian. Sesaat setelah membawa Pantai Gading lolos ke Piala Dunia Jerman 2006, kapten Didier Drogba berbicara di televisi nasional Pantai Gading, Radiodiffusion Television Ivoirienne (RTI).

Atas permintaan presiden Pantai Gading tempo itu, Laurent Gbagbo, Drogba (waktu itu bintang Chelsea) meminta dihentikannya perang saudara di negaranya yg sudah menelan ribuan korban jiwa sejak 2002. Permintaan Drogba dihormati semua faksi politik maupun pemberontak bersenjata, sehingga membuka jalan perundingan damai.

Sebagai organisasi olahraga terbesar di Indonesia, PSSI secara filosofis dan historis memegang warisan spirit kebangsaan kita. Maka wajar jika apapun hasil yg diraih timnas Merah Putih selalu menjadi pusat perhatian ratusan juta rakyat Indonesia. (Agus Liwulanga, wartawan senior & pengamat sepakbola)

TINGGALKAN KOMENTAR